Isyarat Hati

‘Cause I live to get lost in lazy afternoons with you

And what I’d give for any cause to turn a day into a few

***

Gadis itu sudah mencuri perhatianku selama 5 bulan 4 hari 7 jam 34 menit dan 45 detik, 15 detik setelah pertama kali aku bertemu dengannya di kios sebelah rumah kosku, saat pertama kali aku pindah ke kota ini. Kami tidak pernah bertegur sapa meski aku tahu namanya. Klasik, aku malu.

Dia adalah anak ketua RT. Rumahnya tepat di depan rumah kosku. Kamarku ada di lantai dua, tepat berhadapan dengan kamarnya yang juga berada di lantai dua. Pagiku selalu hangat, ditemani sinar matahari, secangkir kopi dan senyuman malu-malu gadis itu dari rumah seberang. Dan malamku damai melihat bayangan hitamnya dari balik tirai kamarnya. Siluet tubuhnya tampak sempurna hingga ingin suatu saat aku bisa memeluknya dari belakang. Sejak 5 bulan 4 hari 7 jam 40 menit dan 37 detik  yang lalu, memandangnya dari jauh telah menjadi kebiasaanku.

For once, I wouldn’t need my guitars

‘Cause right now I’d rather be in your arms

Kegiatannya sehari-hari adalah membantu ibunya yang memiliki sebuah warung makan. Aku terbiasa menahan lapar dan menolak ajakan rekan-rekanku untuk makan bersama sepulang kerja agar bisa mampir ke warung bu RT. Tempat duduk favoritku adalah di pojok kiri, berhadapan langsung dengan gadis itu saat ia menyiapkan minuman. Aku cukup senang meski hanya duduk, mengunyah makanan di piring dan menikmati gadis itu bekerja di hadapanku. Terlebih lagi saat mata kami beradu, lalu bertukar senyum. Rasanya seperti ada hantaran llistrik yang berdenyut hingga sewindu.

Sehari-hari, dia suka mengenakan rok selutut. Dia menyukai motif bunga-bunga, ada empat motif bunga yang berbeda. Aku suka saat dia mengenakan rok yang dominan hijau dengan bunga-bunga kecil berwarna jingga-kuning, dan atasan berwarna putih polos. Di mataku, dia terlihat seperti dewi. Rambutnya bergelombang dan cukup panjang, sekitar 10 cm di bawah bahu. Model rambutnya hampir selalu sama, ekor kuda yang cukup tinggi hingga aku bisa memandangi tengkuknya. Kulitnya langsat. Beberapa detik, kadang muncul keinginan mendaratkan ribuan kecupan di sana.

Tapi pada hari Jumat biasanya dia menggunakan celana kain model kulot berwarna hitam karena pagi harinya dia mengantar ibunya ke pasar dengan menggunakan motor bebek berwarna merah. Kadang-kadang dia menggerai rambut dan menyelipkan sebuah pita kecil di sisi rambut bagian kanan. Aku mengira-ngira, dia suka saat rambutnya melambai diterpa angin yang berlawanan dengan arah laju motornya.

Di hari Selasa dan Kamis pagi, dia rutin membeli bubur ayam yang lewat di depan rumah. Dan di hari itu pula, aku selalu sarapan dengan menu yang sama. Pada hari Minggu, dia suka menghabiskan waktu dengan berkebun di halaman depan rumahnya. Dan di hari Minggu aku selalu bermalas-malasan sambil membaca koran di halaman depan rumah kosku. Kadang aku bangun lebih pagi, mengamati loper koran, lalu menyelipkan kartu rindu untuknya di sela-sela halaman koran. Entah dia menyadari itu aku atau bukan, tapi aku suka melihat wajahnya yang tersipu saat membaca kartu-kartu picisan yang kutuliskan untuknya. Senyum di wajahnya adalah energi yang tidak dapat dimusnahkan. Setidaknya bagiku.

‘Cause just one kiss is all I need

Take my hand and let me lead

Far away to an empty place

I live to see your face smiling back at me after kissing you

***

Suatu pagi, terdengar kegaduhan dari rumah seberang. Dari balkon kamar, terlihat bapak RT serta gadis itu bingung karena motor tidak bisa dinyalakan. Segera aku turun tanpa gosok gigi atau mencuci muka. Jiwa pahlawanku membara, ingin menunjukkan kemampuanku di depan sang gadis dengan jumawa. “Kenapa motornya, Pak?” tanyaku pada Pak RT.

“Ndak bisa distarter, Nak Rudi. Padahal tiap hari sudah dipanasi. Apa karena memang motor tua ya…” jawab Pak RT.

Aku mencoba menyalakan motor itu dengan menginjak pedal starter. Gagal. Berkali-kali. Tetap gagal. “Akinya terakhir disetrum kapan nih, Pak?” tanyaku.

“Wah… Sudah lama sekali. Sejak pembarep saya menikah tahun lalu,” jawab Pak RT.

“Sepertinya memang karena akinya, Pak RT. Coba nanti saya bawa ke bengkel. Hari sabtu gini saya kan libur…”

“Lha ini motornya mau dipake anak saya ke SLB buat ngajar, Nak Rudi.”

“Kalo saya yang antar gimana, Pak RT?” kata-kata itu meluncur begitu saja. Sejenak aku tertegun. Entah dari mana keberanian itu muncul. Dan jujur, hatiku bergemuruh menanti jawaban Pak RT.

“Wah, makasih sudah mau direpoti, Nak Rudi. Piye, Nduk?” tanya Pak RT pada gadis itu. Sang gadis tersenyum sumringah dan mengangguk. Rasanya tidak bisa dideskripsikan. Tapi jelas ada orkestra yang sedang melantunkan lagu bahagia di sana-sini, mengiringi senyumku yang tidak berhenti mengembang.

“Oke. Sebentar, Mbak. Saya cuci muka dulu.” Dengan setengah berlari aku menuju kamar, cuci muka, sikat gigi, ganti baju dan memakai minyak wangi. Anggap saja kencan singkat. Akhirnya aku bisa memboncengnya. Tidak. Aku tidak berani menyuruhnya berpegangan pada pinggangku atau berpura-pura mengerem mendadak. Seperti ini sudah cukup. Aku sudah bahagia. Hari sabtu itu, adalah hari bersejarah untukku.

***

Hari-hari berikutnya, aku sering berkunjung ke rumah Pak RT dengan alibi ngobrol tak tentu arah, ditemani gelas kopi yang tidak pernah kosong karena gadis itu selalu menyediakan seteko penuh kopi panas. Setiap kami berhadapan, reaksi tubuhku semakin kuat. Rasa ingin memiliki itu tidak hanya sekedar bahagia karena bisa memboncengnya di hari Sabtu. Lebih dari itu. Interaksi kami tetap seperti dulu. Hanya sebatas senyum dan berbagi pandangan malu-malu. Tanpa suara. Tapi matanya yang bening tanpa kaca mata atau lensa warna-warni, hidungnya yang tidak begitu mancung, pipinya yang merah dan ranum, juga bibirnya yang tipis tanpa pulasan lipstick, sudah berminggu-minggu menjadi bayang-bayang yang tidak mau hilang.

Sebagai laki-laki, berani jatuh cinta tanpa menyatakan adalah dosa besar. Tapi rasa malu mengalahkan harga diri itu, berkeyakinan bahwa cinta diam-diam seperti ini lambat laun akan memudar dan hilang selamanya. Dan keyakinan ini menyiksaku dalam mimpi yang tidak kunjung padam. Semakin aku menahan diri untuk tidak mencari keberadaannya, semakin hatiku berontak dan ingin melanggar aturanku sendiri. Gadis itu adalah rangkaian rindu paling gaduh, membuatku tidak lagi bisa mengendalikan sinaps syaraf otak, dan menyiksaku karena dentuman kata-kata yang ingin segera menabrak dinding malu yang tinggi. Obsesi itu mungkin sudah tumbuh dan berbunga sayang. Atau cinta. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku ingin menghabiskan hidupku bersama gadis itu. Menikmati pagi dengan hangatnya matahari, secangkir kopi dan senyumannya, serta menjemput malam dengan damai karena memeluknya. ‘Rudi, dia masih sendiri. Apa yang kamu takutkan.’

Kini, dia ada di depanku. Aku melihat sekeliling, sudah sepi. Ini sudah jam delapan malam. Sajian di warung sudah tandas. Aku memandang gamang gadis yang sedang menunduk dan membereskan gelas-gelas kosong dan piring-piring kotor untuk dicuci. Bu RT sedang memasukkan kompor ke dalam rumah. Setelah menimbang-nimbang dengan bimbang, badanku menegak, berjalan dengan panik dan keringat yang menetes di dahi, kemudian berdiri di samping gadis itu hingga akhirnya dia menoleh kepadaku dan memandang dengan tatapan menyelidik, “Mbak Dila…” Ah kata-kataku kembali macet. Bagaimana harus memulainya. Otakku beku. Wajah Dila semakin bingung. Keningnya berkerut, mulutnya sedikit terbuka dan menganga. Dia mengangkat bahunya, tanda tak mengerti.

Aku tersenyum getir, “Eh… Bukan apa-apa. Cuma minta tolong temenin saya malem mingguan. Mulai besok. Dan seterusnya.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Seperti tanpa skenario atau berpikir bagaimana tanggapan gadis itu atau betapa malunya aku jika Dila menertawakan kalimatku tadi. Sejenak Dila mengedip-ngedipkan mata. Seperti tidak mengerti. Tubuhku membeku seperti disiram air es. Oh bukan. Seperti ditenggelamkan di laut antartika. Seperti yang semua orang tahu, perempuan bisa mematikan semangat laki-laki yang telah dibangun cukup lama hanya dalam tiga detik, hanya dengan pandangan yang seolah-olah tidak mengerti. Rasanya aku ingin menghilang saja.

Tapi kemudian senyum Dila merekah, menghangatkan tubuhku meski sejenak. Dila mengeringkan tangan yang basah dengan lap yang ada di atas meja. Kemudian tangannya bergerak-gerak di udara, diiringi suara parau yang keluar dari mulutnya. Aku bisa membaca isyarat itu, “Dengan senang hati.”

Puing-puing tubuhku yang membeku, perlahan meleleh. Hangat. Seperti musim semi. Aku menggerakkan telapak tangan kananku yang terbuka ke atas, mengayunkannya dengan sebuah gerakan ringan dari ujung bibir ke depan, sebagai isyarat sebuah ucapan ‘Terima kasih’. Kami tersenyum dan berpandangan dalam diam. Membiarkan hati kami menyatukan frekuensinya, saling menyampaikan rindu dan kata, tanpa bicara.

***

 

[All I Need – Tom Felton]

Kalabahi – Alor – NTT

September 28th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: