Pemberhentian Selanjutnya

Hari Minggu kemarin, aku patah hati. Tali percintaan yang telah terikat selama lima tahun, harus terlepas tepat 36 jam yang lalu. Alasannya klasik. Tidak ada kecocokan lagi. Kepalaku berdenyut. Selama ini aku merasa baik-baik saja. Tidak melihat adanya ketidakcocokan. Lalu mengapa dia bisa mendeteksinya dan aku tidak? Apakah hatiku yang kurang sensitif dan spesifik dalam menghadapi hal yang demikian? Atau itu hanya alasan yang diada-adakan?

Pagi tadi, aku bangun kelewat siang karena menangis semalaman. Mataku bengkak dan rasanya sangat susah disembunyikan dengan concealer. Ah biarkan saja. Aku yakin tidak ada yang repot-repot menanyakan penyebab sembab di mataku.

Tapi kesialan tidak berhenti di sini. Kopi hitam yang kusesap pagi ini, tumpah begitu saja, menyisakan noda menjijikkan di kemeja putih yang kukenakan. Dengan tergesa-gesa aku menengok isi lemari untuk berganti pakaian. Tapi nihil. Hari Minggu kemarin, aktivitas rumahanku terabaikan sama sekali. Digantikan tangis dan sesal yang tak berhenti.

Kuputuskan untuk mengenakan blus merah tanpa lengan dan blazer hitam yang belum dicuci. Merah. Terlalu terang untuk suasana hati yang kelabu. Tapi aku tidak sempat memikirkan warna sepatu mana yang cocok untuk kugunakan karena sepatu kerja hitam yang biasa kugunakan sudah hancur digigit Miko, anjing tetangga sebelah. Pikiranku terpaku pada detik jam. Sepuluh menit batas waktuku untuk sampai di lorong busway.

Kali ini aku beruntung. Mendapatkan busway di detik terakhir menjelang traffic jam Jakarta yang menggila. Aku duduk nyaman di salah satu bangku empuk dengan kulit beludru warna biru. Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa banyak mata yang memandangku. Aku mencari-cari apa yang salah dari penampilanku. Dan jantungku melorot saat menyadari rol rambut masih terpasang di rambut.

Sesampainya di kantor, Pak Baskoro memanggilku  ke ruangannya. Wajah manajerku itu tampak marah. Kumisnya bergerak-gerak, tangannya menunjuk-nunjuk setumpuk dokumen yang tidak asing bagiku. Oh. Itu lembar-lembar perencanaan yang seharusnya kuselesaikan minggu lalu. Tapi terabaikan karena aku ingin cepat pulang dan bermalam minggu. Dan tidak ada yang tahu, bahwa malam mingguku berakhir dengan pilu.

Langkahku gontai menuju kubikel yang penuh sesak dengan tumpukan kertas. Data harus segera dimasukkan. Dan kesialanku bertambah dengan virus yang menggerogoti seluruh data komputer di mejaku. Sial. Sial. Sial. Dengan begini, lengkap sudah. Tentu aku tidak bisa pulang tepat waktu. Atau aku nekat menyelesaikan semua asal-asalan dan berdoa agar surat peringatan tidak tergeletak di atas meja ini besok pagi.

Malam cukup larut. busway ini bahkan sudah sepi. Dalam perjalanan pulang, aku hanya bersandar pasrah, kepalaku tergolek lemah, bertumpu pada tiang busway yang ada di sebelah kananku, meletakkan sebagian lelah di pundak dan punggung, serta jiwa yang remuk. Apa yang terjadi hari ini? Mengapa semesta seakan berkonspirasi membuatku semakin depresi? Jika satu hari tanpa kekasih sudah membuatku menjadi menyedihkan seperti ini, bagaimana aku bisa bertahan hingga nanti?

“Pemberhentian selanjutnya. Halte Pondok Indah Satu. Perhatikan barang bawaan anda dan hati-hati dalam melangkah. Terima kasih.”

Aku tersenyum. Akan sangat lucu jika semesta memberikan pengumuman serupa untuk segala tetek bengek perjodohan. Mungkin manusia tidak akan galau gundah gulana ketika patah hati, karena mereka tahu pasti dimana pemberhentian hati selanjutnya. Seperti aku sekarang. Aku memandang pantulan wajahku di kaca pintu busway. Berminyak, kuyu, lelah, dan merana.

Aku melangkahkan kaki ke luar pintu busway yang terbuka. Kepalaku mendongak, lurus ke depan. Kemudian mataku bertabrakan dengan pandangan seorang lelaki asing, bermaksud menaiki busway yang akan kutinggalkan. Lelaki itu tersenyum. Manis.

Langkahku terhenti. Kusisir rambutku yang berantakan dengan jari tangan. Aku meraih tisu yang ada di saku tas kerja yang kupegang. Lalu berbalik. Apa salahnya jika berputar-putar sejenak dan menikmati busway lebih lama.

***

Kalabahi – Alor – NTT

November 24th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: