Cermin

Sejak dulu, Ibu melarangku bercermin. Bahkan wajahkupun haram bagi orang lain. Kami hidup terasing di dalam hutan. Tanpa saudara atau tetangga.

Pernah ada penebang kayu yang meminta segelas air. Hatiku bungah, berhambur menuju orang asing itu. Tiba-tiba ibu menarik rambutku. Mengurungku di kamar. Wajahnya mengerikan. Lalu keluar sumpah serapah, “Anak tidak tahu diuntung. Ini demi kamu!”

Aku muak. Aku bosan. Aku kabur tengah malam.

Tidak tahu seberapa jauh kakiku melangkah. Matahari sudah merekah.

Kubersandar pada batu di tepi kali yang jernih. Kusesap airnya demi menghapus dahaga. Lalu mataku terpaku pada permukaan air. Seketika jantungku berdegup cepat. Ada yang meremas otakku.

Cantik sekali.

Aku ingin mencium bayangan itu. Aku mencintai bayanganku sendiri.

***

Moru – Alor – NTT

November 13th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: