Allons, Ce Sera Pour La Derniere Fois

Aku suka terbang. Tapi aku tidak pernah segugup ini.

Ini adalah terbangku yang ke sekian kali di Festival Tivoli Garden, sesuatu yang rutin kulakukan ketika aku berada di Paris. Dua kali seminggu. Di usia yang tidak lagi muda, banyak orang yang mengkhawatirkanku, melarangku untuk terbang. Tapi terbang adalah satu-satunya hal yang mengingatkanku dengan Jean Pierre. Di atas langit, aku kembali bertemu dan bercinta dengan lelakiku yang telah tiada.

Aku tidak pernah melupakan saat pertama kali Jean Pierre memintaku menemaninya menjejakkan kaki di atas balon udara, dan terbang meninggalkan bumi. Perasaan itu seperti jatuh cinta. Ketakutanku sirna, kegundahanku entah jatuh dimana, kekerdilan jiwaku pada tempat yang ramai, hilang ketika balon udara beranjak terbang. Sensasi yang sangat berbeda. Tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Dan sejak saat itu, aku mencintai keduanya. Jean Pierre dan balon udara.

Kami telah melewati banyak kejadian yang berbahaya. Pada tahun 1807, kami mengalami kecelakaan. Jean Pierre mengalami cedera kepala berat, dan aku mengalami syok yang cukup parah sehingga mengalami mutisme selama beberapa saat.

Pada tahun 1809, kami berdua terbang menuju tanah Belanda. Tepat di atas Hague, Jean Pierre mengeluhkan dada kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri. Aku panik. Pada saat itu, pertama kalinya aku takut berada di atas langit. Jean Pierre memegangi dada kirinya sambil mengerang. Dahinya basah oleh keringat. Dia bahkan tidak bisa bicara. Dan pada akhirnya, serangan jantung itu tidak membawanya kembali pulang.

Sesaat aku merasa ingin membenci terbang dan balon udara. Tapi aku tidak bisa. Setelah kematian Jean Pierre, aku tetap melakukan penerbangan dengan balon udara, dengan atraksi kembang api yang biasa Jean Pierre lakukan; menjatuhkan anjing berparasut atau keranjang berisi kembang api yang melekat pada sebuah parasut kecil. Dalam keriuhan penonton di bawah sana yang bersorak-sorai memuja atraksi yang ku lakukan, aku menikmati kesendirian di atas langit yang berbintang. Mengenang masa-masa aku dan Jean Pierre bercumbu sambil memandang bulan.

6 Juli 1819.

Entah ada apa dengan orang-orang di malam ini. Mereka begitu kukuh melarangku menunjukkan atraksi kembang api seperti biasanya. Mereka bilang, itu berbahaya. Tapi bagaimanapun, aku masih ingin melihat wajah-wajah takjub atas atraksiku itu. Langit pasti akan lebih indah dengan seorang wanita berdiri gagah mengendarai balon udara, dan menerangi langit malam dengan warna-warni kembang api.

Aku suka terbang. Tapi aku tidak pernah segugup ini.

Kepalaku berdenyut melihat mereka beradu mulut untuk memutuskan atraksi apa yang akan kugunakan di atas sana. Beberapa bahkan berusaha menghentikan semuanya. Tapi hatiku memilih untuk terus. Jean Pierre tidak suka perempuan yang takut terbang. Aku beranjak dari dudukku, membuat suara gesekan kursi dan lantai yang meredam gemuruh manusia-manusia di ruangan ini, “Mari kita pergi, ini akan menjadi yang terakhir kali.”

Aku berjalan mendekati balon udaraku yang indah. Gaun putihku yang sederhana melambai-lambai diterpa angin malam. Topi cantik berwarna putih dengan hiasan bulu-bulu burung unta berwarna-warni hampir terbang sehingga harus kukencangkan lagi talinya. Tanganku menggenggam sebuah bendera berwarna putih. Dan malam ini, aku tidak berharap akan melambaikannya sama sekali.

Angin bertiup kencang. Butuh usaha yang keras bagi balon udaraku untuk dapat melawan gravitasi dan naik ke langit. Aku harus melepaskan beberapa pemberat. Sesaat balon udaraku menabrak pepohonan. Aku mendengar bunyi yang cukup keras. Jantungku berhenti sesaat. Aku berharap, ranting pepohonan itu tidak melukai balon udaraku.

Aku memulai aksi kembang api dengan menggunakan Bengal Fire. Dari atas langit, aku bisa mendengar riuh penonton yang mengelu-elukanku dan langit Paris yang indah berwarna-warni. Dadaku mengembang karena bangga, sebelum akhirnya aku merasa ada yang tidak beres. Terdengar suara menggelegar, menyambar, dekat sekali dengan telingaku. Mungkin lebih dekat dari pembuluh darahku. Denyut jantungku merepet tak karuan saat menyadari sisi balon udara yang terbakar. Sejenak aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Satu-satunya hal yang terpikir adalah melambaikan bendera putih untuk meminta pertolongan. Tapi percuma, mereka sedang bersorak sorai di bawah sana. Bahkan aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri, teredam riuh kembang api yang belum berhenti.

Tiba-tiba kurasakan balon udara merosot dengan cepat. Aku akan jatuh. Gravitasi yang tadinya ingin kulawan, kini balik melawanku. Segera kujatuhkan lagi beberapa pemberat agar laju balonku tidak menggila. Tapi sepertinya sia-sia. Kepalaku pening, tubuhku diam tak bergeming. Aku mencengkram tepi kursi kayuku dengan erat. Tidak ada lagi yang dapat kugambarkan, selain ketakutan yang muncul dengan membabi buta, seperti dulu ketika Jean Pierre tiada karena serangan jantung. Ketakutan yang luar biasa. Tubuhku bergetar, seakan nyawaku sudah sampai di tenggorokan. Yang kuingat selanjutnya hanyalah tabrakan hebat antara balon udaraku dengan atap rumah Rue de Provence, sebelum akhirnya salah satu tali balon udaraku putus karena terbakar dan menghempaskanku bersama kursi yang kutempati ke jalanan, bersama nafas dan tubuhku yang tercerai berai.

***

Keterangan:

Allons, Ce Sera Pour La Derniere Fois: “Mari kita pergi, ini akan menjadi yang terakhir kali”, kata-kata Sophie Blanchard sebelum memulai aksinya di Taman Tivoli – Paris pada tahun 1819.

Referensi:

  1. Anonymous. 2012. Sophie Blanchard. http://en.wikipedia.org/wiki/Sophie_Blanchard
  2. Anonymous. 2012. Sophie Blanchard, Penerbang Balon Udara Wanita Pertama. http://cutpen.com/2012/11/sophie-blanchard-balon-udara.html
  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: