Post Concussion Syndrome (Studi Kasus)

Pada saat SMA, saya mengikuti ekstra kurikuler olah raga bola voli. Bukan karena saya minat pada voli. Tapi ingin ada kegiatan rutin tiap sore setidaknya seminggu sekali. Bahkan setelah ikut ekskul voli, saya pun tidak lantas menjelma menjadi atlit voli. Kemampuan saya sama seperti sebelumnya, masih belum bisa menyervis bola dengan benar. Bhahahahaks.

Biasanya untuk menuju ke sekolah, saya menggunakan sepeda kayuh, berdua dengan sahabat saya bernama Rika. Tapi sore itu berbeda. Saya memberanikan diri untuk mengendarai sepeda motor karena sudah memiliki SIM C.

Sebagai abege yang baru saja disahkan hukum sebagai warga negara dan diijinkan mengendarai motor, hati saya begitu bangga mengarungi jalanan. Dengan percaya diri, saya menjemput Rika ke rumahnya, lalu berangkat ke sekolah. Saya mengendarai dengan cukup pelan, 40 KM/jam. Bisa dikatakan, saya lancar mengendarai motor masih dalam hitungan bulan, jadi tentu tidak ingin ambil risiko.

Namun rupanya kemampuan koordinasi antara tangan, kaki dan otak masih kurang bagus. Pada sebuah tikungan, dari arah berlawanan ada seorang bapak mengendarai sepeda kayuh. Demi menghindari bapak tersebut, saya mengarahkan setir motor ke arah kiri. Namun rupanya kaki kanan lupa menginjak rem, malah tangan kanan sedikit melesatkan laju motor. Motor menabrak trotoar dan kami terjatuh.

Entah apa yang terjadi, saya tidak begitu ingat. Hanya samar-samar terdengar orang ramai mengelilingi kami, lalu tubuh saya digotong ke pinggir. Orang-orang ribut menyuruh saya minum, saya merasa pusing. Mata saya menangkap bayangan perempuan yang masih menggunakan helm berdiri di sebelah saya. Wajahnya tampak cemas. Tapi saya merasa lega karena Rika tidak apa-apa.

Seorang laki-laki paruh baya berkata pada Rika, “Mbak, kamu aja yang bawa motornya. Temenmu kayanya kesakitan.”

Rika memandang bapak itu dengan tatapan kosong. Saya pun berpikir, tidak mungkin. Rika tidak bisa mengendarai motor.

Saya lalu bangkit. Entah kenapa, saat itu saya sama sekali tidak merasa bahwa tubuh saya sakit. Saya meraih helm yang tadi telah dilepas oleh orang-orang di kerumunan. Memasangnya kembali ke kepala, dan menguncinya, “Saya tidak apa-apa, Pak. Biar saya saja yang mengendara.”

Saya tahu Rika ragu-ragu. Tapi saya terlalu malu dan takut tiba-tiba polisi datang dan membuat masalah ini menjadi semakin rumit. Lalu sejak saya menyalakan motor, ingatan saya terhapus. Saya hanya tahu bahwa tiba-tiba saya tengah berbaring di ruang UKS sekolah.

Saya mengerjap-ngerjapkan mata. Basah. Rupanya saya habis menangis. Tapi bagaimana tiba-tiba ada di sini?

Rika memunculkan wajahnya di depan saya, “Noy, inget siapa aku?” Hah? Pertanyaan macam apa itu? Saya hanya menimpali dengan tertawa. Lalu berusaha bangkit dengan melawan pusing di kepala. Rika menyodorkan segelas teh hangat pada saya.

“Noy, serius. Inget ndak aku ini siapa?” kata Rika sambil menggoncang-nggoncangkan bahuku.

“Hehehe… Kamu kenapa sih?” jawabku sambil menyesap sedikit teh hangat.

“Jawab dulu! Ayo, namaku siapa?”

“Rika! Puas?” kataku sambil meledek.

“Alhamdulillah… Rupanya kamu ndak amnesia, Noy. Aku tadi takut banget kamu bersikap aneh,” katanya. Wajahnya tampak lega dan berbinar.

“Hah? Aneh gimana?”

“Masa ya, tadi sesampai di sekolah, abis markir motor, kamu jalan ngujlug ke lapangan voli trus bengong. Trus tiba-tiba nanya ke aku, ‘Rik, tadi kita ke sini naik apa?’ ‘Siapa yang nyetir?’ ‘Trus motorku diparkir dimana?’ Trus kamu pingsan. Gimana aku ndak takut, Noy? Aku pikir kamu amnesia kaya yang di sinetron-sinetron itu!”

Saya merasa seperti dunia berhenti berputar. Benarkah? Bagaimana bisa saya benar-benar lupa kejadian yang baru saja terjadi? Bagaimana bisa saya melupakan sesuatu yang saya kerjakan sendiri? Ada yang salah dari otak saya saat mengalami benturan tadi. Tapi apa?

Pertanyaan ini tidak terjawab sampai pada akhirnya saya belajar mengenai Trauma Capitis. Cerebral Concussion. Ah keren sekali namanya.

Cerebral concussion

This is a clinical diagnosis and is manifested by temporary dysfunction that is most severe immediately after injury and resolves after a variable period. It may be accompanied by autonomic abnormalities including bradycardia, hypotension and sweating. Loss of consciousness often, but not invariably, accompanies concussion. Amnesia for the event is common and varying degrees of temporary lethargy, irritability and memory dysfunction are hallmarks. [Bailey Surgical Textbook]

Post Concussion Syndrome bukanlah diagnosis, hanya kumpulan gejala yang membentuk sindrom. Beberapa literatur menyebutkan bahwa dibutuhkan minimal 3 gejala yang muncul, antara lain nyeri kepala, pusing, kelelahan, mudah marah, gangguan pada konsentrasi dan memori, insomnia dan toleransi yang rendah terhadap cahaya dan kebisingan.

Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi saya sesaat setelah kecelakaan itu. Yang jelas saya merasa pusing, serta tubuh yang terasa lemas dan berkeringat. Dan saat mengingat bagaimana saya dikelilingi oleh kerumunan orang yang tidak dikenal, rasa pusing itu semakin menjadi. Apakah terjadi bradikardi atau hipotensi, saya pun tidak pernah tahu. Hanya saja saya merasa takjub, jadi seperti ini rasanya amnesia. Rasanya konyol melupakan hal yang saya lalui saat saya sadar penuh.

Post-concussion syndrome can accompany head trauma and consists of headaches, irritability, depression, lassitude and vertigo. It is more frequent after minor head trauma due to people trying to return to work too quickly. [Bailey Surgical Textbook]

Benar saja. Saat itu saya memaksakan diri untuk kembali mengendarai motor tanpa memberikan kesempatan tubuh untuk pulih. Rasanya ingin cepat-cepat pergi dari kerumunan yang membuat kepala saya semakin pusing. Padahal setelah dipikir-pikir, tindakan saya ini sangat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Beruntung saya tidak pingsan lagi di jalan. Ngeri sekali jika saya pingsan saat mengendarai motor di jalan raya Soekarno-Hatta Probolinggo yang ramai oleh truk yang berlalu lalang.

Seharusnya, kasus yang seperti ini harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan penunjang karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi di dalam tubuh seseorang. Dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa imaging kepala, bisa berupa CT scan atau MRI untuk menyingkirkan adanya kemungkinan keabnormalan yang lebih berat pada kepala. Beruntung saya tidak mengalami cedera kepala yang lebih berat dari ini *sigh*.

Pada dasarnya, pasien-pasien dengan post concussion syndrome tidak membutuhkan penanganan khusus. Namun pada kasus yang lebih berat, seperti perubahan kognitif, kecemasan atau sikap mudah marah yang berkepanjangan, maka dibutuhkan psikoterapi. Oh, sifat saya yang meledak-ledak itu sebenarnya sudah dimulai sejak brojol, dan sepertinya tidak ada pengaruhnya dengan kejadian ini. Terima kasih.

Sampai saat ini, saya masih belum bisa mengingat detik setelah saya mengendarai motor hingga terbangun di UKS sekolah. Yang saya ingat adalah bagaimana ketakutan saya saat mau tidak mau harus mengaku pada ibu ketika saya benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur karena badan terasa remuk karena ada lebam di lengan kiri dan paha hingga betis bagian kiri yang sangat ngilu di keesokan paginya. Dan saya benar-benar mengingat bagaimana sumringahnya saya saat bapak datang dari luar kota membawa novel Harry Potter and The Goblet of Fire sebagai teman saya beristirahat di rumah. Ehehehe ^^

Demikian studi kasus Post Concussion Syndrome dari saya. Semoga dapat dijadikan manfaat dan bisa diambil hikmahnya. Setidaknya hikmah yang bisa diambil adalah jangan membuat SIM dengan cara ‘tembak-menembak’. Tembak hati gebetan saja. Sekian dan terima kasih sayang (kecup)

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 12th 2012

  1. uwow! jadi gitu ya amnesia… ya bener2 ga bisa maksain untuk nginget. untuuuuuuung ya, cuma sebentar. dan saya juga ga bisa ngebayangin kalo saya adalah Rika saat itu. pasti dia kebingungan dan ketakutan setengah mampus.😀

    • Iya, Mbak Isti. Sampe sekarang saya juga ndak inget apa yg terjadi. Ya sudahlah x))
      Terima kasih sudah mampir. Semangat ya njuri SIMnya😉

  1. June 30th, 2013

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: