Pertengahan Juni

Sudah enam bulan dia absen dari kedai kopi ini.

Lelaki 210.

2 cangkir Americano. Masing-masing diseduh 1 sendok krim. Tanpa gula.

Sebelumnya, dia selalu datang di pagi hari. Tepat jam tujuh lebih dua puluh menit. Sepuluh menit sebelum jam terakhir absen pagi.

Dulu, saat pertama kali dia datang ke kedai kopi ini, aku mengira cangkir kopi satunya dipesan untuk seseorang. Tapi tidak pernah ada yang datang. Dia meminum kedua cangkir 210 itu sendirian.

Kadang-kadang dia juga memesan dua buah croissant atau donat, duduk di sisi sebelah kanan, di dekat jendela dan deretan koran. Dari meja pemesanan tempatku bekerja, aku bisa dengan leluasa melihatnya membaca koran sambil lalu, sesekali membenarkan letak kaca mata dengan menggunakan jari telunjuk tangan kanannya. Lelaki itu menghentikan kegiatan membacanya ketika menyesap kopi sambil mengedarkan pandang ke jalan raya dari balik jendela kaca. Mengulum bibirnya sendiri, seperti tidak ingin menyisakan tetes kopi di bibirnya, dan kembali melahap kata-kata di koran yang dipegangnya.

Sesekali dia tampak seperti terburu-buru. Datang dengan setengah berlari, menyebutkan pesanan 210 dengan terengah-engah dan membenarkan kancing lengan kiri dengan lengan kanannya. Tidak memesan apa-apa lagi selain 210 yang dibungkus, lalu melesat pergi.

Tempat ia bekerja tepat berada di seberang kedai ini. Tapi aku tidak pernah tahu namanya. Name tag yang terkalung selalu diselipkan di saku kemeja. Entah karena dia merasa lucu memakai tanda pengenal itu kemana-mana atau memang tidak ingin diketahui namanya.

Jumat di pertengahan Juni. Hari ulang tahun Lelaki 210. Seharusnya ia mendapat potongan harga 50% untuk semua pemesanan karena ia adalah pemegang kartu member kedai ini. Tahun lalu ia memesan 210 ditambah satu tiramisu dan 1 croissant. Tahun lalu, ia berjanji bahwa di ulang tahun berikutnya ia ingin mencoba kopi selain 210.

Lamunanku buyar saat seorang perempuan yang tinggi semampai tiba-tiba berdiri di depan meja pemesanan. Segera kupasang mode default, senyum dan menyapanya, “Selamat pagi, Mbak. Silakan pesanannya?”

Perempuan itu membolak-balik buku menu. Aku memerhatikan wajahnya yang setengah menunduk itu. Cantik. Kulit wajahnya halus, putih seperti pualam, disapu riasan yang tipis dan segar. Rambutnya kecoklatan seperti rambut-rambut aktris Korea, lurus sepunggung kemudian membentuk spiral-spiral yang menggemaskan jika ditarik-ulur. Ia mengenakan long-coat berwarna merah marun, berkerah tinggi dengan aksen kancing yang rumit. Wow. Berkelas sekali. Entah kapan aku bisa berpenampilan seperti itu.

Kemudian perempuan itu mendongak, memandangku dan tersenyum. Aku balas senyumannya, senyum canggung dan salah tingkah karena dia tahu aku mengamatinya.

“Ehm… saya mau pesan menu baru ya… Hazelnut Mocha Frappe satu…” katanya.

“Oke. Hazelnut Mocha Frappe satu. Ada lagi, Mbak?” tanyaku sambil memasukkan pesanan ke dalam komputer.

Perempuan itu mengaduk-aduk isi tas Furla putihnya. Lalu mengambil sebuah kartu dan menyerahkannya padaku sambil tersenyum kikuk, “Seperti biasa, Mbak. Nggak lupa kan 2 cangkir Americano, masing-masing diseduh 1 sendok krim, tanpa gula? Hari ini saya ulang tahun. Diskon ya…” katanya sambil mengedipkan mata.

Tubuhku kaku. Mataku berlarian antara wajah si perempuan dan foto di kartu member yang ia serahkan padaku.

Lelaki 210.

***

 

Kalabahi – Alor – NTT

October 19th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: