Kejutan

image

Rama berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Peluh di keningnya membanjir, seiring dengan batinnya yang memanas. Ada perang di dalam jiwanya. Mempertanyakan kesucian istrinya yang diculik Rahwana dalam waktu yang cukup lama. Sebagai seorang calon raja, memiliki istri yang telah dijamah musuh sangat mengganggu harga dirinya. Ini pertentangan batin yang sangat rumit. Cinta atau logika.

Tiga tahun.

Sebagian dari dirinya menolak untuk percaya bahwa istrinya setia. Dan seluruh dari dirinya tidak yakin bahwa Rahwana, raja Alengka, belum mendaratkan sentuhan ke kulit Shinta. Terlebih lagi sikap Shinta yang dengan tegas menolak kembali pulang saat Hanoman datang ke Alengka untuk menyelamatkannya.

“Aku tidak mengharapkan engkau, Hanoman, yang datang menyelamatkanku. Tetapi Rama sendiri.”

Hati Rama sakit mendengar pesan Shinta yang disampaikan melalui Hanoman itu. Ada sejumput sesal di hatinya. Seharusnya, sebagai calon raja Ayodya, ia memperjuangkan cintanya dengan gagah berani. Bukan justru mengalihkan tanggung jawab itu kepada anak buahnya.

Tetapi ada penyangkalan yang lebih besar. Bahwa kejadian penculikan Shinta oleh Rahwana bukan karena salahnya. Siang itu, Shinta begitu manja, merengek-rengek menginginkan seekor kijang berbulu emas yang lewat di depan rumah mereka. Meskipun sejatinya, Rama mengetahui bahwa kijang emas itu adalah jelmaan anak buah Rahwana. Tetapi demi menyenangkan hati istri yang dicintainya, Rama pergi dan meninggalkan Shinta berdua dengan adik Rama, Laksmana.

Seperti yang sudah diduga, Rama diserang oleh sang kijang jelmaan. Rama dipukul hingga pingsan. Laksmana segera pergi menyelamatkan kakaknya setelah membuat lingkaran di sekitar rumah mereka. Lingkaran yang tidak bisa diterobos oleh apapun.

Dan lagi-lagi, hati Shinta mudah sekali goyah. Setelah menginginkan kijang emas, kali ini hatinya tergetar oleh seorang brahmana yang kelaparan di seberang lingkaran yang dibuat Laksmana. Dan Rahwana yang menyamar sebagai brahmana itu berhasil menarik tangan Shinta, dan membawanya ke Alengka dalam waktu yang cukup lama.

Rama sama sekali tidak mengerti. Begitu poloskah istrinya sehingga tidak bisa membedakan mana yang bisa dipercaya dan mana yang harus diabaikan. Polos. Mungkin kata yang lebih baik daripada bodoh. Kepala Rama pusing memikirkan bahwa kepolosan istrinya bisa saja menjerumuskan hati wanita itu sekali lagi. Jatuh dalam tipu daya cinta Rahwana selama mereka bersama. Dan hati Rama perih membayangkan mereka bercinta.

Hatinya gelisah. Ia meremas-remas jemarinya yang basah. Berkali-kali Rama berusaha menggenggam sebuah keputusan. Tetapi selalu luput dan terselip begitu saja. Menghempaskannya lagi pada kursi kebimbangan.

Dari luar, Rama memandang Shinta yang tengah duduk di ranjang kamar mereka. Wajahnya begitu sedih dan merana. Hati Rama bergetar. Dulu, ia harus mengerahkan tenaga, membentangkan busur pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa demi memenangkan hati Shinta. Mengingat perjuangan itu, seharusnya ia bisa lebih menyenangkan hati istrinya. Shinta pasti merasa sendirian dan ditinggalkan selama tiga tahun disekap Rahwana. Batin Shinta telah disiksa rindu yang membara, sama seperti dirinya.

Dan tiga hari yang lalu, Rama menghancurkan Rahwana dan seluruh kerajaan Alengka.  Tiga hari yang lalu, ia berhasil membawa istrinya pulang. Tetapi semua itu sia-sia jika ia terlalu sibuk mempertanyakan kesetiaan Shinta. Semua tidak berarti jika istrinya itu tidak bisa melihat seberapa besar cintanya. Dan apalah arti sebuah negara Ayodya kelak jika meluluhkan hati istrinya saja tidak mampu dilakukannya.

Sampailah calon raja Ayodya ini pada sebuah keputusan. Rama mengabaikan tawaran Dewa Brahma dan Dewa Agni, membakar Shinta di dalam api suci untuk membuktikan kesetiaan istrinya. Ia membuang keraguan dan kecurigaan hati pada Shinta. Karena dalam lubuk hatinya, Rama masih ingin percaya. Dan akhirnya, cintalah yang menang.

Rama menghampiri istrinya dengan tergesa-gesa. Dengan sekali rengkuhan, ditenggelamkannya Shinta ke dalam pelukan, “Maafkan aku karena terlalu lama menjemput dirimu. Maafkan aku yang sempat ragu pada cintamu. Dan terima kasih karena engkau mau kembali datang padaku.”

Shinta menyambut dengan bahagia. Dan mereka mulai bercinta. Kerinduan yang telah tertunda sekian lama, tumpah ruah dan membabi buta. Nafas dan detak jantung yang pernah terpisahkan itu kini kembali menyatu dalam kecupan dan dekapan yang saling beradu dan memburu.

Tetapi tiba-tiba tubuh Rama menegang dan merosot ke kaki ranjang. Mulutnya menganga. Isi di dalam perutnya bergolak. Tubuhnya lumpuh dan tak berdaya.

Sialan.

Rahwana telah memasang pengaman besi di selangkangan istrinya.

***

 

Kalabahi – Alor – NTT

December 2nd 2012


[perpanjangan dari #111kata berjudul Kejutan di Cubiculum Notatum]

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: