Busur Panah Patah

Srikandi. Saja. Tanpa embel-embel. Srikandi.

Srikandi mematut dirinya di depan cermin. Cantik. Meski tanpa riasan wajah, Srikandi tetap cantik. Matanya lebar dengan iris berwarna coklat gelap. Alisnya lebat dan melengkung sempurna. Tulang pipinya tinggi, kemerahan seperti sedang malu-malu. Bibirnya penuh dan ranum merah jambu. Rambutnya yang hitam legam tergelung rapi dengan menyisakan sebuah jambul kecil di kepala bagian depannya. Hiasan rambutnya berupa mahkota berwarna emas telah terlepas dan kini teronggok pasrah di atas meja.

Dunia wayang mengenalnya sebagai perempuan sakti yang disegani. Ia tidak hanya duduk diam dan menangisi nasibnya, tapi memimpin pasukan di medan perang dengan gagah berani. Bahkan dengan panah Hrusangkalinya, ia mampu menaklukkan Bisma, kakek dari Pandawa dan Kurawa yang selama ini tidak terkalahkan. Tapi nyatanya, Srikandi hanyalah perantara dendam cinta dan rindu Dewi Amba yang hatinya bertepuk sebelah tangan terhadap Bisma. Takdir Srikandi bukanlah miliknya sendiri. Dewa Langit hanya menjadikannya sebagai penyambung rantai kisah yang belum selesai antara Amba dan Bisma. Sejak saat itu, bertahun-tahun dia harus bersanding dengan gandewa yang dibawanya kemana-mana. Srikandi tersenyum menyeringai, seolah-olah mentertawai nasibnya, “Bagaimana mungkin ada ksatria yang sudi mencintai perempuan yang membawa-bawa senjata di punggungnya?”

Ah, Dewa memberikan kejayaan bagi Srikandi dalam eksistensi diri, tapi tidak untuk dicintai. Srikandi mengutuk dirinya dalam dunia percintaan. Ia terlalu sombong menentukan harganya. Jika saat itu dia langsung menerima pinangan Arjuna, dia tidak akan menyesali diri ketika menjadi istri yang kesekian. Di medan perang, Srikandi boleh menang atas Bisma, tapi untuk urusan hati dan cinta, ia harus mengaku kalah telak dari Sumbadra, seorang perempuan lembut dan lemah gemulai dari Kerajaan Surasena. Sumbadra mampu memberikan Arjuna keturunan, Srikandi tidak. Anak Sumbadra, Abimanyu, melangkahkan kaki di medan perang dengan bangga dan penuh kehormatan, sedangkan Srikandi harus mengakhiri hidupnya dengan merana di tangan Aswatama.

Dunia lupa, bahwa kadang Srikandi lelah digadang-gadang sebagai ksatria perempuan yang kuat. Bagaimanapun, Srikandi adalah perempuan. Perasaan ingin dipuja dan dicintai tetap lebih kuat daripada harus menumpahkan darah musuh-musuh. Sejatinya, hati Srikandi berdesir setiap kali harus menghunus panah. Bertahun-tahun belajar bela diri dan memanah tidak lantas membuat hatinya menjadi tumpul. Srikandi semakin tersiksa setiap kali panahnya mengujam dan membunuh musuh-musuhnya. Tujuh belas hari menghadapi Kurawa di Bharatayudha tidak membuatnya hidup menjadi perempuan yang bangga. Ada bagian dalam hatinya yang hanya ingin berpikir tentang betapa hebatnya dipuja dan dicintai, menjadi perempuan satu-satunya dan beranak-pinak, lalu bahagia tanpa sedikitpun ternodai anyirnya bau darah di medan perang.

Srikandi mengamati bayangan dirinya yang sedang menyorotkan mata lelah dan tampak ingin berhenti. Ada titik air mata yang tidak pernah terlihat oleh orang lain. Air mata yang disimpannya sendiri. Ia mempertanyakan eksistensi dirinya. Sebenarnya untuk apa dia ada jika harus hidup begitu penuh luka?

“Bukankah rahasia Dewa pasti akan terbuka pada waktunya?” sebuah suara di dalam kepalanya bergaung berulang-ulang.

“Aku telah melewati perang berkali-kali, tapi takdirku tetap sama. Mati. Lalu aku harus menunggu rahasia yang mana lagi?”

“Mungkin, rahasia itu bukan tentang apa yang akan terjadi. Tetapi apa yang kamu maknai dari perjalanan hidup, Srikandi.”

“Tidak mengertikah bahwa aku lelah menjadi peran pembantu dalam perang melawan Kurawa, menjadi penyambung dendam Amba, menjadi orang kesekian di hati Arjuna? Lalu pada akhirnya aku harus tiada. Garis mana yang harus aku maknai?”

“Bukankah semua makhluk memang diciptakan sebagai bagian dari mata rantai kehidupan? Dan bukankah semua makhluk dihidupkan untuk mati?”

“Jangan mulai menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!”

“Dewa sudah menakdirkanmu menjadi senopati penakluk Bisma sejak engkau mengalungkan rangkaian bunga teratai di Pancalaradya yang telah dikutuk oleh Dewi Amba di lehermu sendiri. Tidak ada yang tahu mengapa Srikandi kecil melakukannya. Bukankah itu sudah menjadi bagian dari takdir?”

“Aku ingin Dewa mengubah takdirku sebagai ksatria. Aku ingin menjadi perempuan biasa saja. Apakah permintaan itu berlebihan?”

“Lalu apakah dengan Dewa mengubah takdirmu, maka pertanyaan-pertanyaan tentang penciptaanmu akan hilang?”

Srikandi gemetar. Tentu saja pertanyaan itu akan hilang.

“Tapi akan ada pertanyaan yang lain. Dalam menjalani sebuah peran, tidak ada jalan yang sempurna, tidak ada jalan yang sama persis dengan apa yang kita inginkan.”

Srikandi mencengkeram kepala dengan kedua tangannya yang telah basah oleh keringat. Jantungnya berdegup kencang. Percakapan dengan dirinya sendiri membuatnya lebih lelah daripada berperang. Tetapi Srikandi tahu, akan selalu seperti ini. Tidak ada akhir yang bahagia untuk Srikandi.  

Ia menggerakkan kepala dan melihat ke kaki meja, ada sebuah gandewa, lengkap dengan anak panah yang selama ini tak pernah lepas dari punggungnya. Busur itu terbuat dari kayu pohon ek yang lentur dan liat, halus namun kuat. Di beberapa bagian telah tergores dan pudar warnanya. Jari-jari Srikandi meraba setiap lekuk busur dan anak panah itu. Ada perasaan yang tidak mampu digambarkan Srikandi. Perasaan terluka setiap kali anak panahnya melesat ke dada lawan-lawannya. Ia tidak sanggup menahan luka itu lebih lama. Srikandi menangis.

“Lukamu adalah anak dari ketidakrelaan terhadap hidup. Jalani saja tanpa bertanya. Tapi bukalah hati dan mata untuk bisa melihat. Jawaban itu akan muncul tanpa pernah kita sangka dari mana atau siapa atau bagaimana.” suara itu bergaung lagi dalam kepalanya. Tapi Srikandi sudah terlalu lelah dan jenuh. Karena bagaimana pun ia menjalani takdir sebagai Srikandi, jawaban itu tidak kunjung datang.

Srikandi berlutut di hadapan senjata kebanggaannya itu. Dalam dunia romantisme wayang, perempuan yang kuat tidak pernah bisa memenangkan hati laki-laki. Maka sudah cukup sampai di sini. Biarlah esok, hari ke delapan belas Bharatayudha akan berlangsung tanpa dirinya. Biarlah Bisma tetap berperang tanpa terluka sampai akhirnya memutuskan sendiri kematiannya setelah menyaksikan kekalahan Kurawa. Biarlah Aswatama mengambil nyawa Banowati saja, perempuan genit yang selama ini menggoda Arjuna. Sudah saatnya ia gantung busur dan menjalani hidup sebagai perempuan biasa yang tidak pernah lagi mengenal darah dan perang. Ada hati yang harus diperjuangkan. Hati itu bukanlah Arjuna yang enggan berjuang demi dirinya meski Srikandi telah melindungi Arjuna dengan berdiri di depannya saat harus berhadapan dengan Bisma. Hatinya sendiri. Srikandi ingin melindungi hatinya sendiri. Ia akan mengambil jalan lain dan lari dari takdir Dewa Langit.

Srikandi menggenggam erat gandewa kebanggaannya. Lalu berdiri dengan tubuh yang gemetar. Matanya nanar, memandang busur itu untuk yang terakhir kalinya. Panah Hrusangkali bisa menaklukkan Bisma, tapi tidak hati Arjuna. Busur itu dibantingnya. Lalu Srikandi menghantamkan kursi kayu ke arah busur panah yang lunglai menunggu nasibnya. KRAAAK! Maka habislah sudah. Srikandi hancur menjadi abu. Dan menghilang.

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 13th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: