Satu Sendok Lagi

Ibu tidak pernah membiarkanku makan dengan tanganku sendiri. Ia selalu menyuapiku. Kapanpun. Bahkan ketika aku kuliah, ibu tinggal di kamar kosku, memastikan tanganku hanya digunakan untuk belajar.

Aku tidak bertanya mengapa Ibu berbuat demikian. Aku telah terbiasa. Malah tanganku kaku jika harus makan sendiri saat ada acara di luar. Biasanya, setelah itu Ibu menghujaniku dengan suapan-suapannya, “Satu sendok lagi.” Selalu satu sendok lagi. Sampai makanan tiada lagi.

Tapi saat aku sudah bekerja dan hidup mapan, Ibu sering menangis. Bahkan aku mendengar, ia berdoa dan memohon ampun untukku serta menyalahkan dirinya sendiri.

Aku tak mengerti. Jika dulu Ibu begitu suka menyuapiku dengan tangannya, mengapa aku tidak boleh menerima suap dari orang lain?

***

Moru – Alor – NTT

November 7th 2012

  1. errr~
    menerima suap

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: