Ketakutan Didi

Namanya Didi. Umurnya tiga belas tahun. Anak seorang juragan kayu. Sekarang sudah kelas dua SMP. Didi sangat pintar bernyanyi dan rajin mengaji.

Didi adalah anak yang pandai. Rangkingnya tidak pernah lebih buruk dari peringkat tiga. Bapak dan ibunya sayang sekali padanya. Semester lalu, Didi juara kelas. Dan Didi dihadiahi sebuah sepeda baru yang mengundang decak iri teman-temannya.

Meskipun Didi lahir di sebuah keluarga yang kaya dan diberkahi otak yang pintar, Didi bukanlah anak yang sombong dan tinggi hati. Didi selalu ramah dan membantu semua yang membutuhkan pertolongan. Suatu hari, teman sekelasnya menangis karena LKSnya tertinggal di rumah yang terletak cukup jauh dari sekolah. Dengan segera, Didi menawarkan diri untuk mengantar temannya itu dengan mengendarai sepeda barunya meskipun Didi harus membolos di jam pelajaran Biologi dan akhirnya dihukum membersihkan toilet yang selalu bau pesing.

Tidak dipungkiri, Didi sangat disayangi teman-temannya. Kecuali Toto. Dan rekan satu gengnya. Sejak dulu, Toto tidak pernah suka pada Didi. Entah karena benci, atau iri. Yang jelas, semua orang tahu bahwa Toto tidak pernah mau disaingi.

Meskipun Didi punya banyak teman, ada satu hal yang membuat Didi tidak percaya diri. Hal ini kadang-kadang membuatnya tidak bisa tidur karena ngeri. Hal ini juga yang membuatnya takut mendekati Rere, teman perempuannya yang manis dan bermata bening. Ketakutan yang disimpannya hingga saat ini.

***

Suatu pagi yang cerah, Didi sedang duduk kelelahan. Hari ini, Didi dan teman-teman sekelasnya harus berlari memutari lapangan bola sebanyak dua puluh kali dalam pelajaran olah raga. Jantung Didi berpacu sangat cepat. Bukan hanya karena adrenalin yang tersisa, tetapi juga karena Rere duduk di sebelahnya.

Didi salah tingkah. Panik bukan main. Kepalanya menoleh. Dan pandangannya bertabrakan dengan mata yang bening. Rere tersenyum dengan sangat manis. Dan Didi menunduk dalam rasa malu yang tak terperi.

Sesungguhnya Didi ingin duduk berdua lebih lama. Tetapi hasrat untuk buang air kecil tak lagi tertahankan. Didi bangkit dan pergi ke toilet sambil mengendap-endap. Dan akhirnya Didi berhasil membuang urin dengan khidmat.

Tiba-tiba pintu toilet anak laki-laki berderit. Riuh suara teman-temannya terdengar. Dengan tergesa-gesa, Didi menyelesaikan kencingnya dan panik.

Tetapi terlambat. Toto dan teman-temannya sudah memergoki Didi yang berdiri gemetaran memegangi celana kolornya. Mata Toto mengarah pada selangkangan Didi. Dan hal ini membuat Didi semakin merasa terintimidasi.

“Eh… Ada Didi. Kenapa gemetar begitu, Di?” ledek Toto.

Didi beringsut ke pojok toilet. Rasanya ingin segera kabur. Bahkan dalam mimpi, Didi tidak pernah membayangkan akan dipermalukan seperti ini.

“Pegangin Didi!” perintah Toto pada anak buahnya.

Didi menunduk untuk menghindari anak buah Toto yang siap menerkam. Lalu berusaha berlari ke luar. Tetapi sial. Kaki Didi terantuk ubin toilet yang mencuat. Jari kakinya terluka. Didi membaui anyirnya darah.

Kini tangan dan kakinya tak bisa bergerak. Terperangkap dalam sakitnya cengkeraman anak buah Toto. Bibir Didi gemetar ketika memandang Toto yang beringas. Tangan kanan Toto menggenggam sebuah ponsel berkamera. Melihat ponsel itu, Didi tidak bisa tenang. Tubuhnya berontak dan meronta. Didi berusaha lari. Tapi sia-sia.

“Kenapa, Di? Takut ya semua orang tahu kamu belum disunat? Atau malu karena seorang Didi takut untuk disunat?” seringai Toto semakin menakutkan. Mengiringi kata-katanya yang menusuk ke hati Didi begitu dalam.

Iya. Didi takut disunat. Melihat meja mantri saja, tubuhnya sudah bergetar hebat. Malu dan takut. Dua hal yang membuat preputium Didi masih belum lepas dari tempatnya.

“Hanya kamu anak laki-laki yang belum disunat di sekolah ini. Apa perlu aku yang potong biar kamu nggak perlu takut datang ke mantri, Di?” ujar Toto.

Lalu Toto dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Suara mereka terdengar sangat jelek dan memekakkan telinga. Amarah Didi mulai membara. Dan ketika tangan Toto menyentuh ujung kolor yang Didi kenakan, tiba-tiba ada energi yang menyusup ke dalam dirinya.

Didi berontak dan meronta semakin kuat. Empat orang yang memegangi tangan dan kakinya terpental ke belakang. Mereka mengaduh. Didi melayangkan pandangan membunuh.

Melihat semua temannya tumbang, Toto terperangah dan heran. Mungkin, anak seusia Toto tidak pernah tahu bahwa selain kekuatan fisik, kadang-kadang rasa takut dan marah bisa memberikan energi yang besar pada seseorang yang merasa dirinya terancam.

Kini kedua kaki Toto gemetar saat memandang Didi yang beringas berjalan mendekatinya. Kemudian Didi membungkuk, dan memungut pecahan ubin yang tadi melukai jari kakinya. Toto semakin gusar. Selama berhadapan dengan Didi, tidak pernah ia merasa terpojok seperti ini.

Lalu Didi menerjang Toto dengan membabi-buta. Kedua anak lelaki itu bergulat. Tubuh mereka berguling-guling di atas ubin toilet yang kotor dan basah. Tidak ada murid atau guru yang dapat mendengar teriakan mereka karena toilet terletak jauh di pojok belakang gedung sekolah.

Didi berhasil mencengkeram celana biru Toto. Lalu menariknya ke bawah. Sejenak Didi menahan nafas melihat penis Toto yang telah terpotong rapi. Baru kali ini ia merasakan iri pada seseorang. Bukan pada bentuk burung yang sempurna, tetapi iri pada keberanian Toto dalam menghadapi pisau pemotong penis yang selama ini menghantui mimpi-mimpinya.

Tapi amarah Didi kembali menyeruak. Dadanya sesak karena telah dipermalukan. Dan otaknya memutar kembali perilaku-perilaku jahat Toto padanya. Pandangan Didi beralih ke mata Toto yang sangat ketakutan, “Baiklah. Jika memang kamu sangat menyukai burungmu disunat, mengapa tidak kita potong lagi saja?”

Lalu terdengar lolongan teriakan panjang yang sangat memilukan.

Didi melepaskan pecahan ubin yang berdarah-darah. Dan melenggang pergi, meninggalkan Toto yang setengah mati menahan sakit dan ngeri memandangi penisnya yang dipotong sekali lagi.

***

Kalabahi – Alor – NTT

End of November, 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: