Perjalanan Awal Tahun (Bagian Ketiga)

Mungkin kalian mengira, perjalanan ke Lewoleba tersebut dalam rangka mengunjungi teman atau saudara. Sama sekali salah. Bahkan kami tidak tahu apa yang hendak dilakukan di Lewoleba. Nekat? Iya. Aludinpun heran dengan jiwa petualang kami yang serampangan.

Saya bertanya tentang Lembata pada salah satu rekan residen yang pernah bertugas di RSUD Lewoleba. Dia hanya menjawab, “Ya kota kecil, Noy… Ndak ada apa-apanya. Mungkin hanya pantai Waijarang.” Lalu dia mengirimkan foto pantai Waijarang. Dan menurut saya, keindahannya belum sebanding dengan Kepa (tsaaah…). Tapi tetap saja, rasa penasaran itu ada. Apalagi di forum dokter PTT, Lembata merupakan salah satu kabupaten favorit.

Sekitar jam delapan malam, kami melanjutkan perjalanan setelah ban motor ditambal dan biang keladi kebocoran sudah ditemukan. Ketiga pengemudi mempercepat laju motor mereka. Saya tidak bisa lagi mendeskripsikan bagaimana rasanya ngebut di jalanan yang penuh ranjau. Ditambah kondisi perut yang belum sepenuhnya membaik meski telah muntah tiga kali. Serta kepala yang pening di segala arah. Sebelumnya saya mengira, ini salah satu bagian dari Pre Menstrual Syndrome. Tetapi rasa-rasanya tidak pernah gejala PMS yang saya alami sebelumnya tidak pernah seburuk ini.

Aludin menanyakan perihal mabuk darat yang saya alami, “Kakak ada sakit? Tidak biasa dengan jalan seperti ini?”

Sebenarnya jika dibilang tidak biasa, saya pernah pusling ke Helangdohi yang sama parahnya. Menanjaki gunung berbatu yang jika serong sedikit saja, maka ambulans sudah terjun ke dasar jurang. Tiba-tiba saya teringat pada segelas kopi yang saya sesap tepat sebelum berangkat ke Wairiang. Sial. Setelah diombang-ambing di dalam kapal selama hampir tiga jam, saya nekat meminum kopi dan kembali menghadapi perjalanan yang tidak menyenangkan ini. Iya. Bodoh sekali untuk orang yang sering menginformasikan pada pasien untuk mengurangi kopi dan makanan asam serta pedas pada penderita dyspepsia syndrome.

Di tengah deru motor yang memecah keheningan hutan, Aludin berkata, “Tidak sangka kita masuk Lewoleba malam sekali, Kakak.”

Kepala saya melihar sekitar. Gelap. Hanya ada pepohonan yang rimbun. Seperti hutan. Inikah Lewoleba?

Saya tidak segera menanggapi pernyataan Aludin tadi. Isi kepala saya masih berdebat tentang apakah Lewoleba yang merupakan ibukota di Lembata memang sedemikian ‘terpencil’.

Dan pertanyaan saya terjawab saat melihat RSUD Lewoleba di sebelah kiri saya. Oke. Benar ini Lewoleba. Dan untuk tempat yang disebut kota, Lewoleba ini… mengenaskan. Jalan di depan RSUD sama parahnya dengan jalan yang kami lewati sebelumnya. Sepi. Jauh dari peradaban. Kecuali kantor dinas bupati yang ada di sebelahnya.

Sebelumnya, saya pernah bertanya pada rekan residen tadi perihal penginapan di Lewoleba. Dia menyarankan Hotel Palm saja. Sekitar tiga ratus ribu per malam. Bah. Mahal. Lalu saya bertanya pada dokter spesialis interna yang suaminya bekerja di Lembata. Beliau merekomendasikan hotel yang sama. Dan ketika melihat kondisi Lewoleba, sepertinya kami sepakat untuk menginap di hotel tersebut. Ketakutan kami hanya satu. Jika salah pilih penginapan, maka racauan kami akan semakin panjang.

Saya meminta Aludin untuk membawa rombongan ke rumah makan. Mana saja. Kami sudah lelah dan kelaparan. Maka sampailah kami di sebuah rumah makan sederhana dengan menu rumahan.

Mungkin saya belum pernah bercerita tentang porsi makan masyarakat NTT. Di Alor, porsi nasi untuk satu orang itu sama dengan dua porsi nasi orang di Jawa. Banyak sekali. Tetapi di Lewoleba, nasi yang mereka suguhkan justru dua kali lebih banyak dari porsi nasi orang Alor. Bisa dibayangkan? Maka jadilah perut saya menjadi lebih mulas melihat porsi nasi yang menggunung. Sepertinya pada malam itu, saya hanya bisa menghabiskan sekitar delapan hingga sepuluh suapan saja. Ditambah teh hangat. Sudah.

Seusai makan, saya bertanya pada nona penjaga warung, “Hotel Palm itu ada di mana, Nona?”

“Aduh, hotel itu jauh sekali, Kakak. Pasar masih terus. Hotel itu memang bagus. Tapi letaknya di hutan.”

(hening)

“Ehm… kira-kira berapa menit kalo dari sini?” tanya saya lagi.

“Yaaa… lima menit,” jawab nona tadi.

Lima menit. Sepertinya tidak terlalu jauh. Tapi lagi-lagi kami lupa bahwa masyarakat NTT sangat lemah dalam menghitung jarak dan waktu.

Setelah meninggalkan warung makan tadi, Aludin memimpin rombongan motor menuju Hotel Palm. Awalnya saya tidak berfirasat saat kami melewati daerah yang bisa dibilang ‘kota’. Struktur jalan dan bangunan lebih baik dari sebelumnya. Namun setelah Aludin membelokkan motor ke kiri, pandangan saya hanya bisa menangkap gelap. Kondisi jalan kembali memrihatinkan. Lalu hanya ada pepohonan di sekitar. Dan hutan (lagi).

“Aludin, ini jalan yang benar ko?” tanya saya. Tentu ini jalan yang benar. Jika tidak, mungkin kami langsung masuk neraka.

“Benar, Kakak… Pasar masih jauh lagi.”

LHAAAR!

Sekali lagi. Masyarakat NTT sangat lemah dalam menghitung jarak dan waktu.

Rizki sempat menanyakan hal yang sama. Dengan ragu yang sama besarnya, saya menjawab bahwa memang inilah jalan menuju Hotel Palm.

Sekitar lima belas menit perjalanan, akhirnya pasar sudah ditemukan. Ada persimpangan. Aludin bertanya kepada orang-orang yang ada di sana. Hotel Palm sudah dekat.

Dan akhirnya, sekitar jam 21.30 WITA, kami mendarat di Hotel Palm. Ternyata semalamnya Rp 250.000,00/kamar. Bisa memilih single bed king size atau double bed. AC, televisi, dan sarapan. Saya rasa hotel ini cukup bagus (saya memberi 3½ bintang saja karena lokasinya yang cukup menyiksa).

Sesampainya di kamar, saya, Maretha dan Anin bergantian membersihkan diri. Bergosip sebentar, lalu kami terlelap hingga pagi.

Aludin? Dia menginap di RSUD Lewoleba, sekaligus menjenguk pamannya yang dirawat di ICU karena digigit buaya.

(bersambung)

***

Moru – Alor – NTT

November 22nd 2012

    • Ipong
    • June 3rd, 2015

    Terima kasih telah menyusuri wilayah Kedang, ya daerah asal saya. Lewat jalur pantai memang lebih dekat ke Wairiang. Kita pernah berpapasan saat antri melihat atraksi alat berat menggusur batu, cuman setelah itu Kalian langsung tancap bak tim buser mengejar maling, hehe. Bagi kami, menjadi orang udik nerarti menjadi orang alam, harus kuat menantang dan mengatasi alam. Mungkin faktor alam ini pula turut membentuk karakter orang Timur yang keras tampangnya, tapi hatinya tentu lembut dong. Yang itam kulitnya, tapi hatinya putih dong, hehe. Dengan wilayah kerontang seperti itu, lalu panas mentari terus memanggang, ya gosonglah kulit orang-orangnya. Ada teman dari Indonesia Barat pernah iseng menanyakan kok kulitku itam. Aku menjawabnya: “Ya, di tempatku lebih dekat ke matahari daripada di tempatmu, jadi kulitku gosong begini, karena terpanggang oleh panas mentari”. By the way, kapan-kapan kembalilah ke tempat-tempat yang pernah Kalian tapaki untuk bisa mengamati dan menilai lagi sejauh mana perkembangannya. Percayalah, debu-debu tanah dan batu-batu jalanan disana telah menangkap sekaligus merekam jejakmu dan suatu waktu akan menarikmu kembali ke sana lagi.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: