Sekeping Cokelat Kering

“Sudah bisa melupakannya, Ji?” tanya Yajna. Tubuhku menegang.

“Kamu ngomong apa sih, Na?” kataku sambil tersenyum. Aku mengambil beberapa kripik singkong, lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut.

Tapi ada gemuruh di dadaku. Mataku menolak untuk memandang wajah Yajna. Pandanganku liar menatap kilau air di danau kampus ini. Airnya berwarna hijau ganggang. Pohon asam besar juga masih berdiri kokoh, rindang menaungi bangku kayu panjang yang kami huni.

Sekelibat bayangan wanita datang di pikiranku. Wanita yang pernah menjadi aktris utama di hatiku. Wanita penuh semangat yang ritme cintanya tidak bisa kutandingi. Ia melesat bagai petir, menyambar apa saja. Sedangkan aku hanyalah seonggok kayu basah yang belajar bagaimana caranya mengurai bara cinta dan rindu.

 “Atau… kamu belum bisa memaafkan diri sendiri?”

Kerongkonganku tercekat, seperti ada keripik yang tersendat di sana. Benar. Aku belum bisa memaafkan diri sendiri yang hanya tahu makan dan tidur, tapi tidak belajar meluweskan diri dengan hal-hal yang berhubungan dengan rasa. Sikapku yang seperti gunung es membentuk satu jurang di antara aku dan wanitaku dulu. Dan akhirnya, kami dipisahkan semesta. Ia pergi. Mencari hati yang lebih panas dan merona.

 “Melupakannya, mungkin bisa aku lalui. Tapi memaafkan diri sendiri, aku belum bisa. Ketakutanku bertambah parah. Sifatku yang kaku akan merusak jalinan yang lain. Selama ini, penyesalan pernah hilang, tapi ia terlalu sering datang lagi. Hatiku tidak lagi merah. Hatiku dingin, menyisakan kepingan cokelat yang kering. Dan aku tidak tahu bagaimana caranya menghangatkannya lagi.”

Selama ini, Yajna hanya menerima diamku dalam pertemanan kami yang konyol. Seakan berusaha memahami tanpa pernah menyuratkan sesuatu satu sama lain. Tapi hari ini, akhirnya ku sampaikan juga. Seakan ada jari-jari yang menuliskan sesuatu di kepalaku. Sebuah takdir baru. Akhirnya kuluapkan segala kegundahanku yang terendap selama bertahun-tahun. Ketakutan yang merajai rasa seperti sarang laba-laba.

Ada jeda di antara percakapan kami. Yajna menunduk, memainkan gelas plastik yang sudah kosong. Kakinya berayun-ayun ringan. Lalu kepalanya menengadah, bibirnya tersenyum, lalu ia memandangku.

“Tidak usah terburu-buru, Ji. Tuhan tahu kapan saatnya hatimu siap untuk melupakan, memaafkan, dan mulai mencintai lagi. Tidak akan ada terlalu cepat atau terlalu lambat. Semua akan pas pada masanya,” kata Yajna.

Aku menoleh, memandang Yajna, kutemukan wajahnya yang sumringah. Yajna pagi ini, begitu biru dengan dress selutut berbahan chiffon berwarna biru. Rambut ikalnya diikat ekor kuda dengan pita biru. Kontras sekali dengan jingga daun-daun asam kering yang betebaran di tanah.

“Ah… Aku suka sekali cokelat kering. Renyah dan membuat gemuruh di mulutku. Seperti choco chips yang aku taburkan di atas es krim,” ujar Yajna lagi sambil tersenyum lebar. Pipinya merah.

Bertahun-tahun aku bertanya, bagaimana caranya mengungkap rasa yang hangat. Tapi detik ini, aku tidak perlu berpikir lagi. Perempuan di sampingku sudah cukup hangat untuk kami berdua.

Yajna pagi ini, seperti kubangan cokelat panas yang melarutkan kepingan cokelat keringku dalam cinta dan rindunya. Yajna tidak memintaku membara. Yajna membagi apinya.

Yajna pagi ini, indah sekali.

***

Moru – Alor – NTT

October 18th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: