Embrio


“Saya berjanji akan menghormati kehidupan insani sejak saat pembuahan”


Aku melayang-layang di sebuah ruang yang gelap. Oh, ternyata mataku hanya mampu tertutup. Ruang ini dipenuhi oleh cairan yang lembut, seperti sesuatu yang mampu menyatu dengan kulitku yang seperti beledu. Ia menjagaku yang sudah pandai berenang. Ke atas, bawah, kanan, kiri. Sebelumnya, aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa berenang sebebas ini. Aku menikmati setiap jelajah di samuderaku yang hangat dan luas. Bermain-main seperti manusia berinsang. Aku tidak takut tenggelam atau tersesat. Samudera ini luas, tapi ada tali cukup panjang yang selalu menuntunku untuk pulang. Aku tidak takut pada ombak. Aku tidak takut membentur karang. Aku tidak takut apapun. Ada kamu yang menjagaku.

Usiaku bertambah. Tubuhku memanjang. Samuderaku kian menyempit menjadi lautan yang terang. Kelopak mataku telah berhasil membuka indera sekarang. Tanganku mulai belajar menggapai. Telingaku mulai mendengarkan suara-suara. Nyanyian favoritku adalah detak jantungmu yang begitu merdu. Orkestra terhebat mana pun tidak mampu mengalahkan irama itu. Bahkan Beethoven, Mozart, Tchaikovsky. Lup dup. Lup dup. Lup dup. Irama Tuhan ada di situ.

Jadi beginilah caramu hidup. Aku bahagia karena bisa melihat apa yang kau lihat, mendengar apa yang kau dengar, merasa apa yang kau rasa. Aku bernafas beriringan dengan hela nafasmu. Jantungku menyatu dengan detak jantungmu.

Tapi tiba-tiba nafasku sesak. Aku terlepas dari tali penuntunku. Aku tenggelam. Lautanku berubah menjadi neraka. Panas. Ini bukan api. Tapi kulitku perih dan terbakar. Hidungku berjelaga. Paru-paruku menghitam. Kemudian ada sebuah besi yang panjang dan tajam, memasuki lautanku yang damai, mengejarku ke segala arah. Ia merobek perutku. Mencabik-cabik tubuhku. Ujungnya yang tajam dan berkilat menarik paksa tangan kiriku hingga terlepas. Hancur. Tangan kananku berusaha menggapaimu, berlindung di mana saja. Tapi benda itu lebih cepat. Ia mencengkram erat kedua kakiku dan mengoyak-ngoyak tulangku yang masih rapuh. Benda itu tidak membiarkanku utuh barang satu senti pun. Bahkan kepalaku. Kini benda itu berhasil mengaitkan ujungnya yang tajam di mata dan telinga kananku, lalu menariknya dengan kuat hingga aku tak mampu lagi mendefinisikan rasa sakit. Mungkin lebih sakit dari membentur karang. Mungkin lebih sakit dari hempasan ombak. Sakit ini tentang kehilangan dan tidak berharga. Tidak diinginkan. Dayaku hilang.

Sudah kuteriakkan, aku minta pertolongan. Tapi engkau pun kesakitan. Suaraku hilang dalam teriakanmu yang tak kalah mengerikan. Tubuhku hancur sudah, terberai, kembali menjadi gumpalan darah. Nafasku hilang. Detak jantungku tiada. Aku tiada.

***

Ibu, saat menjadikan ku ada, kau bilang itu ‘bercinta’. Saat menjadikanku ada, engkau meliuk, meregang dan memekiknya bahagia sampai begitu riuh menyebut nama Tuhan. Lalu mengapa sekarang tidak kau ijinkan aku untuk mencintaimu lebih lama?

***

Mother, you had me but I never had you

I wanted you, you didn’t want me

So I just got to tell you

Goodbye.

***

 

 

[John Lennon – Mother]

September 21st 2012

Moru – Alor – NTT 

  1. Naudzzubillah…

    embrio yang malang, kembali kepada Tuhan. Laknat bagi yg melakukannya.

  2. Semoga kita terhindar dari perbuatan seperti itu dan semoga Allah melindungi kita selalu .

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: