Kisah Sepotong Daging

Alkisah. Sebuah keluarga miskin. Ibunya miskin. Bapaknya miskin. Anaknya juga miskin.

Ibunya tukang cuci. Bapaknya tukang judi. Anaknya tidak sekolah, hanya mengamen tanpa alas kaki.

Untuk makan sehari-hari, mereka harus kerja dari pagi sampai pagi. Kadang tak sempat tidur ataupun mandi. Apalagi sakit hati pada hidup yang dijalani.

Suatu hari, sang anak berkata pada ibunya, bahwa ia ingin makan daging sekali-kali. Ibunya memandang ikan asin yang tersaji di piring dan merintih.

Tapi bibirnya tersenyum sambil membelai lembut kepala anaknya, “Iya, suatu hari.” Dalam hati, ia menangis, seandainya bapakmu bukan tukang judi.

Hari terus berganti. Daging tak juga tersaji. Sang anak mulai tak sabar hati, “Ibu, meski hanya daging ayam, akan tetap aku nikmati.” Sang ibu tak tega hati. Meringis mengingat uang yang habis oleh sang bapak yang berjudi tanpa henti.

Lalu sang ibu berkata, “Wahai, Anak. Bawakan sebuah parang paling tajam untuk ibumu ini.”

Sang anak bertanya, “Ibu, apakah daging itu sudah terbeli?”

Ibu menjawab, “Daging tidak harus dibeli. Dengan kondisi keluarga ini, kita harus cari sendiri.”

Keesokan hari, akhirnya mereka bisa makan daging yang rasanya enak untuk pertama kali. Dan sejak hari itu, sang bapak tidak pernah pergi berjudi lagi.

Moru – Alor – NTT

Oktober 2nd 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: