Dibuang Sayang

Angin sore merayu pucuk-pucuk daun pohon kelapa. Raka menyulut sebatang rokok, mengisapnya perlahan, lalu menghembuskan asap putih ke udara.

“Buanglah mantan pada tempatnya,” katanya.

“Mantan itu dibuang sayang,” jawabku sambil tersenyum. Tak perlu kutolehkan wajah untuk mengetahui bahwa Raka memandangiku.

“Kamu itu sialan,” dia mengepulkan asap rokok padaku.

“Emang tempat mantan dimana?” kutolehkan wajah, membalas pandangan Raka. Jari telunjukku bermain-main di bibir Raka yang bergetar.

“Jika merasa sayang untuk membuangnya, maka mantan tidak pernah ada di masa lalu,” katanya sambil membuang muka.

Aku tertawa, “Daur ulang mantan. Menarik…”

Kemesraan kami buyar. Mata Raka mengunusku. Darahku bergemuruh. Jemariku menggenggam erat ponsel yang bergetar.

“Pacarmu? Angkat saja. Katakan padanya, tempatku bukan jadi mantanmu.”

***

Moru – Alor – NTT

November 21st 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: