Pucuk Hijau Pupus

Kamis pagi. Aku sudah duduk di pasar. Diapit dua ember besar berisi cumi-cumi putih. Semalam, bulan purnama bersinar terang. Memanggil cumi-cumi putih yang gemuk dan menggiurkan muncul ke permukaan laut. Ayahku bahagia karena dapat memancing mereka dengan mudah.

Aku bahagia untuk alasan yang berbeda. Di hari Senin dan Kamis, warga Kecamatan Pantar turun ke Desa Kabir untuk melakukan kegiatan jual beli demi memenuhi kebutuhan pokok kami. Dua hari itu menjadi hari favoritku selama dua bulan ini. Karena pada hari pasar, aku bisa berjumpa dengan dokter Kabir yang baru.

Dokter Atoy. Namanya unik. Begitu juga dengan orangnya. Rumah dinasnya tepat di seberang pasar. Dia tinggal sendirian. Ia memasak dan mencuci bajunya sendiri. Tapi dia memintaku untuk membersihkan rumah dan menyetrika pakaiannya. Dia bilang, bersih-bersih dan menyetrika adalah kegiatan yang tidak menyenangkan. Aku mengunjungi rumahnya dua hari dalam seminggu. Setelah pasar berakhir.

Banyak dokter PTT yang pernah bertugas di puskesmas Kabir, tapi tidak ada yang seperti dr. Atoy. Ia mengingatkanku pada dr. Jimmy, karakter di sinetron  lama berjudul Pelangi Di Matamu yang ditayangkan ulang di LBS Drama. Gaya bicaranya pun mirip. Ceplas-ceplos dengan suara tawa yang khas. Rambutnya lurus dan gondrong sebahu, tapi selalu rapi. Penampilannya nyentrik, kemeja lengan pendek dan celana jeans yang sudah pudar warnanya, serta sepasang sepatu kets warna abu-abu yang juga sudah tampak tua. Aku pernah melihatnya menggunakan anting ketika pergi memancing bersama ayahku. Kala itu ia mengenakan kaos tanpa lengan serta celana selutut. Otot lengannya tampak menonjol. Keringat yang mengalir di lehernya semakin menambah ketampanannya di mataku.

Tepat jam sembilan pagi, pucuk-pucuk hatiku telah penuh terisi embun rindu yang mengendap. Butir-butir airnya memantulkan cahaya yang hijau dan menyilaukan. Dan embun di pucuk hatiku memberat saat ku lihat dr. Atoy berjalan mendekat dengan senyumnya yang rupawan.

“Wah, cumi putih!”

“Iya, Pak Dok. Semalam bulan terang. Ayah ada dapat cumi putih banyak-banyak.”

“Kebetulan hari ini saya mau membeli agak banyak,” katanya sambil memilih lima ekor cumi yang ukurannya cukup besar.

“Bagaimana pengumuman SNMPTNnya?” tanyanya padaku.

“Seminggu lagi, Pak Dok,” jawabku sambil tersipu. Dadaku mengembang mendengar pertanyaannya yang begitu perhatian.

“Mudah-mudahan lulus ya. Saya sudah bilang sama ayahmu, kalo lulus ke perguruan tinggi negeri, uang semestermu akan saya bantu. Uang bisa habis, Rita. Tapi ilmu itu kekal. Saya yakin kehidupan kalian akan berubah jika kamu terus belajar,” katanya lagi.

“Terima kasih banyak, Pak Dok,” mataku berkaca-kaca. Sungguh lelaki ini telah menempati sisi yang istimewa di hatiku.

Tapi cahaya rinduku redup seketika, saat melihat seorang perempuan cantik menghampiri kami. Senyumnya menawan, berseri seperti mentari. Dokter Atoy menyambutnya dengan senyum lalu meraih jari-jari wanita itu dengan mesra, “Ini loh, Ma… Rita, anak Pak Herry yang aku ceritain.”

Wanita cantik itu mengulurkan tangannya tanpa ragu, bahkan setelah melihat tanganku yang basah dan berlendir karena memegang cumi-cumi, “Halo… Saya Sofia. Saya sudah dengar banyak tentang Rita. Makasih ya sudah bantu suami saya beres-beres rumah.”

Aku menyambut jabat tangannya dengan kelu. Dan rinduku yang masih hijau itu luruh ke tanah. Tetesannya berpencar ke segala arah, hingga akhirnya pupus dan tiada.

Moru – Alor – NTT

October 24th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: