Dunia Tanpa Jarum Suntik

“Berhenti nangisnya! Kalo nggak, nanti disuntik sama Ibu Dokter!”

***

Pasti semua orang sudah kenal dengan direksi kalimat serupa di atas. Baik dialami langsung saat kecil atau mengucapkannya pada anak kecil. Dan jujur, kepala saya pening mendengar kalimat seperti itu.

Hampir sebagian besar anak-anak takut pada dokter karena takut disuntik [baik faktor kalimat di atas yang membayangi atau karena takut melihat dokternya]. Padahal dokter bukan profesi barbar yang menyuntik orang seenakjidatnya sendiri. Ketakutan pada hal yang tidak ada dan tidak logis akan tertanam pada anak kecil yang nantinya hanya tahu, “Dokter itu tukang suntik,” tanpa ada usaha pemberian pemahaman, sebenarnya suntik itu untuk apa. Mereka hanya akan mengenal bahwa disuntik itu sakit dan mengerikan. Suntik adalah ancaman. Padahal, pada pasien anak-anak, pasti dokter akan memilihkan terapi dengan risiko trauma seminimal mungkin. Jika harus dipasang infus atau disuntik, maka tujuannya adalah memasukkan obat agar kesehatan mereka segera membaik. Rasa sakit yang sebentar itu demi kesehatan mereka, bukan hukuman atas kenakalan atau karena mereka selalu menangis (oh please…).

Senin pagi, saya diberitahu perawat bahwa ada pasien yang merasa sangat kesakitan. Seorang perempuan, masih SMA, sedang terbaring dan mengerang-ngerang di atas salah satu ranjang UGD puskesmas. Setelah melakukan anamnesis, rupanya nona satu ini tidak makan selama dua hari karena stres. Selepas saya melakukan pemeriksaan fisik dan diagnosis klinis, saya memutuskan untuk memberikan terapi injeksi intravena untuk mengurangi nyeri perutnya dengan cepat, dan dikombinasikan dengan obat minum yang bisa dibawa pulang. Ketika saya mengomunikasikan rencana terapi ini, tiba-tiba si nona merengek dan menangis. Dia memohon-mohon agar tidak disuntik.

“Nona umur berapa sekarang?”

“Enam belas.”

“Berarti sudah kelas berapa?”

“Kelas 10.”

“Seharusnya, kalo kelas 10 sudah cukup dewasa, ya, untuk menentukan mana yang perlu ditakuti dan mana yang perlu dihadapi.”

Dan syukurlah, pada akhirnya injeksi intravena dapat dilakukan tanpa adanya pertumpahan darah. Alhamdulillah ^^

Tiba-tiba saya teringat seorang kerabat yang menangis meraung-raung di ruang UGD dan menjerit-jerit, memilih mati menderita Demam Berdarah daripada menerima tusukan jarum infus pada venanya. Tidak sampai hati melihat ibunya yang menangis miris. Saya merenung dalam hati, apakah anak kelas tiga SMP ini sempat berpikir, seberapa dalam luka di hati ibunya melihat anaknya kesakitan seperti ini. Tapi jika ketakutan ini ternyata hasil dari ancaman sejak ia kecil, maka harus bagaimana?

Sejak dulu, menakut-nakuti tidak pernah menjadi cara yang efektif bagi seseorang untuk ‘dipaksa’ melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Tidak hanya dokter, tapi profesi lain juga pernah jadi sasaran pencemaran nama baik. Jangan nakal nanti ditangkap polisi. Jangan rewel nanti dibawa pergi satpam. Dogma-dogma seperti ini pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Bisa jadi, ini awal dari sikap ‘waspada’ terhadap sesuatu yang salah, dan membentuk pola pikir yang kurang logis, seperti, “Kalo makan jangan disisain, nanti ayamnya mati.” [Dimana letak kebenaran kalimat ini? Bukankah nantinya sisa makanan akan diberikan pada ayam dan ayam tidak mati?]. Bisa jadi, ini awal mengapa masyarakat Indonesia tumbuh dengan hanya mengenal mengancam dan diancam, tanpa tahu sebab-akibatnya.

Pada akhirnya, jika suatu saat seseorang, entah itu anak-anak atau dewasa, membutuhkan sebuah bantuan dari profesi tertentu, ketakutan yang sudah terbiasa ditanamkan sejak kecil membuat segalanya menjadi sulit. Anak-anak akan rewel dan menangis ketika melihat dokter  (karena pikiran bahwa dokter selalu menyuntik) sehingga mempersulit pemeriksaan menyeluruh dan mengurangi kualitas proses diagnosis dan terapi. Orang dewasa memilih untuk menahan sakitnya lebih lama untuk menghindari dokter sehingga, bisa saja, penyakit itu lambat untuk ditangani. Yang rugi jelas bukan dokter, tapi pasien itu sendiri.

Maka mari kita mengurangi segala bentuk ancaman yang tidak perlu agar hubungan dokter-pasien dan proses diagnosis serta terapi bisa berjalan dengan baik. Dan saya berharap, tidak akan ada lagi kalo-nakal-nanti-disuntik-bu-dokter di antara kita :’)

***

PS: Note ini saya tulis dengan motivasi memotivasi diri sendiri untuk melawan rasa takut terhadap jarum suntik. Berhasil? Sejauh ini, rasa malu ‘dokter-kok-takut-disuntik’ lebih mendominasi sehingga dapat mengamuflase rasa takutnya hehehe [garuk-garuk ketek].

 

Moru – Alor – NTT

November 6th 2012

  1. satu2nya jarum suntik yang gak bikin saya takut ya jarum suntik tinta printer, sisanya mending lari

    • Ahahaha
      Jangan mending lari gitu lah… Kalo memang butuh berhadapan dengan jarum suntik ya diberani2in aja x))

  2. bukan Indonesia namanya, kalau tanpa dogma-dogma “aneh” kayak gitu, chil x)))

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: