Sumpah Di Dadaku

Tempat ini tidak pernah gagal mengembalikan kenanganku tentangmu. Aroma embun yang bergelayut malu di rerumputan merebak di otakku, menyegarkan lagi hari-hari usang yang pernah kita tapaki berdua. Sedetik saja, aku sudah merasakan rindu yang menggila. Senyummu, cemburumu, tawamu, marahmu. Aku bisa mendengar suaramu memanggil-manggil namaku.

***

“Pernahkah kamu takut, bahwa pekerjaanku bisa saja tidak lagi mengirimku pulang ke pelukanmu?” tanyamu di suatu sore yang hangat, ditemani sepiring pisang goreng yang hampir gosong karena apinya terlalu besar, dan seteko teh panas yang mengepulkan dua cangkir harapan kita.

“Jangan tanya. Setiap saat, ketika kamu menerima telepon dari atasanmu, atau tiap kali ada berita terorisme di televisi, jantungku terasa seperti jatuh dari tempatnya.”

Kata-kataku tenggelam begitu saja dalam pelukanmu yang semakin erat. Aku bisa mendengar degup jantungmu. Bunyi paling indah yang tak pernah aku lewatkan setiap kali kita bercumbu.

“Kamu menyesal?”

“Tidak ada penyesalan dalam cinta. Aku telah menumpulkan indera dari omongan orang tentang betapa sulitnya menikahi lelaki sepertimu. Aku lebih memiih menajamkan rasa untuk mencintaimu. Mendoakanmu agar selalu kembali pulang dan bisa memelukku dengan kedua tanganmu.”

“Apa yang aku lakukan bukan sekedar pengorbanan, tapi perjuangan demi sesuatu yang berharga. Dan aku beruntung menikah dengan perempuan sepertimu.”

Sore itu, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Air mataku tidak mampu tertahan. Dan aku masih terbenam di pelukanmu, membasahi gamis putihmu dengan kesedihan dan rasa takut yang berlarian dalam kepalaku.

Kekasihku yang kupuja,

jangan menangis jika surat ini sampai ke tanganmu.

Kita pernah berjanji untuk hidup bahagia. Aku pernah bahagia bersamamu. Dan ketika aku tiada, kamu harus bisa membagi bahagia itu bersama orang lain.

Akan selalu kurindukan pisang goreng setengah gosong buatanmu.

Dan tanganku tidak akan berhenti memelukmu.

***

Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa bangkit dari rasa kehilangan. Kebersamaan yang tidak lama, mungkin hanya dalam hitungan bulan. Tapi rasanya, melupakanmu adalah satu hal yang membutuhkan waktu yang lama, mungkin bahkan lebih lama dari usiaku sendiri.

Aku meraba namamu yang bertinta hitam. Ujung jariku bergetar, menggoyahkan lagi ketegaran selama bertahun-tahun, atas nama rindu.

“Kita pergi sekarang?” laki-laki di sebelahku tersenyum lembut, lalu menggenggam tanganku yang terbebas dari genggaman kenanganku di atas ukiran namamu di atas pusara.

“Iya. Sudah ditunggu pemilik gedung,” jawabku singkat.

Kekasihku yang tak pernah berhenti kurindukan, aku telah melanggar janji untuk tidak menangisi kepergianmu. Bahkan aku pernah menyesali cinta, mengapa hatiku memilih seorang pahlawan kesiangan sepertimu. Bermalam-malam aku merutuki mulutku yang dulu tertutup, berandai-andai, jika aku mengadu bahwa aku telah mengandung, apakah kamu akan tetap pergi, dan menganggap kami berdua adalah sesuatu yang lebih berharga untuk kau perjuangkan.

Kekasihku, ijinkan aku memenuhi sumpah untuk bahagia bersama lelaki ini. Lelaki yang bisa mencintaiku dan putrimu, mungkin lebih besar darimu dulu. Lelaki yang tidak akan meninggalkanku. Lelaki yang memperjuangkan kami sebagai hal yang paling berharga. Kamu adalah jejak yang tidak akan terhapus meski hujan turun berbulan-bulan. Dan dia adalah jejak baru yang selaras dengan jejakku setelah aku kau tinggalkan.

“Ibu, ayah Ade dulu kerjanya apa?”

Aku menoleh. Memandang wajah putri kita yang sama persis seperti wajahmu. Pertanyaannya membuatku menggenggam jemari kecilnya lebih erat.

“Calon pengantin.”

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 28th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: