Sakit Hati

Hujan gerimis membasahi pucuk-pucuk daun mangga dan kembang sepatu. Langit masih kelabu. Petir sesekali memburu.

Baru saja aku menerima telepon dari Fadli. Dia ingin sekali menemuiku.

“Sudah enam bulan. Ternyata aku rindu.”

Rindu. Kata yang jarang diucapkan Fadli saat kita bersama dulu. Kata yang selalu kuucapkan dan kehancurannya menunggu waktu. Hingga enam bulan yang lalu.

Fadli. Haruskah aku menemuimu?

***

Hujan gerimis di sore hari. Lelaki di depanku baru saja menutup teleponnya, lalu wajahnya berseri-seri.

“Nelpon Vira?” tanyaku.

“Iya. Gue kangen,” jawabnya sambil menyulutkan api ke ujung sebatang rokok filter.

“Emang setan, lo. Tiap malem tidur bareng pecun aja bilang kangen mantan. Tai!”

Fadli menghindar dari lemparan korek api dariku. Dengan tertawa dalam wajah yang memuakkan, dia menyemburkan asap rokok ke segala arah, “Kangen sama yang polos-polos boleh dong. Kadang bosen main sama yang agresif terus. Ahahaha…”

Bajingan di depanku itu kembali menekan tombol di ponselnya. “Halo. Al? Maaf ya, rencana nanti malam ditunda aja. Aku sakit nih. Flu. Iya besok aku bawa kondom. Mau rasa apa? Oke. Tar dicariin yang rasa duren. Miss you, Honey.”

Fadli menutup kembali ponselnya, “Apaan?”

Dia membalas tatapan tidak percayaku dengan senyum yang lebih mengerikan. Sampah.

“Al? Baru lagi?”

“Sebulan ini kenalnya. Cantik. Bodi seksi, servis oke. Mau coba?”

“Gue sumpahin lo sakit kelamin, Fad!”

“Sekali-kali lo harus nyobain rasanya ngewe, Han. Biar mulut lo nggak cuma bisa nyinyir. Ahahaha…”

“Setan!” dengan kesal aku melempar sebuah asbak padanya. Abu rokok hasil isapannya sejak siang betebaran dimana-mana. Ku ambil jaketku yang tersampir pada tangan sofa lalu beranjak pergi.

“Han, lo nggak mau nengokin Vira juga? Ya kali dia kurusan. Nggak kaya gentong lagi ahahaha,” celetuknya. Amarahku naik ke ubun-ubun.

Please, berhenti nilai orang dari fisiknya, Fad. Suatu saat, lo bakal nyesel.”

Fadli. Teman kuliah yang entah sejak kapan menjadi bajingan. Setahun ini, dia menjadi laki-laki pemilik penis yang fungsinya tidak lebih seperti flashdisk, keluar-masuk port usb wanita yang berbeda.

Dalam perjalanan pulang, pikiranku terganggu dengan pertemuan Fadli dan Vira. Fadli bisa jadi menyakiti hari Vira lagi setelah mereka putus enam bulan lalu. Aku tidak mau melihat kekasihku itu menangisi Fadli.

***

Aku datang sepuluh menit lebih awal dari jadwal janjian kami. Kupilin ujung blus unguku hingga kumal. Gelas Ocean Blue di depanku sudah hampir kosong saking paniknya.

Enam bulan lalu, hubungan kami usai dengan meninggalkan sebuah drama. Di suatu siang, kudapati Fadli sedang melumat bibir seorang perempuan cantik dengan setengah telanjang di rumah kontrakannya. Serta merta aku melemparkan apa yang ada, termasuk rasa perih yang tidak pernah hilang sampai sekarang. “Vir, realistis dong. Gue punya kebutuhan. Dan lo nggak bisa memenuhi kebutuhan itu.” Tubuhku merosot ke lantai, kaca mataku jatuh. Termasuk harga diriku.

Dicampakkan. Kata yang tepat untuk mendeskripsikan aku saat itu. Perempuan tambun yang sangat tidak menarik, begitu beruntung melewati beberapa bulan penuh cinta dengan lelaki pujaan wanita. Aku, terlalu naif mengartikan cinta itu buta. Aku mengabaikan fakta, bahwa cinta itu benar-benar buta, maka lingerie dan bikini itu tidak pernah ada.

Ponselku berbunyi, “Halo? Belum datang. Iya, nanti kalo sudah selesai aku kabari, Han.”

Handoko. Lelaki yang memungut hatiku yang telah hancur, dan menyatukan lagi serpihan-serpihannya dalam empat bulan ini.

Dadaku sesak, kepalaku berdenyut hebat. Rasa bersalah ini semakin membebani bukan kepalang. Han, maafkan aku.

***

Aku memasuki Café Lulang yang mulai ramai. Cahayanya remang-remang, para pengunjung duduk berdua-dua. Wah, Vira mulai mengalami kemajuan dengan meminta kami bertemu di tempat seperti ini. Sebelumnya, kencan kami hanya sebatas rumah kos dan warung tempe bacem favoritnya.

Kepalaku bergerak-gerak, leherku memanjang untuk mencari keberadaan Vira. Nihil.

“Vir, kamu duduk dimana? Oh, sebelah jendela kaca? Oke… Ini aku jalan kesana.”

Dengan tergesa-gesa aku menuju tempat yang disebutkan. Sudah lima menit aku terlambat. Memang, sebelumnya terlambat adalah nama tengahku. Tapi untuk memulai lagi sebuah hubungan yang pernah kandas, aku tidak ingin memberikan kesan buruk. Meskipun untuk sekedar bermain-main.

Di sebelah jendela kaca, langkahku memelan. Aku melihat sosok perempuan yang ku kenal. Rambutnya lurus sepunggung, mengenakan blus ungu berbahan halus yang pas sekali dengan tubuhnya. “Al?”

Perempuan itu menoleh. Dan tersenyum.

***

Akulah pria yang merapikan kembali kepingan-kepingan hati Vira yang dihancurkan Fadli. Vira terpuruk dan rendah diri, begitu terobsesi dengan tubuh yang langsing dan wajah rupawan. Aku berusaha menumbuhkan lagi semangatnya yang hampir mati. Meyakinkan perempuan itu, bahwa aku mencintainya apa adanya.

Tapi entah mengapa, aku mendengar suara yang sangat sedih dari ujung sana. Sepertinya Vira sedang bimbang. Jari-jariku merapat dan mulutku lamat-lamat melantunkan doa. Berharap, sore ini cinta Vira tidak goyah dan kembali pada Fadli.

Tanganku gemetar. Hatiku mulai gusar. Ku bawa tubuhku menuju café itu. Anggap saja aku ini adalah lelaki yang tidak percaya diri dan pencemburu. Wajar saja. Aku tidak suka melepas apa yang sudah menjadi milikku.

Di sisi kanan, tepat di samping jendela kaca, aku bisa melihat Fadli berdiri tercengang memandang Vira yang sedang duduk santai di kursinya. Fadli pasti terkejut bahwa Vira kini menawan seperti seorang dewi.

***

Fadli. Tampak bingung dan terkejut. Seperti yang ku bayangkan.

Aku berdiri dan berjalan mendekatinya, “Enam bulan berpisah, kamu sudah lupa padaku?”

Wajah Fadli memucat. Pasi. Tubuhnya bergetar hebat.

***

Vira berdiri dan menghampiri Fadli yang linglung. Jantungku mencelos melihat kekasihku mengalungkan pelukan pada laki-laki bejat itu. Dan kata-kata Vira, membuatku limbung. Duniaku runtuh. Kepercayaanku luruh.

***

“Sebulan lalu, aku tidak menyangka kamu sudah lupa seperti apa suaraku. Begitu mudah kita bercumbu. Lihat… betapa aku bisa memenuhi kebutuhanmu.”

“Al… Kamu?”

“Alvira. Sore ini, Vira saja, cukup.”

Di luar, hujan semakin deras. Mengiringi emosi di dalam hati yang berdarah-darah.

Ku coba melupakan memaafkan dirimu

Tapi sakitnya hatiku melebihi cintamu

[Sakit Hati – Piyu]

Kalabahi – Alor – NTT

November 3rd 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: