Tukang Pijat Keliling

Entah sudah berapa lama aku tidak menikmati aktivitas seperti ini. Menumpuk asam laktat, berpeluh adrenalin, basah oleh keringat. Lari pagi adalah kegiatan yang sudah lama kutinggalkan. Alasannya apa lagi kalau bukan malas.

Ruteku selalu sama. Rumah, sekolah dasar, kantor bupati, taman kota. Satu jam berlari rasanya sudah cukup. Selanjutnya hanya berjalan-jalan santai di sekitar taman kota yang baru selesai dipugar sebulan yang lalu.

Aku duduk di sebuah bangku yang cukup teduh karena dinaungi oleh pohon entah-apa-namanya. Ku luruskan kaki dan menggerak-gerakkannya perlahan. Meneguk dengan rakus air putih yang kubawa, lalu mengedarkan pandang ke keramaian taman. Ada seorang ayah yang sedang bermain ayunan dengan putrinya. Di ujung sana, sepasang muda-mudi berjalan dengan mesra sambil bergenggaman tangan. Dan di depanku, ada seorang anak laki-laki yang baru saja membuang hajat di atas tanah.

Lalu perhatianku teralih pada seorang perempuan yang wajahnya tidak asing. Tapi aku lupa siapa. Rambutnya diikat ekor kuda, mengenakan polo shirt putih, celana cargo selutut merah marun dan sepatu kets berwarna merah. Dia berdiri sambil melemaskan otot kakinya. Di depannya, ada laki-laki yang duduk bersila di atas tanah. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa bersama.

Tiba-tiba ada rasa basah di betis kananku. Aku menoleh dan terkesiap. Sejak kapan ada anjing herder jelek di sini dan dengan lancang menjilat-jilat kakiku? Aku menarik kakiku dan berdiri. Lalu seorang lelaki tampan yang usianya kira-kira sama denganku, berlari menuju ke arahku. Dia terengah-engah sambil menyeka keringatnya.

“Maaf, Nona. Anjing saya memang aneh. Sejak kecil senang sekali dengan betis wanita.”

Entah bagaimana raut wajahku saat itu. Takjub, geli, terpesona.

“A… Ahahaha… Wow. Saya tidak bisa menemukan kebiasaan yang lebih aneh dari itu…” kataku canggung.

Entah seberapa jauh lelaki ini mengejar anjing anehnya sampai kehilangan nafas begini. Dadanya naik turun, mulutnya terbuka seakan ingin menelan semua oksigen di sekitarnya. Melihatnya seperti itu, aku merasa dia bisa pingsan kapan saja.

“Ini, minum dulu,” ujarku seraya mengulurkan botol minuman yang berisi air setengahnya. Lelaki itu menyambut tawaranku dengan wajah sumringah. Dan si anjing herder masih duduk memerhatikan tuannya sambil menjulurkan lidah.

“Lucas. Namaku Lucas,” katanya sambil menenggak habis air dari botol minumku.

“Saya Aliya. Senang berkenalan denganmu,” kataku sambil menyunggingkan senyum termanis. Ah, Lucas, seandainya aku belum bertunangan, mungkin aku sudah menawarkan lebih dari senyuman.

Kemudian kami berjalan beriringan menuju arah yang sama. Aku harus segera pulang. Begitu juga dengan Lucas. Ia tampak harus bekerja keras menggenggam erat tali kendali Milo yang tampaknya begitu bernafsu bisa menjilat betis perempuan-perempuan yang ada di taman ini.

Lalu langkahku terhenti di depan perempuan rambut ekor kuda tadi. Begitu pun dengan perempuan itu. Dan juga lelaki yang ada di sebelahnya. Mereka langsung melepaskan genggaman tangannya. Ada tangan tak terlihat yang menekan tombol pause di taman ini. Lucas berdiri kebingungan. Matanya tak mengerti, bergerak-gerak menelusuri wajah kami untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Tom?”

Lelaki yang kusebut namanya itu memucat. Bibir tunanganku itu bergerak-gerak tanpa suara.

“Al… Aliya… Ini…”

Dan seketika, ingatanku tentang perempuan ini pulih total. Karena aku sering berjumpa dengannya di rumah Tom, sebagai tukang pijat tuna netra keliling.

 

Moru – Alor – NTT

October 23rd 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: