Santri Kucing

Pernah denger cerita tentang ‘Santri Kucing’?

Jaman dulu, ada sebuah sekolah santri yang dipimpin seorang kyai. Mereka melakukan kegiatan belajar mengajar tiap hari di sebuah surau.  Sampai pada suatu hari, kyai berkata, “Masukkan kucing yang berada di luar surau ke dalam karung. Lalu buanglah.” Santri2 bingung, kenapa tetiba pak kyai nyuruh-nyuruh gitu ya… Tapi santri-santri ini ndak ada yang berani bertanya. Mereka manut, lalu segera memasukkan kucing ke dalam karung. 

Lima hari berikutnya, sang kyai menyerukan perintah yang sama pada santri-santrinya. Dan mereka selalu menurut tanpa bertanya. Pada akhirnya, santri-santri ini selalu memasukkan kucing ke karung lalu membuangnya sebelum mereka belajar. Kegiatan itu telah menjadi kebiasaan mereka. Selalu begitu.

Sampai pada akhirnya, kyai tersebut meninggal dunia. Meninggalkan santri-santrinya dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sempat terjawab. 

Suatu hari, janda kyai datang berkunjung ke surau, memberikan sepiring pisang goreng untuk santri-santri almarhum suaminya. Janda kyai melihat santri-santri itu memasukkan seekor kucing ke dalam karung. Lalu ia bertanya, “Untuk apa, anak-anakku?” 

Salah seorang santri menjawab, “Kami tidak mengerti, Nyai. Kyai selalu menyuruh kami melakukan ini tetapi tidak pernah mengatakan alasannya.” 

“Kalian mengambil kucing itu dari mana?” tanya janda kyai itu lagi.

Santri menjawab, “Dari desa sebelah, Nyai.” 

Janda kyai kembali bertanya, “Sudahkan kalian bertanya?”

Mereka menggelengkan kepala. ”Bagaimana kalian tau jika tidak berani bertanya. Kalian ingin tau mengapa suamiku meminta kalian berbuat demikian?” kata janda kyai.

“Dengarlah. Suamiku menyuruh kalian melakukannya, karena pada saat itu, kucing-kucing itu mengeong terlalu keras sehingga mengganggu belajar kalian.” 

Santri-santri itu berpandangan dengan hampa. Selama ini mereka melakukan sesuatu hal yg sia-sia. Bahkan sampai mengambil kucing desa sebelah Itulah yang terjadi saat kita melakukan sesuatu tanpa konfirmasi dan tidak mengetahui alasan yang jelas dan logis dari sebuah keputusan.

Oleh karena itu, janganlah menjadi pengikut yang taklid buta, mengikuti perintah atau anjuran tanpa tahu latar belakangnya. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sehingga kita mantap melaksanakannya. Bukan berbuat tanpa ada dasarnya.

 

Moru – Alor – NTT 

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: