Bahagia Bersama Bahagiamu

goodbye

Apa kabar?

Biasanya sebuah surat diawali dengan dua kata itu. Dan terus terang, aku tidak tahu lagi bagaimana memulai sebuah surat. Sama bingungnya dengan bagaimana mengawali obrolan saat bersama kamu. Karena entah sejak kapan, kamu adalah sipir penjara bagi aksara, menyisakan kata yang terbata-bata.

Mungkin kamu tidak perlu tahu, tapi aku tetap menuliskan, bahwa aku di sini baik-baik saja. Skripsiku memang berantakan karena ada ketidaksesuaian antara metode penelitian, data dan analisis. Dua hari lalu aku menangis sendirian di dalam kamar kos, meratapi nasib mahasiswi yang harga dirinya dibuang bersama lembar-lembar penelitian yang telah dibuat selama berbulan-bulan. Aku yakin kamu juga sedang melaluinya. Aku dengar dari teman-temanmu, bahwa kamu juga sedang menghadapi masalah yang sama. Dan pada surat ini aku tuliskan sebuah harapan yang belum sempat terucapkan, betapa menyenangkan jika kita bisa melewatinya bersama.

Kemarin, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Mengemasi lagi semangat yang sudah mulai luntur, menjejaki lagi jalan dimana cita-cita itu dimulai. Maka aku tapaki lagi jalan berbatu di depan sekolah menengah kita. Bangunan itu tetap saja usang, dengan deretan gazebo yang sepertinya sama sekali belum pernah dipugar dengan payungnya yang masih bercat warna-warni. Gazebo di depan ruang kelasku dan kelasmu masih ada di situ. Di dinding bagian bawah masih ada nama dan tanda tanganmu, dengan tulisan, “Aku pergi dulu ya, Nien.” Tulisan itu kamu buat dengan spidol marker saat hendak bertugas sebagai pasukan pengibar bendera di ibukota. Aku tersenyum geli membacanya, mengingat lagi wajahmu yang penuh jerawat dan tertawa. Perlahan aku meraba tulisan itu. Ujung-ujung jariku bisa merasakan sepinya hari-hariku tanpa kamu yang selalu meminjamkan buku PR ketika aku terlalu malas mengerjakan, siulan nakal saat diam-diam kamu keluar dari kelasmu dan mengintipku yang tertidur di kelasku, atau kertas kecil dengan tulisan-tulisan isengmu yang sengaja kamu selipkan di bukuku. Kamu harus tahu, bahwa ada rindu di syaraf peraba, yang membangkitkan lagi kenangan-kenangan tentang kamu.

Dan pagi tadi, saat aku berjalan-jalan pagi di sekitar rumahmu, aku bertemu dengan ibumu. Seperti biasa, wajahnya ramah, senyumnya merekah, kalimat-kalimatnya dipilih sehingga terdengar begitu indah. Aku hanya pasrah saat beliau menggenggam tanganku begitu lama, seakan besok aku sudah jadi anaknya. Jujur, aku bingung bagaimana mengatakannya. Memberitahu beliau bahwa semua sudah berakhir.

Minggu lalu, saat kamu datang ke kota tempatku kuliah, dan tiba-tiba membicarakan tentang masa depan kita, tidakkah kamu merasa bahwa semua ini terasa tidak benar? Selama hampir empat tahun, kerinduanku hanya mengambang di atas awan tanpa ada hujan rindu kiriman dari kamu. Bahwa selepas lulus SMA, kita hanyalah dua orang asing yang berkutat dengan dunia masing-masing. Hampir empat tahun, aku hanyalah perempuan yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak ada telepon atau pesan singkat. Atau kunjungan ke rumah yang seharusnya di liburan semester kita bisa bertemu. Semua harus aku tanyakan pada teman-temanmu. Semua harus kumulai lebih dulu. Dalam pandangan jarak kamu tiada. Dalam dekapan rindu pun kamu tiada tersisa.

Kata orang, cinta bisa melakukan segalanya. Dia bisa menembus jarak dan waktu yang berkoalisi menyergap seseorang dengan rindu. Dia bisa meruntuhkan dinding perbedaan dengan memeluk hati manusia dengan sayapnya yang diliputi bilur-bilur pemahaman. Dan dia bisa menunggu, mungkin sampai selamanya.

Tapi cintamu kurasa begitu berbeda dari masa kita masih SMA. Berulang kali aku bertanya pada diri sendiri, mengapa cinta bahkan tidak menggerakkan hatimu untuk sekedar menanyakan kabarku. Cinta tidak bisa melepaskanmu dari kesibukan dan kubangan buku-buku tebal yang membosankan. Cinta, bagimu, hanyalah kata tanpa berbuat apa-apa untuk kita.

Hatiku bukan kaktus yang bisa tetap tumbuh di gurun pasir dengan curah hujan kurang dari 250 mm per tahun. Pengabaian dan ketidakpedulianmu terhadap jarak dan waktu menjadikanku sebagai perempuan yang terbiasa tanpa ada kamu. Kini aku adalah hati yang terbiasa tidak memendam rindu. Aku adalah rasa yang perlahan terkikis waktu. Cintaku, tidak bisa lagi menunggu.

Maka jangan marah jika inilah jawabanku atas pinanganmu seminggu yang lalu. Aku terharu mendengar bahwa rasamu sama dengan yang dulu. Tapi jangan paksa aku untuk percaya. Mungkin aku bukan hati yang bisa kamu cintai sepenuh hati hingga mengabaikan sibuknya waktu. Aku bukan hati yang kamu rindukan di sela-sela lembaran buku. Aku bukan hati yang kamu perjuangkan tanpa perlu aku minta. Mungkin aku bukan hati yang bisa menunggu lebih lama. Empat tahun aku menyimpan sembilu, maka ini saatnya aku melemparnya jauh-jauh untuk bisa jalan terus.

Demikian surat pembalasan cinta dariku. Bersama surat ini, kukirimkan juga sebongkah semangat agar tugas akhirnya rampung tanpa kendala. Jangan khawatirkan skripsiku. Kini bara semangat di hatiku mulai berkobar lagi. Seperti yang pernah aku sampaikan padamu, pulang adalah terapi kejiwaan yang mampu mengembalikan lagi gairah, usaha dan perjuangan terhadap sesuatu yang kita anggap berharga.

Semoga kita berdua, pada akhirnya, akan menemukan seseorang yang bisa saling merindukan meski hanya dengan pertanyaan, “Apa kabar?” Semoga, satu hari nanti, kita bersanding dengan seseorang yang mau berjuang dan diperjuangkan. Kita harus sama-sama bahagia. Jangan lupa berjabat tangan dan tersenyum saat kita bertemu. Dan sampaikan salam hormatku untuk ibumu.

 

Dari Masa Lalu Yang Turut Bahagia Bersama Bahagiamu

 

PS: Jangan lupa datang ke acara reuni SMA kita di akhir minggu. Aku juga pasti akan datang dengan pacarku yang baru.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: