Kembar Tiga

Dera tampak ranum. Gadis berusia 10 tahun itu mendapat menstruasi pertamanya seminggu yang lalu. Payudaranya mulai penuh. Kadang ia geli saat rambut pubisnya mulai tumbuh.

Kini ia termenung di depan sebuah kedai es krim yang sudah usang. Matanya sayu memandang kakak kelas yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya.

Entah sejak kapan, Dera merasa hal yang tak biasa. Wajahnya memanas setiap tangan mereka bersentuhan. Nafasnya memburu saat wajah mereka hanya sejengkal jarak ketika sang kakak kelas menabraknya pagi tadi di sekolah. Ada yang berdenyut dalam dadanya setiap kali sang kakak kelas memanggil namanya.

Dera merasa ini aneh. Dera merasa harus berhenti. Kadang-kadang ia memertanyakan hatinya sendiri. Ada sesuatu yang salah di sini. Karena yang ia tahu, perempuan tidak boleh menyukai sesama perempuan.

***

Fera memandang nanar baju pengantinnya. Kebaya putih dengan aksen bordir dan permata yang rumit dan cantik.

Minggu depan, tepat di hari ulang tahunnya yang ke 25, ia akan menikah. Tapi semua orang tahu, cintanya telah tertinggal pada hati seorang laki-laki di masa lalu. Cinta pertama. Cinta yang menggebu dan penuh hasrat. Cinta yang merelakan dan mengekang.

Mungkin, calon suaminya sudah tahu. Tapi Fera yakin, lelaki itu takkan ambil pusing. Lelaki itu mungkin menganggap pernikahan adalah permainan masa kecil tanpa rasa. Atau menganggap perempuan hanyalah penampung sperma.

Fera mengalihkan pandang ke jalanan kota tua yang lengang. Ia mendapati Dera yang termenung di depan mangkok es krim yang isinya mencair. Matanya basah. Hatinya tenggelam.

Dera. Adik yang seharusnya memanggil Fera sebagai ‘mama’.

***

Di sebuah kafe antik bergaya klasik, Hera mengetuk-ngetukkan jarinya yang bercincin topaz di atas sebuah majalah bisnis. Perempuan berusia 50 tahun itu tersenyum memandang sebuah halaman yang terbuka, berhenti pada sebuah profil seorang pebisnis muda yang tampan parasnya. Milyarder yang seminggu lagi akan menjadi menantunya.

Semua orang menganggap hidupnya sempurna. Ia pun demikian, pada awalnya.

Hanya sedikit orang yang tahu bahwa putri semata wayangnya pernah mencoreng nama besarnya. Hera marah pada putrinya dan anak laki-laki laknat itu. Mereka telah merusak rencana hidupnya yang sempurna dengan membentuk nyawa baru tanpa ijin darinya.

Bermalam-malam  ia menangisi kebodohan putrinya. Putri yang masih naif akan cinta dan mungkin tidak sempat berpikir bahwa perbuatannya itu telah menorehkan tinta hitam pada lembar hidupnya yang berharga.

Berkali-kali ia menanamkan doktrin pada Fera. Bahwa untuk mencapai Hera yang sekarang, ia harus mengorbankan banyak hal. Waktu, tenaga, pikiran, serta cinta. Maka tidak ada alasan bagi Fera untuk terbuai dalam cinta mudanya. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Fera boleh melahirkan anaknya, tapi jangan pernah hidup sebagai ibunya.

Fera harus berkorban demi sebuah jalan hidup yang sempurna dan dipuja. Sebagaimana Hera telah berkorban menanggung perih. Bertahun-tahun ia menyembunyikan aib dari suaminya. Karena Fera adalah buah cinta dari lelaki penjual koran yang ia temui diam-diam.

***

Dera. Fera. Hera.

Tiga perempuan yang dipermainkan hidup dan logika. Mereka terjebak dalam labirin yang berkedok cinta. Tersesat dan tak bisa keluar dengan selamat. Lalu mati sebagai jiwa tanpa rasa.

Dera. Fera. Hera.

Tiga perempuan yang membutakan diri terhadap cinta yang buta. Tidak ada cinta yang gila. Yang ada hanya cinta yang tampak sempurna, meski bernanah di dalamnya.

Dera. Fera. Hera.

Tiga perempuan dari generasi yang berbeda. Hidup dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sama tentang cinta.

Jika cinta itu bebas,

mengapa hidup begitu memaksakan aturan-aturannya?

Jika cinta tak pernah salah,

mengapa hidup begitu memaksakan kebenarannya?

Jika cinta tak pernah berdusta,

mengapa hidup begitu memaksakan kebohongannya?

***

 

Kalabahi – Alor – NTT

October 22nd 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: