Kelelawar Hitam

Dalam keheningan pagi, terdengar ada sesuatu yang melesat dari atas langit dan berdebum ringan di bumi. Sesosok mirip tikus hitam bersayap teronggok di atas bebatuan dan dedaunan kering yang dibasahi embun. Kelelawar Hitam merintih dalam suara yang tak terdengar.

Kelelawar Hitam telentang tak berdaya. Rupanya selaput sayapnya terkoyak ketika terbang melewati ranting pepohonan. Lamat-lamat ia memanggil kawannya. Tapi suaranya tersamarkan oleh kerumunan burung yang tidak bisa diam.

Tiba-tiba Kelelawar Hitam mendengar sebuah suara. Gerakan halus, tenang, tapi membunuh. Langkahnya tanpa jeda, bergesekan dengan hamparan daun dan bebatuan di tempat asing ini. Kelelawar Hitam belum berani menolehkan kepalanya. Instingnya berkata, makhluk ini berbahaya. Sampai pada akhirnya, ada sesosok rupawan yang berdiri menjulang di depannya.

Susah payah Kelelawar menegakkan tubuh kecilnya. Ia ingin memandangi Si Tampan lebih lama. Kini mata mereka beradu. Kelelawar terpesona. Si Tampan bermata gelap. Dia tidak punya selaput sayap. Tubuhnya berbalut kulit yang berbeda dengan dirinya. Kulit yang bersinar. Coklat yang berkilat, memantulkan warna-warni seperti pelangi di bawah cahaya matahari yang malu-malu menerobos dari celah dedaunan.

“Halo… Aku tidak pernah bertemu denganmu. Apakah kamu tahu, tempat apa ini?” tanya Kelelawar. Tapi Si Tampan terdiam, hanya mengedipkan kelopak matanya perlahan.

“Bisakah kamu membantuku berdiri? Sayapku terluka,” pinta Kelelawar lagi. Tapi Si Tampan tetap tak bergeming. Dia menatap tajam ke arah Kelelawar, kemudian memiringkan kepalanya, seakan ingin menguliti Kelelawar dari segala sisi.

Kelelawar heran, mengapa Si Tampan tidak mengeluarkan suara, meski sepatah kata saja, “Ah, mungkin suaraku terlalu tinggi sehingga ia tidak bisa mendengarnya,” pikirnya.

Tiba-tiba Si Tampan beringsut mendekati Kelelawar. Tubuhnya bergerak dengan sangat anggun. Elegan. Magnificent. Si Tampan memutari tubuh Kelelawar yang mematung, pandangannya tidak lepas dari mata Kelelawar. Kelelawar menjadi salah tingkah. Dalam usianya yang beranjak remaja, dia belum pernah merasa sedeg-degan ini. Apakah ini artinya ia sedang jatuh cinta?

Sambil tersenyum penuh arti, Si Tampan memeluk Kelelawar erat-erat. Kulit mereka menyatu. Panas tubuh keduanya bertukar. Kelelawar merasakan hangat di dinginnya pagi yang baru saja datang. Pipinya terasa panas. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Kelelawar bertanya dalam hati, apakah sebuah pelukan harus menjadi seerat ini. Dia merasa nafasnya semakin sesak, serasa ingin mati.

Udara. Paru-parunya butuh udara.

Mata kelelawar terbelalak. Air matanya merebak. “Ibu, harusnya kau ceritakan betapa sakitnya merasakan cinta. Sepertinya, tulangku patah dimana-mana.”

Tubuh kecilnya meronta-ronta.

Cinta. Aku ingin melepasnya saja.

***

Seorang pria bertopi membersihkan lantai area reptil. Ia memegang tongkat pel yang panjang, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri sambil berjalan mundur. Pandangannya berhenti pada sebuah kotak kaca yang tampak kosong.

Epicrates cenchria maurus.

Ia mengetuk-ngetuk kaca itu beberapa kali, berharap ada gerakan respon dari penghuninya.

Nihil.

“Sur… Boa pelangi kemana, Sur?”

Lelaki bernama Surya mendengar namanya dipanggil. Namun tubuhnya lebih memilih menikmati pemandangan yang unik di jalanan berbatu yang belum selesai ia sapu. Di atas bebatuan dan daun-daun, seekor ular yang cantik berwarna pelangi, tengah menghabisi musuh kecilnya yang tak berdaya. Kelelawar boleh saja masuk dalam kerajaan mamalia, lebih mulia dengan ruang jantung yang sempurna. Namun hukum ekosistem tetaplah berlaku dalam mempertahankan keberlangsungan rantainya.

Maka pagi ini, riwayat Kelelawar Hitam dihabisi.

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 27th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: