Mawar Biru

Pria itu mondar-mandir di luar florist. Sesekali dia berhenti di depan etalase kaca, memandangi tumpukan bunga mawar. Kemudian menghilang. Setiap hari dia melakukan aktivitas yang sama. Entah kenapa.

Pria Patah Hati. Demikian aku menyebutnya. Ning selalu tertawa jika pria itu absen di depan etalase florist, mengingat kejadian konyol sekitar tiga bulan lalu, saat pria itu pertama kali menginjakkan kaki ke sini. Dia datang dengan kondisi yang mencemaskan. Wajah kusam, rambut acak adul, rambut-rambut liar tumbuh tak beraturan di sekitar mulut dan dagunya. Kaosnya kusut, seperti beberapa hari tidak diganti.

“Bunga apa yang artinya kecewa sampai ke sumsum tulang dan akan kubawa sampai mati?” katanya waktu itu. Aku dan Ning berpandangan. Mulut kami tertahan rasa geli yang sulit dibendung. Rupanya pria ini mengalami masa bercinta yang cukup sulit.

Aku tersenyum, menghampirinya dan menawarkan sebungkus cokelat. Dia memandangku dengan heran. “Makan saja. Saya hanya berusaha menurunkan derajat emosimu. Lalu kita bisa memilih bunga yang tepat dengan suasana hati,” kataku. Pria itu mengambilnya ragu-ragu, membuka bungkus cokelat dengan kasar lalu memakannya dengan rakus.

“Bunga adalah istana putik dan serbuk sari. Tempat bercinta dan membuahkan cinta, menyampaikan keindahan kepada siapapun yang melihatnya. Tapi pesan itu berubah seiring dengan emosi manusia yang menyertainya. Nah… Menurut penglihatan anda, bunga apa yang cocok untuk suasana hati anda hari ini?” tanyaku.

Matanya lurus mengarah pada mataku, mungkin berusaha mencerna kata-kataku. Ia mengalihkan pandang ke satu arah. Dan menunjuknya dengan jari telunjuk yang gemetar, “Ini. Dan tulis pesan yang saya ucapkan tadi. Tidak perlu nama. Dia sudah tahu.” Aku menoleh ke arah bunga yang ditunjuknya. Anyelir kuning. Rasa hina dan kekecewaan.

Pagi ini, aku melihatnya memasuki florist. Dia tampak jauh berubah. Rambutnya rapi seperti habis dicukur, wajahnya bersih. Ia mengenakan kemeja lengan pendek garis-garis merah dan cokelat, dan celana jeans berwarna cokelat tua. Di tangannya, ada serangkaian mawar merah yang segar. Dia berjalan ke arahku, lalu berdiri tepat di depan meja kerjaku.

“Selamat pagi. Saya mengantarkan bunga ini.”

“Dari siapa? Untuk siapa?”

“Dari saya. Untuk kamu.”

Lalu ia melesat pergi. Meninggalkanku yang masih keheranan. Bunga-bunga mawar yang cantik. Merah. Cinta, rasa hormat dan keberanian. Di sela-selanya ada sebuah amplop. Aku membukanya dengan tidak sabar dan dorongan penasaran.

Kepada Mawar

Saya tahu, Mawar bukanlah namamu yang sebenarnya. Tapi Nona adalah bunga cinta yang membangkitkan energi saya yang pernah padam.

Senyummu dan sepotong cokelat, memaksa saya tidak bisa tidur dan merasa perlu memandangimu setiap hari dari balik kaca.

Senyummu dan sepotong cokelat, cukup membuat saya rela berdarah-darah tertusuk duri rindu karena tidak ada keberanian untuk mengadukan isi hati.

Hari ini, tepat di akhir masa iddah saya berpatah hati, saya kirimkan mawar merah yang mungkin salah artinya. Tapi emosi yang menyertai mawar ini adalah, “Siapakah namamu, Nona?”

Kirim saja jawabanmu melalui nomer ponsel yang ada di kertas ini. Tanpa batas waktu. Sampai jawaban itu tiba, saya takkan berhenti menampakkan wajah di depan etalase toko ini.

Dari Pria Patah Hati

Tanganku berkeringat, menurunkan lembar kertas berisi surat dan memandang rangkaian mawar merah yang merekah dan indah. Merahnya memantul sempurna di pipiku. Tapi, Ning yang baru saja datang tahu, mawar itu membiru di hatiku.

Kalabahi – Alor – NTT

October 25th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: