Perjalanan Awal Tahun (Bagian Kedua)

Jumat, 16 November 2012.

Kami bangun pagi-pagi sekali. Memasuki kamar mandi secara bergantian, lalu sarapan. Dari rumah dinas Baranusa yang berjarak sekitar dua kilometer dari pelabuhan, kami menggunakan jasa ojek. Dua ribu rupiah. Sesampainya di pelabuhan, kami melihat Bintang Diana sudah siap berlayar lagi. Saya dan rekan-rekan sepakat untuk menempati dek atas karena tidak terlalu panas dan goyangan kapal saat ada gelombang tidak terlalu terasa (ini tips juga untuk yang sering mabuk laut. Jangan lupa minum Antimo bila perlu).

Sesampainya di dek atas, ada seorang lelaki usia paruh baya sedang bermain kartu dengan dua anak kecil. Rupanya lelaki itu adalah salah satu warga Kabir yang juga ikut ke Wairiang, “Wah, ibu dok ju ikut ke Wairiang ooo… Su tidak pernah terlihat di Kabir, Ibu?” Saya berusaha dengan cukup keras mengingat wajah bapak ini. Tapi karena malu mengakui bahwa saya lupa, saya tersenyum dan menjelaskan bahwa sekarang saya sudah bertugas di Moru.

Bapak tadi menjelaskan pada penumpang dewasa lain yang sedang duduk santai, “Ibu dok ini jadi saksi kejadian nona yang lompat dari kapal saat berlayar dari Kalabahi ke Kabir.” Nah. Baru saya ingat. Bapak ini duduk tepat di sebelah saya kala itu. Dia sempat akan menceburkan diri ke laut demi menolong si nona nekat sebelum akhirnya seorang lelaki yang duduk di deretan kursi lebih depan lebih dulu menangkap si nona.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, keberangkatan ke Wairiang molor. Keluarga juragan kapal belum seluruhnya sampai di pelabuhan. Lalu pandangan kami tertuju pada seekor sapi besar berwarna coklat yang mukanya ditutupi berlembar-lembar kertas kardus. Sapi itu ditarik oleh sekitar tiga pria berbadan besar dan digiring ke dalam kapal. Kami berpandangan. Saling melemparkan wajah penasaran, bagaimana kira-kira posisi sapi itu saat di kapal.

Saya dan rekan-rekan mengambil tempat. Dan kembali kami menikmati perjalanan sambil bermain kartu. Sesekali kami diributkan oleh perdebatan apakah kartu straight boleh dilawan dengan flush atau full house atau hanya bisa dilawan dengan straight dengan kartu lebih besar. Atau justru harus dilawan dengan kartu gay. Maretha membuka forum Kaskus dan menemukan jawabannya di sana. Dan ternyata, kartu gay itu tidak ada (ya kali…).

Jam sembilan pagi, Bintang Diana berlayar kembali.

Next destination. Wairiang.

Setelah bosan bermain kartu dan menghabiskan kue bolu pemberian penumpang lainnya, kami merebahkan diri. Saya sempat tertidur. Entah mengapa paha kanan terasa nyeri sekali. Sejak sampai di Baranusa, otot paha ini terasa berdenyut. Semacam twitching. Mungkin karena posisi bersila yang cukup lama di perjalanan Kalabahi – Baranusa sehari yang lalu.

Tiba-tiba kapal bergoyang cukup hebat. Gelombang. Sesekali kepala saya terasa pusing. Sial. Saya lupa minum Antimo (tepatnya, saya tidak bisa mengingat dimana menyimpan obat itu).

Tidak lama kemudian kami melihat sekumpulan lumba-lumba yang melompat-lompat di lautan. Saya terlalu takjub dan histeris kegirangan sehingga lupa memfoto mereka. Lumba-lumbanya cukup banyak, mungkin sekitar dua puluhan. Mereka mengiringi Bintang Diana selama sekitar sepuluh menit, kemudian menghilang.

Nah. Daratan sudah terlihat. Mata saya menangkap sebuah dermaga yang tidak terlalu besar. Tiba-tiba pikiran saya dipenuhi tanda tanya, nanti menuju rumah keluarga juragan kapal dengan apa? Tapi pertanyaan itu segera terjawab saat Bintang Diana tidak merapat ke dermaga, tetapi merapat di sebuah rumah panggung di sebelah pantai. Oke. Jadi… Kapal sebesar ini mendarat tepat di sebelah rumah panggung yang sudah sesak oleh perempuan-perempuan yang sibuk memasak dan anak-anak yang riuh ramai bermain. Lalu… Bagaimana dengan sapinya?

Saat kami turun ke dek bawah, kami mendapati sapi masih berbaring di lantai kapal. Wajahnya masih tertutup koran. Setelah meniti sebuah tangga yang menghubungkan antara kapal dan rumah panggung, pukul 11.20 WITA, akhirnya kami menjejakkan kaki di Pulau Lembata. Dan kami menyadari suatu hal yang cukup menyesakkan. Tidak ada sinyal.

Udara cukup panas. Dan semakin membakar mengingat di rumah panggung itu banyak perempuan yang sedang sibuk memasak. Mereka bersila dan mengaduk adonan kue bolu dengan hiasan cokelat cair. Beberapa di antaranya juga mengayun-ayun kain yang digantung pada sebuah pegas, dan di dalam kain itu terdapat anak berusia bayi hingga balita.

Mama Bintang, istri pemilik Bintang Diana mengajak kami untuk makan siang. Menunya adalah sayur nangka yang dicampur kacang hijau (ini sayur khas Makassar), dan ikan laut goreng. Rupanya kami lapar sekali sehingga melahap makanan sederhana ini. Lalu tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara gaduh dari arah kapal. Ada benda yang jatuh ke air laut. Sapi. Sapinya diceburkan ke laut! Oke. Mungkin terdengar absurd. Dan mulut saya ternganga selama beberapa saat. Tapi tentu akan lebih absurd jika sapi itu harus ikut naik ke rumah panggung dan melewati perempuan-perempuan yang sibuk memasak.

Setelah kenyang, kami diantar ke sebuah rumah penginapan milik saudara Mama Bintang. Setelah meletakkan barang-barang, kami segera mencari colokan untuk mengisi batarai gadget masing-masing. Dan sayangnya, listrik di Wairiang menyala dua belas jam sehari. Sama dengan Baranusa. Akhirnya kami memutuskan untuk segera sholat. Kemudian, kembali kami dikejutkan oleh kenyataan bahwa tidak ada air. Well, this is just the beginning for the next moarning. I’ve warned you.

Menyadari bahwa kehidupan kami tidak terjamin dengan baik dengan kondisi Wairiang saat ini, kami bertekad untuk segera ke Lewoleba untuk mencari penghidupan. Tetapi bis angkutan terakhir sudah lewat jam dua belas siang tadi. Mama Bintang menyarankan kami untuk berangkat Sabtu pagi. Namun saat itu, sepertinya tidak ada hal menarik di Wairiang. Lewoleba lebih menantang. Dan sabtu sore kami harus kembali ke Wairiang karena acara di hari Minggu dimulai sejak pagi hari.

Mama Bintang meminjami kami dua motor. Dan satu motor bonus pengendara sebagai penunjuk jalan. Awalnya kami terlalu jumawa (saya, tepatnya). Saya berpikir, mungkin lebih enak jika saya menyetir sendiri. Mengingat jarak Wairiang – Lewoleba sekitar 100 KM. Sekitar dua jam perjalanan. Sepertinya saya mampu. Lagipula, jalanan di sekitar sini pasti hampir sama dengan di Alor. Tinggal ikuti jalan, beres.

Tetapi keluarga Mama Bintang menyarankan kami untuk tetap mengajak Aludin, sang penunjuk jalan. Saya tidak bisa mengelak. Oke. 14. 30 WITA. Berangkat.

Dan dari sinilah penderitaan dimulai.

Jika semula saya dengan sombongnya menantang jalanan Lembata, maka saya dengan rendah hati meralat pernyataan itu. Jalan dari Wairiang ke Lewoleba sangat jelek.

Sekali lagi.

Sangat jelek.

Bahkan lebih jelek dari jalan di Pulau Pantar. Selama melakukan puskesmas keliling, tidak pernah saya mendapati jalan separah ini! (Oke. Di sini kelebayan dimulai. Sebenarnya jalan menuju Kafelulang dan Helangdohi juga sangat buruk. Saya hanya belum bisa menerima nasib liburan menjadi seperti ini).

Di belakang Aludin yang memegang kendali motor, tubuh saya terlempar-lempar. Pantat ini seperti dihantamkan berkali-kali. Belum lagi sejam perjalanan, tapi pegal-pegal mulai terasa. Ditambah udara yang sangat panas dan debu yang menyiksa pernafasan. Dan sejak lima menit pertama perjalanan itu, saya bersyukur tidak menyetir sendiri.

Selama perjalanan, Aludin bercerita tentang dirinya. Dia adalah orang Alor, anak asuh Mama Bintang. Sejak kedua orang tuanya meninggal saat dia kecil, Mama Bintang mengambilnya sebagai anak angkat. Kemudian dia diterbangkan ke Batam, bersekolah dari SD hingga SMA. Lulus SMA tiga tahun yang lalu, dia kembali ke Wairiang dan bekerja membantu keluarga Mama Bintang.

Kami beristirahat di Lewolein setelah hampir tiga jam perjalanan. Tapi kami baru separuh jalan. Ternyata kondisi jalan yang begitu jelek membuat 100 KM terasa seperti 300 KM. Penat sekali. Saya bahkan tidak mampu mengingat dengan jelas daerah-daerah yang dilalui. Yang jelas, ada pembangunan jalan di sepanjang Omesuri (Ome artinya perempuan. Suri artinya laki-laki. Entah mengapa daerah itu dinamai perempuan dan laki-laki. Tidak ada banci.) dan juga Balauring.

Ah ya. Lewolein. Salah satu daerah di pulau Lembata. Menghadap ke pantai yang indah. Di sana ada tempat beristirahat bagi pengendara. Saya mengira, di balik tudung kain penutup piring yang berderet itu ada gorengan yang menggoda selera. Tetapi rupanya ada kaleso dan ikan goreng di sana (untuk Todhi, saya minta maaf karena lupa memotret kaleso ini). Maka saya dan Maretha cukup meneguk air mineral. Para pengemudi (Dedy, Rizki dan Aludin) menyesap kopi mereka. Dan Anin, entah Anin sedang apa *digetok*.

Langit menjingga. Semesta menjemput senja. Kami melanjutkan perjalanan ke Lewoleba. Kali ini, Aludin lebih banyak diam. Mungkin dia sudah capek atau mengantuk. Sayapun demikian. Sesekali saya bernyanyi ringan. Dan terima kasih Justin Bieber. As Long As You Love Me darimu sangat mudah diingat bahkan di saat terlelah seperti ini.

Sekeliling kami berubah menjadi hutan belantara. Sesekali suara burung yang aneh menyeruak dari balik pepohonan. Tiba-tiba Rizki membunyikan klakson motornya. Aludin menangkapnya sebagai tanda untuk berhenti. “Ban motor Dedy bocor,” kata Rizki.

LHAAAR!

RT @Rizki__MD: Ban bocor in the middle of nowhere…

Saya turun dari bangku belakang motor, lalu Aludin melesat berbalik arah, meninggalkan saya bersama Rizki dan Maretha. Beberapa menit terasa seperti beberapa bulan. Perasaan saya sudah disergap rasa was-was dan cemas. Tidak ada rumah penduduk di sini. Lalu bagaimana bisa mencari tukang tambal ban? Ponsel tidak mendapat sinyal. Dan jarang sekali kendaraan yang lewat. Di saat seperti inilah yang bisa disebut galau maksimal. Lelah, lapar dan terasing. Kepala saya makin pening. Perut saya seperti tergiling.

Aludin muncul bersama Anin di bangku belakang. Sedangkan Dedy mengendarai motornya sendirian. Di belakangnya ada dua orang asing dalam satu motor. Orang asing itu berbicara pada Aludin dengan bahasa daerah. Rupanya mereka memberitahu kami tempat tambal ban terdekat. Alhamdulillah Yaa Allah…

Tapi sekali lagi. Dekatnya orang NTT jauh berbeda dengan dekatnya orang di Jawa. Dekat di sini setidaknya kurang dari lima kilometer. Rupanya ada desa yang cukup ‘dekat’ dan memiliki fasilitas tambal ban.

18.00 WITA. Langit sudah gelap. Bulan hanya menampilkan cahaya temaram dari kemunculannya di malam ke tiga.

Tidak ada lampu. Kami hanya mengandalkan flashlight dari ponsel saya. Ban dalam motor diperiksa. Ternyata sobekannya luar biasa panjang sehingga tidak mungkin ditambal. Perut saya mulas lagi. Lamat-lamat saya berdoa, semoga masih ada yang menjual ban di sekitar sini.

Dedy dan salah satu orang asing tadi pergi mencari ban dalam yang dicari. Sedangkan sisanya, duduk beristirahat di tempat tambal ban. Saya sendiri sedang sibuk menenangkan tubuh yang mulai bereaksi negatif. Perut terasa diputar balik. Kepala seperti diremas dari segala arah. Kedua tangan mulai kebas. Sepertinya saya akan muntah.

Pikiran-pikiran buruk mulai menyelimuti saya. Bagaimana jika tidak ada yang menjual ban dalam? Itu berarti kami harus menginap di rumah salah satu penduduk yang nama desanyapun tidak saya ketahui.

Dan penantian ban dalam itu adalah empat puluh lima menit terlama dan terpanjang untuk kami. Setiap motor yang melintas seakan melambungkan harap, lalu menghempaskannya lagi. Sampai pada akhirnya Dedy datang dengan membawa ban dalam. Dada saya terasa lega. Tapi tidak dengan perut saya. Baiklah. Muntahkan saja.

Setelah mengganti ban dalam, kami melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan untuk mempercepat laju kendaraan agar sampai di Lewoleba tidak terlalu malam. Desa sebelumnya sudah terlewati. Desa selanjutnya belum terlihat.

Tetapi rupanya, semesta ingin tertawa bersama kami. Belum tiga puluh menit kami melanjutkan perjalanan, ban motor Dedy bocor lagi. Tuhan… Kesan liburan yang Engkau rencanakan bagi kami begitu luar biasa. Saya sempat curiga, ini merupakan permainan Capitol yang mengendalikan hutan Lembata entah dari mana. Mungkin jika saya melambaikan tiga jari tengah tangan kanan pada kamera, para sponsor akan mengirimkan parasut berisi bantuan helikopter. Atau baling-baling bambu.

Beruntung desa selanjutnya tidak sejauh tadi. Dan paku sepanjang separuh dari jarum pentul ditemukan. Kami bisa bernafas sedikit lebih lega.

Tapi ada yang salah. Sepertinya tubuh saya sudah mencapai titik jenuh. Perut terasa seperti diaduk. Maka di samping kebun entah milik siapa, saya memuntahkan isi perut yang sudah asam untuk kedua dan ketiga kalinya.

Sambil memakan cokelat dari Rizki untuk mengisi perut yang sudah kosong, saya berdoa agar musibah ini adalah yang terakhir. Saya ingin secepatnya sampai di Lewoleba. Makan, mandi dan tidur. Itu saja.

(bersambung)

***

Moru – Alor – NTT

November 21st 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: