(Bukan) Malaikat Kecilku

Aku suka senja di pantai ini. Maukuru. Pantainya tidak berpasir, tapi berbatu, batu hitam yang permukaannya begitu halus namun tidak licin. Pohon-pohon kelapa berderet di pinggirnya, tinggi menjulang dengan buah kelapa yang menggoda untuk dibelah dan disesap airnya. Pantai ini menghadap ke barat laut. Dan lokasi favoritku adalah di sini, duduk tepat di ujung kiri pantai, dan menghadapkan tubuh ke barat. Maka akan tampak guratan tangan Tuhan yang indah atas nama senja.

Kamis sore ini, ombak cukup tenang. Riak-riaknya bekejaran bagai anak kelinci berbulu putih yang melompat-lompat. Angin membelai ringan. Kurasakan dinginnya saat menyatu dengan keringat sisa mencuci tadi siang. Mataku memicing, memerhatikan Juan yang berenang-renang di pantai. Kepalanya naik-turun seperti bola plastik yang mengambang di atas air. Sesekali Juan melambaikan tangannya.

“Mama…Mari turun berenang sudah…” teriaknya.

“Biar Mama duduk sa. Lu datang naik sudah, ada air kelapa neee… Lu mau ko tidak?” balasku. Tapi Juan menggeleng dan menceburkan tubuhnya lagi ke air. Aku tersenyum memandangnya.

Juan. Anak lelaki usia 8 tahun itu adalah satu-satunya yang tersisa di dunia ini. Setahun lalu, ayahnya mati ketika melaut mencari ikan di dini hari. Kapal kecil milik kami remuk ketika gelombang menghantamkannya ke karang. Tubuh suamiku berdarah-darah, terpental jauh ke lautan. Dan seekor hiu menyantapnya sebagai sarapan. Hiu laknat itu bahkan tidak meluangkan waktu untuk berpikir tentang nasib kami, betapa sulitnya meneruskan hidup tanpa kepala keluarga.

Juan. Malaikat kecilku. Satu-satunya hal yang aku inginkan adalah melihatnya bisa hidup layak seperti anak lainnya. Setidaknya dia harus sekolah sampai STM lalu bekerja dimana saja. Namun upahku sebagai buruh rumah tangga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, meski terpaksa harus makan sekali sehari. Ada bagian di hatiku yang perih seperti diiris sembilu saat harus menyeret Juan ikut bersamaku ke lembah hitam untuk pertama kali. Tapi harus seperti ini. Mamamu menahan sakit hingga berlapis-lapis, semua demi kamu, Juan. Bantulah sedikit saja. Sedikit saja.

Di langit barat. Matahari berhenti di antara awan, tampak seperti terbelah tepat di tengah. Ia memendarkan semburat jingga, memantul di atas air laut yang tenang. Tuhan… Bahkan saat hari ini diakhiri, Engkau memberikan lukisan yang begitu indah pada langit dan matahari. Tidak bisakah Engkau menganugerahkan sedikit saja indah itu bagi kami?

“Juan, naik sudah. Langit su mulai gelap. Kita harus siap-siap untuk nanti malam,” teriakku padanya. Juan segera meyudahi kegiatan berenangnya. Dia berjalan dengan setengah berlari ke arahkku sambil tersenyum lebar sekali. Bulir-bulir air menetes dari tubuhnya. Kulitnya yang hitam menyatu dengan gelap yang mulai turun di pantai ini, menyisakan barisan giginya yang putih. Aku segera menangkapnya dengan sebuah handuk lebar untuk membungkus tubuhnya.

“Mama, sebentar kita pi toko dulu eee. Lilin su habis jadi…”

“Holah… Korek ju ada habis.”

“Malam ini Juan pi mana?”

Jantungku berdegup kencang. Jari-jariku yang gemetar menggenggam erat bahu kecil Juan. Pikiranku melayang pada majikanku yang bajunya ku cuci tadi siang.

“Rumah ibu dokter Maretha. Dong ada terima gaji tadi siang.”

***

Moru – Alor – NTT

October 17th 2012

 

Keterangan:

Sebenarnya Bahasa Alor tidak terlalu sulit. Hanya saja kecepatan bicara orang Alor kadang-kadang di luar nalar. Berikut terjemahannya:

  • Mama… Mari turun berenang sudah: Mama, ayo berenang.
  • Biar Mama duduk sa. Lu datang naik sudah, ada air kelapa neee… Lu mau ko tidak?: Biar Mama duduk saja. Kamu naik sini, ada air kelapa nih. Kamu mau tidak?
  • Juan, naik sudah. Langit su mulai gelap. Kita harus siap-siap untuk nanti malam: Juan, ayo naik. Langit sudah mulai gelap. Kita harus siap-siap untuk nanti malam.
  • Mama, sebentar kita pi toko dulu eee. Lilin su habis jadi…: Mama, nanti kita pergi ke toko ya. Lilin sudah habis.
  • Holah… Korek ju ada habis: Iya. Korek juga habis.
  • Malam ini Juan pi mana?: Malam ini Juan pergi kemana?
  • Rumah ibu dokter Maretha. Dong ada terima gaji tadi siang: Rumah ibu dokter Maretha. Beliau terima gaji tadi siang.
  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: