Perjalanan Awal Tahun

Ijinkan saya membuat sebuah cerita yang cukup panjang, tentang perjalanan di hari libur panjang awal tahun baru Hijriyah yang lalu. Dari Kalabahi (Alor) – Baranusa (Pantar) – Wairiang – Lewoleba (Lembata).

Setelah hampir delapan bulan bertugas di Alor, belum sekalipun saya menjejakkan kaki di Baranusa, salah satu desa di Kecamatan Pantar Barat (meskipun saya pernah bertugas di Kabir – Pantar selama dua bulan). Maka di libur panjang satu Muharram lalu, saya dan Maretha berencana menghabiskan liburan di sana. Rupanya, atas ajakan seorang juragan kapal Bintang Diana, dua dokter PTT Baranusa telah merencanakan perjalanan lain. Lembata. Baiklah, we’re in.

Perjalanan dimulai pada hari Kamis pagi, 15 November 2012. Saya dan Maretha sampai di pelabuhan Reklamasi tepat jam tujuh pagi. Jangkar kapal Bintang Diana sudah siap diangkat. Dengan langkah yang dipercepat, kami segera menaiki perahu motor itu. Ini adalah kali pertama kami menggunakan jasa transportasi Bintang Diana. Perahu motor Bintang Diana lebih besar daripada perahu motor Putra Jaya yang pernah mengangkut saya dari Kalabahi menuju Kabir beberapa bulan lalu.

Di dalam Bintang Diana, saya cukup kebingungan menemukan tempat duduk karena penumpang memang sudah berdesakan. Atas saran dari salah satu penumpang, maka kami menaiki tangga dan menuju dek atas. Dan rupanya, semua penumpang di dek atas adalah pemilik hormon testosteron. Saya dan Maretha duduk bersila di tengah. Bisa dibayangkan beberapa jam dalam posisi terduduk bersila tanpa sandaran punggung. Cukup menyiksa.

Saat Bintang Diana sudah mulai mengarungi lautan, pandangan kami tertuju pada seseorang yang kami kenal, berdiri terbengong-bengong di dermaga. Yak. Salah satu rekan kami, Anin, ketinggalan kapal. Padahal menurut informasi, kapal menuju Baranusa di hari itu hanya ada Bintang Diana. Kami melihat Anin menaiki kapal lain yang menuju Maliang. Itu berarti Anin harus berhenti dulu di Maliang, baru menuju Baranusa.

Kendala terbesar saat kami berada di atas Bintang Diana adalah perokok. Manusia-manusia Alor dan sekitarnya adalah perokok berat. Sangat menyebalkan. Bahkan seorang kakek yang duduk di sebelahku tidak berhenti mengepulkan asap nikotin itu. aktivitasnya hanya sebatas merokok, tidur, bangun, berkedip, merokok, tidur, bangun, berkedip dan begitu seterusnya. Untuk mengalihkan penciuman yang dijejali polusi, saya menutupi hidung dengan jilbab. Lalu menutup telinga dengan headphone, dan menyalakan music player di ponsel.

Di perjalanan, saya mengenang saat-saat masih wira-wiri dengan perahu motor saat bertugas di Kabir dulu. Pinggiran daerah Alor Kecil, tempat terjadinya tragedi seorang nona melompat dari atas kapal dan nekat berenang tanpa alat bantu apapun demi melarikan diri dari ibunya. Pada akhirnya nona tersebut berhasil ditenangkan dan diikat di tiang kapal.

Lalu Tanjung Munaseli yang terkenal. Pagi itu, perairan di sekitar Tanjung Munaseli menunjukkan aksi gelombangnya dalam mengombang-ambingkan kapal. Seperti biasa. Dari atas kapal, saya bisa melihat warna biru yang bergradasi indah serta ombak yang cukup tinggi berkejaran menuju bibir pantai.

Dermaga Kabir. Tetap hening dan sepi seperti dulu. Belum ada satupun kapal yang ada di sana. Jika dilihat dari jam, seharusnya saat itu kapal-kapal dari Kabir masih berlayar menuju Kalabahi. Tiba-tiba saya merindukan cumi-cumi yang melimpah dan murah meriah di sana.

Jam 11.00 WITA, Bintang Diana mendarat di pelabuhan Baranusa. Welcome me, Pantar Barat.

Segera saya mengirimkan pesan kepada Dedy untuk menjemput kami. Saya dan Maretha tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di depan tulisan pelabuhan Baranusa. Kemudian terlihat oleh kami, dua lelaki di atas motor menghampiri. Dedy dan Rizki, dua dokter PTT Baranusa. Maretha pergi membeli es batu bersama Rizki. Sedangkan saya dan Dedy berhenti sejenak di pasar untuk membeli mangga. Pasar Baranusa tidak terlalu besar jika dibandingkan Kabir. Lokasinya berada di jalanan, tepat di depan pelabuhan Baranusa. Saya dan Dedy memutuskan untuk membeli enam buah mangga udang. Lalu meluncur menuju rumah dinas dokter Baranusa.

Baranusa jauh dari yang saya perkirakan. Selain bentuk fisik jalan yang hampir mirip Kabir (khas Pantar, aspalnya terlepas di mana-mana), Baranusa lebih ramai dan lebih ‘hidup’. Rumah penduduk lebih rapat. Dan di siang hari, masih ada tanda-tanda kehidupan. Saat saya masih di Kabir, jam siang biasanya sepi. Sebagian besar penduduk beristirahat di rumah masing-masing.

Mayoritas penduduk Baranusa beragama Islam, sehingga jarang sekali ditemukan anjing dan babi berkeliaran di sini. Sangat berbeda di daerah Alor kebanyakan, dimana anjing dan babi berkeliaran layaknya ayam dan kucing di Jawa. Di Baranusa, terdapat beberapa jalan yang diplester semen, sehingga lebih mudah dilalui daripada jalan aspal yang sudah tidak berbentuk lagi.

Setibanya di rumah dinas Baranusa, kami duduk di samping pintu yang terbuka, ngobrol sambil menikmati angin yang sejuk dan es kacang hijau yang menyegarkan. Di Baranusa, air harus ditimba dari sumur dan fasilitas listrik hanya ada selama 12 jam, yaitu dari jam setengah enam malam hingga jam setengah enam pagi. Tetapi sinyal EDGE di sini kuat sekali. Bahkan saya bisa mengunduh lagu dengan cepat (ups… Jiwa pembajak).

Jam makan siang. Kami disuguhi nasi putih yang mengepul, sayur bayam, ayam goreng tepung, opor ayam, sambal dan krupuk cumi. Ah tidak lupa seteko besar sirup dingin.

Sekitar jam satu siang, Anin tiba di Baranusa. Lalu Anin dan Maretha beristirahat di dalam kamar. Sedangkan saya, Rizki, Dedy dan Gunawan (seorang perawat Baranusa) sibuk bermain kartu poker. Awalnya keberuntungan saya cukup tinggi tetapi Dewi Fortuna tidak beta berlama-lama di samping saya. Dan saya harus berdiri beberapa kali sebagai hukuman.

Maghrib tiba. Dedy dan Rizki mengajak kami berkunjung ke juragan kapal Bintang Diana, menanyakan besok akan berangkat ke Wairiang jam berapa. Dan sesampainya di sana, saya dikejutkan bahwa tujuan rombongan itu ke Wairiang adalah untuk menghadiri acara aqiqah dan resepsi pernikahan. Alamakjang. Saya melihat miris ke alas kaki yang saya kenakan. Sandal jepit. Hanya itu yang saya bawa. Tapi mengingat bahwa acara tersebut diselenggarakan hari Minggu, dan kami berlima berencana pergi ke Lewoleba pada hari Jumat, saya berpikir, nanti saja di Lewoleba mencari alas kaki yang lebih layak dari sandal jepit ini.

Kami kembali ke rumah dinas. Makan malam. Lalu Rizki menawarkan untuk membuka teater mini. Benar-benar mini. Karena yang digunakan sebagai layar adalah netbook sepuluh inci. Amazing Spiderman. Lawas sekali ya. Tapi bertugas di daerah sangat terpencil memang cukup menghambat karir dalam dunia pernontonan. Jadi harap maklum.

Tetapi tubuh kami sudah sangat lelah. Kami tidak menyelesaikan menonton aksi Andrew Garfield. Akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing. Besok harus bangun pagi untuk mengantri mandi. Dan jam delapan pagi, kami harus sudah berada di pelabuhan, dan siap berangkat ke Wairiang.

Malam itu kami belum mampu membayangkan hal apa yang akan kami hadapi. Asal ada kartu poker dan gadget, semua pasti bisa teratasi.

(bersambung)

***

Moru – Alor – Kalabahi

November 21st 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: