Dewa Matahari

Hujan deras. Payung baruku tak terbawa. Langit sangat gelap. Sepertinya hujan tidak turun sesaat saja.

Mungkin hanya aku yang setia menunggu hujan reda. Atau semesta yang menyuruhku begitu. Karena tiba-tiba ada bayangan gelap menyelimuti tubuhku yang menggigil kedinginan.

Kutolehkan kepala ke kanan. “Payungku terlalu besar untuk dipakai sendirian,” pria rupawan itu berdiri di sampingku. Ia tersenyum. Aku tidak mampu menolak untuk membalasnya.

Kami berjalan beriringan di bawah hujan. Tanpa suara. Hanya degup jantungku yang mengencang.

Jantungku terhentak saat ia meraih tanganku yang telanjang, lalu diselipkan ke saku jaketnya yang tebal, “Lebih hangat?”

“Dewa Matahari pasti menyukaimu,” jawabku menahan malu.

Dahinya mengernyit. Matanya menyipit.

Bibirku tersenyum. Pipiku tersipu, “Hatiku meleleh di dekatmu.”

***

Moru – Alor – NTT

November 12th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: