Senin, Aku Merindu

Sabtu dan minggu.

Dua hari dimana aku tidak membiarkan diriku tidur terlalu lama. Aku lebih suka mengobrol dengan lelakiku, atau sekedar memerhatikan wajahnya yang sedang tidur. Menghitung satu per satu nafas yang telah menjadi nafasku. Kadang-kadang sekedar merapikan anak rambut yang nakal menutupi matanya yang bergerak-gerak saat tertutup.

Sabtu dan minggu.

Dua hari dimana aku selalu mengisi ruang kosong tanpa sisa atas ketiadaan lelakiku saat dia harus pergi selama enam hari sebelum akhirnya kembali ke pelukanku. Membalut luka akibat tusukan panah rindu yang memburu. Lalu memenuhi segala penjuru hati untuk siap merindukannya lagi.

Senin buta. Jam tiga pagi.

Aku masih belum menyelesaikan misi membalas rindu. Mataku sama sekali belum terpejam, memuaskan diri dengan keberadaan lelakiku yang sesaat lagi akan pergi. Aku mengelus pelan alis matanya yang sangat ku suka. Tebal dan tegas. Perlahan aku membenarkan letak selimutnya, lalu beranjak ke dapur. Menyiapkan sarapan dan bekal makan siangnya. Aku memasukkan kering tempe ke dalam toples agar bisa dibawanya sebagai lauk selama enam hari jauh dariku. Baju seragamnya sudah siap tergantung rapi di depan lemari.

Adzan shubuh berkumandang, ia terbangun dari tidurnya saat aku masih memasak tumis kangkung kesukaannya. Matanya masih mengantuk karena kami bercumbu hingga larut malam. Ia memelukku dari belakang, mengecup leherku beberapa kali, lalu mengambil sebuah tahu goreng di atas meja, mengoleskannya pada sambal lalu mengunyahnya dalam sekali lahap. Dengan keseimbangan yang belum sempurna, ia menuju kamar mandi.

Setelah kami sholat berjamaah, kami duduk berdua di meja makan. Menu sederhana. Dalam perasaanku yang sama sekali tidak sederhana. Meski suasana seperti ini telah kulalui setiap minggu, tapi tetap ada batu besar di dasar jantung yang terasa sangat menyesakkan. Karena entah kenapa, selalu ada ketakutan bahwa ia tidak akan kembali.

“Hari ini rencanamu kemana, Bu?” tanyanya.

“Ke pasar, Mas. Beli kain tambahan untuk baju pesanan Bu Kety. Sekalian beli kain untuk seragam SD Yudhis yang sudah kekecilan,” jawabku.

“Owh… Duit bulanan masih ada tho?”

“Masih, Mas.”

Lalu kami menyelesaikan sarapan dalam diam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Dan kepingan hatiku yang meronta ingin bersuara agar ia tidak pergi.

Setelah menyelesaikan sarapannya, dia berjalan ke kamar Yudhis, mengecup kening anak kami yang masih terlelap, lalu duduk di ruang tamu dan mengenakan sepatu kerjanya. Di saat seperti ini, jantungku sudah tidak karuan. Seperti diremas hingga aku merasa sesak nafas.

“Bu, berangkat dulu ya…” katanya.

Aku meraih tangannya, lalu mencium punggung tangannya. Ia membalas dengan mengecup kening dan kedua pipiku.

“Nanti kalo ada telpon teror lagi dari Hartini atau anak-anakku yang lain, abaikan saja. Ndak usah dijawab. Aku janji akan segera menceraikannya dan menyelesaikan semuanya,” katanya lagi sambil mengelus lembut rambutku. Mataku panas karena menahan tangis. Tapi yang tersisa hanya suara serak dan tercekat.

“Iya… Ati-ati ya, Mas…”

Hati-hati dengan hatimu, Mas. Karena aku di sini telah menjaga hati sampai hampir mati, dari rasa nelangsa sebagai bahan cibiran, dari sakit hati sebagai istri simpanan.

Dan ketika ia membalikkan tubuh, sebelum langkahnya menjauh, relung-relung tubuhku berontak. Karena aku sudah mulai merindukannya lebih gila lagi.

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 21st 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: