Brighter Than Anyone

Dua cangkir kopi itu tidak lagi mengepul. Hanya teronggok pasrah menerima atmosfer yang dingin. Hujan sedang lebat-lebatnya. Gemuruh di langit membuncahkan lagi sesuatu dalam hatiku. Takut.

“Aku sayang kamu.”

“Aku tau. Aku juga begitu.”

Jawabannya mantap. Terlalu mantap untukku. Aku belum mau seperti ini. Tidak. Aku tidak mau.

So this is how it goes

“Lalu kenapa tidak mencoba lebih keras lagi?”

“Untuk apa? Aku tidak mau kita menjadi orang yang egois.”

“Egois bagi siapa? Orang tua kamu? Orang tuaku?”

“Tidak ada hubungannya dengan mereka. Ini tentang kita. Kita sama-sama punya pilihan. Dan itu berbeda.”

Lagi. Tentang ini lagi. Bisakah semesta menghilangkan topik yang satu ini? Saat ini aku benar-benar takut. Takut kehilangan. Sampai-sampai kedua tanganku mengepal, seakan menggenggam sesuatu yang nyaris tergelincir di sela-sela jari.

“Jadi pilihan kita yang disalahin? Atau pilihan kita yang bikin kaya gini? Kenapa nggak mau nyoba nyari jalan keluar sih?”

“Ini jalan keluarnya. Kamu juga sudah tau kan…”

“Nggak.”

“Jangan menipu diri sendiri, Rani… Pada akhirnya, kita akan saling menyakiti.”

“Sekarang, kamu menyakitiku.”

Aku menatap lekat matanya. Hatiku bergemuruh dengan hebat. Ada genangan di sana. Bibirnya menahan sesuatu. Tapi tidak ada ragu sama sekali. Membuat suasana menjadi lebih dingin. Aku gemetar.

“Gimana kalo kita tenang dulu. Bicarakan ini baik-baik. Tidak mencari satu sama lain bukan penyelesaiannya. Bukan. Sama sekali bukan.”

“Ran… Please. Semakin lama kita menunda, semakin sulit bagi kita untuk menerima dan jalan terus.”

“Tapi aku nggak mau ini berakhir sekarang!”

Now I think we’re taking this too far

Don’t you know that it’s not this hard?

Well it’s not this hard

But if you take what’s yours and I take mine

Must we go there?

Please not this time

No, not this time.

Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Rino. Entah kenapa, hati kami terasa benar, satu sama lain. Tapi entah kenapa, semesta memberi restu pada sesuatu yang tidak mungkin. Dadaku sakit. Seperti ada manusia cebol yang menggergaji paru dan jantung dengan perlahan. Nafasku sudah hancur tak karuan. Semua ototku tegang, termasuk pita suara. Aku hampir tak mampu bicara.

“Aku juga nggak. Tapi harus. Cepat atau lambat, harus seperti ini, Ran. Kamu tau…”

“Berhenti! Aku nggak mau denger!”

“Kamu harus denger!” Lalu dengan kedua tangannya, dia meraih tangan kananku yang mengepal di atas meja. Menggenggamnya dengan lembut, seperti biasanya. Hatiku berdesir. Berusaha menyatukan rasa dan rindu saat kulit kami bersentuhan. Mungkin, untuk terakhir kali. Hatiku menyangkal. Tapi mungkin semesta sudah memutuskan. Ini saatnya.

“Denger… Aku tau ini sulit. Tapi kamu tau, pada akhirnya akan seperti ini. Karena setiap kali aku dan kamu ingin menggenapkan perasaan cinta dan rindu, kita tertampar oleh tangan masing-masing agar segera terbangun. Bahwa setiap kita melakukan sesuatu, aku dan kamu, berdoa dan memohon pada Tuhan dengan sebutan yang berbeda.”

Tangisku pecah sudah.

Berbulan-bulan aku menyangkal bahwa hari ini tidak akan datang. Bahwa akan ada masa aku dan Rino bisa menyatukan pilihan hidup kami. Atau bertahan dengan jalan masing-masing Memaksakan untuk satu, saat ini, membuat salah satu dari kami menjadi orang yang egois. Bertahan dengan jalan masing-masing tentu akan lebih sulit. Anak-anak, serta keyakinan masing-masing. Sekelebat kenanganku dan Rino mengalir bagai anak sungai yang jernih. Sakit rasanya saat menyadari bahwa tiba saatnya untuk meninggalkan itu semua.

Rino benar. Semakin lama menunda keputusan, semakin banyak kenangan yang harus dihapus. Semakin lama sakit ini sembuh.

“Jadi… Hanya seperti ini?”

“Iya. Hanya seperti ini.”

“Tapi kita tidak berhenti untuk saling mendoakan, kan?”

“Tidak pernah, Ran. Aku tidak akan pernah berhenti berdoa. Untuk aku dan kamu. Kita harus sama-sama bahagia.”

Aku tertunduk lesu, menahan tangis agar tidak makin menjadi. Dan hujan belum berhenti. Menanti sepasang emosi yang menata hati.

Well this is not your fault

But if I’m without you

Then I will feel so small

And if you have to go

We’ll always know that you shine brighter than anyone does.

***

[Brighter – Paramore]

Moru – Alor – NTT

September, 27th 2012

  1. nyesek bacanya, sedih banget :'((

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: