Sejumput Rindu

Aku terkesima melihat hamparan hijau di depanku. Kulit kakiku yang telanjang dapat merasakan lembutnya, seperti jubah bulu yang kugunakan di musim dingin. Tapi tidak ada kereta kuda, atau barisan pemanah dan penghunus pedang. Yang ada justru beberapa pria bertubuh tinggi bekejaran, menendang-nendang sebuah benda bulat berwarna putih dan hitam. Sesekali mereka bersorak bahagia dan kecewa ketika bola itu tersangkut di sebuah bilik terbuka dengan jaring yang luas.

Aku dimana?

Seharusnya, ini adalah hari ke delapan belas. Seharusnya, hari ini aku menyampaikan rantai dendam Dewi Amba yang menjemput cintanya, dengan menancapkan panah Hrusangkali tepat di simpul cakra Bisma. Pasukan Kurawa bertekuk lutut dan menyerah kalah. Duryadana mati setelah pahanya berdarah-darah saat dihantam gada Bima. Yudhistira naik tahta di Hastinapura. Dan akhirnya, nyawaku hilang di tangan Aswatama.

Aku meraba punggung yang ringan dan kosong. Gendewaku tiada. Apakah ini artinya, Dewa telah mengabulkan permohonanku untuk mendaur ulang takdir? Tapi mengapa? Apakah aku sudah tidak dibutuhkan lagi di Bharatayudha? Atau perang itu memang tidak pernah ada? Lalu bagaimana aku harus memulai hidup di tempat yang sama sekali asing?

“Bukankah sudah menjadi impianmu, hidup sebagai perempuan biasa yang dicintai dan beranak pinak?”

Suara itu lagi.

Aku meringis, mencengkeram kain jarit yang melilit di tubuhku.

“Bukan begini ceritanya. Bukan begini aturan mainnya.

“Tidak cukupkah Dewa menghilangkan hamparan perang di hadapanmu? Ayolah… Perempuan-perempuan jaman ini sangat memuja sepak bola. Jadilah salah satu dari mereka.”

“Lalu bagaimana dengan tanganku yang telah terbiasa bercumbu dengan busur dan anak panah?”

“Mulailah bercumbu dengan perhiasan. Bersoleklah dan manjakan dirimu.”

“Absurd! Bahkan sehari tanpa memanah, tubuhku bagai diiris sembilu.”

“Lalu apa yang kamu harapkan, wahai perempuan penuntut?”

“Aku mohonkan Dewa mengembalikanku ke masa kecil, dimana tidak ada rangkaian bunga teratai yang harus aku kalungkan. Maka aku tidak akan tumbuh menjadi perempuan ksatria.”

“Absurd! Jalani saja takdirmu yang baru. Tidak usah banyak bertanya. Tidak usah banyak meminta. Karena Dewa adalah pemegang rahasia yang sangat baik. Ia tidak akan membuka pandora sebelum waktunya tiba.”

Tiba-tiba tubuhku oleng. Jatuh tersungkur di rerumputan yang basah oleh embun. Kepalaku berdenyut perlahan. Sejenak aku melirik sebuah bola yang rupanya telah menghantam kepalaku. Seorang pria bertubuh tegap berlari menghampiri, kemudian mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, “Nona, apakah kamu baik-baik saja?”

Aku memandangnya. Aku membaca ada kekhawatiran ala kadarnya. Pria ini heran dengan baju kemben dan jaritku. Dia memandang lemah padaku. Dia bukan seseorang yang aku kenal. Seseorang yang percaya bahwa aku adalah perempuan kuat, bahkan untuk menggantikan Resi Seta yang telah dikalahkan Bisma.

Tubuhku bergetar. Air mataku jatuh ke tanah, bersetubuh dengan embun yang masih basah. Ada ruang kosong yang menganga di dalam tubuhku. Apa yang terjadi saat ini bagaikan membangun sebuah istana pasir, bagian tengahnya remuk oleh permintaanku sendiri. Istana itu hancur. Pasirnya tergelincir di sela-sela jariku yang gemetar karena sesal dan rasa bersalah. Mungkin hari ini, Srikandi tidak mati di tangan Aswatama. Tapi pesan cinta Amba selamanya takkan tersampaikan. Dan hidup lebih lama dalam bahagia, aku meragukannya.

Aku merasakan ada kepingan anak panah yang terjatuh di bawah tanganku. Aku memungutnya, beserta sejumput rindu yang menggebu pada Arjuna.

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 30th 2012

Cerpen ini lanjutan dari cerpen berjudul Busur Panah Patah ^^

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: