Kafelulang Ceria

Kamis, September tanggal 13 tahun 2012.

Puskesmas Moru, dengan wilayah kerja Alor Barat Daya melakukan kegiatan puskesmas keliling (pusling) bulanan ke sebuah daerah bernama Kefelulang. Menurut dokter PTT yang sudah hampir tiga tahun di Moru (drg. Nina Gunawan), untuk menuju Kafelulang, kami harus menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam. Medannya cukup sulit. Dan pasien pasti cukup banyak, mengingat jauhnya daerah Kafelulang dengan pusat pelayanan kesehatan Moru.

Sehari sebelumnya, saya diberi informasi bahwa kami akan berangkat pukul 7 pagi. Selepas sholat Shubuh, saya segera menyiapkan sarapan dan bekal makan siang. Menikmati secangkir kopi penggebrak kebiasaan lama yang telah dicampur dengan satu sendok teh kopi Bali.

Jam setengah delapan, semua personel sudah siap. Dan yang membuat saya terkesiap adalah ambulans puskesmas yang sudah tidak lagi dalam kondisi prima dipaksa mengangkut 11 orang. Delapan orang di belakang, satu supir, satu duduk di samping supir, dan satu lagi duduk di atas kap mobil sebelah kiri. Mobil ambulans adalah Isuzu Panther (entah keluaran tahun berapa) yang sudah berkarat di sana-sini. Pintu belakangnya harus dibuka dengan menggunakan obeng. Ada benda di bagian bawah mobil yang terlepas jika goncangan mobil terlalu kuat. Saat itu juga saya langsung berdoa, mendengungkan ayat kursi berulang-ulang, semoga Tuhan melindungi perjalanan kami ke puncak gunung, menuju Kafelulang.

Sebelumnya, saat saya masih bertugas di puskesmas Kabir di Pulau Pantar, saya pernah melakukan pusling ke daerah yang juga cukup sulit, Helangdohi. Dengan menggunakan mobil ambulans puskes yang lebih menyedihkan, kami menuju puncak bukit dengan badan yang terlempar-lempar di dalam ambulans karena jalan yang berbatu dan menanjak cukup ekstrim. Jalan menuju Kafelulang ini relatif lebih baik daripada jalan menuju Helangdohi. Tapi tetap sama menantangnya. Bayangkan anda di sebuah wahana yang sempit dan saling berhimpit bersama tujuh orang lainnya, melewati jalan tanpa aspal dan berbatu, yang menanjak dengan kemiringan hampir 90 derajat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana deg-degannya Om Boma, laki-laki yang duduk di atas kap mobil ambulans. Badannya terlihat oleng ke kanan dan ke kiri, dengan tangan kanan berpegangan pada wiper kaca mobil. Ngeri setengah mati. Ada daerah landai yang dulunya adalah sungai dan kini airnya sudah kering. Di atasnya ada sebuah jembatan kayu yang mungkin sudah lapuk dan mengkhawatirkan. Dan untuk menuju ke seberang, kami harus melewati satu jembatan kayu tersebut. Ada pula jalanan tanah yang berbatu, memutar menanjak hampir 360 derajat. Dan beruntung, Pak Herry adalah seorang pengemudi yang hebat. Setidaknya, perasaan saya sedikit tenang, meski tidak sepenuhnya begitu.

Udara di Kafelulang cukup sejuk, tapi berdebu butiran kapur. Tanahnya merah, seperti bata yang selesai dibakar. Ada sebuah pondok kecil dengan dua orang perempuan berusia  40an sedang menyiapkan timbangan gantung dan meja-kursi. Saya mendekat ke arah dua kader puskesmas ini. Lalu bertanya, “Mama, jika ingin buang air kecil dimana eee?” Meski sebelum berangkat aku sudah buang hajat, tapi secangkir kopi dan perjalanan bagai wahana halilintar tadi membuat vesika urinariaku penuh dengan cepat. Mereka berpandangan, bingung. Nah loh. Jangan-jangan ndak ada kamar mandi atau MCK. Firasatku mulai ndak enak.

Lalu salah satu ibu mengajak saya ke sebuah rumah bambu yang berada tepat di sebelah pondok tadi. Pekarangannya landai, menuju ke jurang. Banyak pohon nangka di sana. Lalu ibu tadi berbicara dengan seseorang di dalam rumah menggunakan bahasa asli mereka. Kemudian orang yang berada di dalam rumah tersebut keluar dengan membawa seember air dan sebuah gayung. Ibu kader mengantar saya ke sebuah bilik yang terbuat dari anyaman bambu, dengan ukuran 1 m2, tanpa atap, tanpa pintu dan hanya beralaskan tanah. Jika menengok ke atas, maka tampaklah barisan tim pusling puskes yang menyiapkan perlengkapan di pondok tadi. Dan nantinya, urine saya akan langsung terserap di tanah. Hatiku mencelos. Bagaimana bisa buang hajat di sini.

Lalu tiba-tiba, Kak Edi, seorang perawat berteriak dari atas, “Ibu ada bikin apa di bawah?” Lalu saya menjawab dengan setengah berteriak, “Mau pipis! ” Kak Edi tertawa dengan setengah bercanda, “Aduh Ibu terlalu banyak minum air ko tidak…” Aku memandangnya dengan pandangan mengancam. Seperti tahu maksudku, dia dan personel lain menghilang dari pandangan. Pengertian sekali.

(TKP buang hajat di balik pohon nangka)


Lalu masalah selanjutnya adalah pintunya bagaimana? Saya jongkok di samping ember, mengira-ngira apa yang terjadi jika saat itu saya membuka celana dalam kondisi pintu bilik yang tidak ada. Aku menoleh ke ibu kader, memandangnya dengan tatapan memelas. Kemudian ibu kader mengambil selembar kain lebar dari jemuran dan memasangnya sebagai penutup bilik. Yak. Tidak apalah. Masih untung ada air. Lalu hasratku tertunaikan dengan khidmat.

Sebagian besar permasalahan kesehatan masyarakat di Kafelulang memang berkaitan erat dengan rendahnya pendidikan, ekonomi dan sosial-budaya. Penyakit infeksi yang dipicu oleh kurangnya sanitasi, penyakit menular seksual karena maraknya seks bebas sebelum pernikahan, penyakit yang dipicu oleh beban kerja mereka yang sebagian besar adalah petani, dan penyakit degeneratif karena perilaku merokok dan minum alkohol sejak usia muda.

Sedih rasanya melihat anak-anak dengan mucus kuning kental di hidung, perut buncit dan kaki kurus berkoreng itu. Anak-anak yang lebih besar, seusia SD, biasanya menggendong/menggandeng satu adiknya yang masih balita karena ibunya masih menyusui adiknya yang masih bayi. Beberapa ibu yang usianya sudah lebih dari 40 tahun, bahkan mendekati 50 tahun, terlihat menyusui bayi dengan payudara yang menggelambir dan terlihat kosong.

Begitu banyak pekerjaan rumah bagi para stakeholder di bidang kesehatan. Mulai dari jangkauan fasilitas kesehatan yang cukup jauh, transportasi ambulans yang jauh dari kata layak (dan sudah seminggu ini ambulans sama sekali tidak bisa digunakan. Merujuk pasien harus meminjam angkutan umum), ketersediaan obat yang tidak ditangani dengan baik (bahkan amoxicillin dan parasetamol pun sempat kosong), sampai edukasi terhadap kepedulian kesehatan diri dan keluarga.

Maka bersyukurlah kita yang lahir dan hidup di tanah dengan peradaban pendidikan dan ekonomi yang cukup, bisa  komplain di Twitter tentang listrik yang bolak-balik padam, meributkan iPhone 5, antiknya akun @jajang_nandar, posting blog di cerpen tanpa kendala koneksi yang lelet, mengeluhkan Blackberry Messanger yang macet atau adu argumen dengan para pengirim Broadcast Message. Jangan berpikir jauh tentang Ethiopia. Tengoklah saudara setanah air yang masih terbelakang seperti ini.

Jam 2 siang, pelayanan pusling selesai. Para ibu dan anak-anak sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Drg. Nina juga sudah kembali dari kegiatan Unit Kesehatan Gigi Sekolah di salah satu SD. Sebelas orang kembali berdesakan di dalam ambulans bobrok yang meluncur lebih cepat karena jalanan yang menurun tajam. Ah… Saya lupa menyampaikan, bahwa rem ambulans ini tidak berfungsi dengan baik. Tapi jangan khawatir, dengan munculnya blog ini, saya memastikan bahwa kami bersebelas telah kembali dengan selamat ^^ (Alhamdulillah Ya Allah…)

 

Moru – Alor – NTT

October 3rd 2012

    • apriyanto
    • February 26th, 2013

    Klo pas dinas di pulau pantar nginapnya dimana bu?

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: