Happily Ever After

“Kamu suka nulis ya?”

“Ehm… Lumayan.”

“Lumayan sering maksudmu? Aku baca blogmu loh… Tulisanmu lumayan layak untuk dibaca hehehe…” kata Felin sambil menunjukkan gadget tabletnya, ada halaman blogku di sana.

“O ya? Makasih hehehe Itu karena nganggur aja, Fel,” kataku canggung, sambil melirik sekilas ke arah tablet Felin. Aku menyesap kopi Americano dari mug besar di depanku, dan melanjutkan tarian jemari di atas keyboard notebook. Aku terharu. Baru kali ini ada yang mengatakan bahwa hasil karyaku layak baca. Selama ini aku hanya membiarkannya terpasang di situs blogging yang tidak ada fasilitas untuk memberikan komentar. Bukan tidak ingin dikomentari, tapi aku takut membaca komentar yang aneh-aneh. Kerdil sekali.

“Nganggur berkualitas ya hehehe. Tapi tulisan-tulisan yang fiksi, kenapa banyak yang sad ending sih? Nih ya… Pertama, Harga Mati. Maria itu dokter kandungan. Tentunya pinter dong. Masa iya dia ndak pake pengaman atau mini pil setelah bercinta? Apalagi dia kan selingkuhan, ” kata Felin sambil tetap menunduk dan membaca blogku di gadget tabletnya. Rambutnya yang sebahu menutupi wajahnya dariku yang duduk di sampingnya.

“Cinta ndak melulu melibatkan isi otak, Fel. Yaaa siapa tau si Maria memang ingin hamil. Mengingat Kara belum juga ngasih keturunan. Orang jatuh cinta kadang membuat harapan yang di luar nalar. Siapa tau, Maria ingin punya anak untuk mengikat Teguh.”

“Ya siapa yang tau… Kamu kan penulisnya, Han,” kata Felin dengan nada jengkel. Tapi justru wajahnya terlihat jenaka dan menarik. Aku mengalihkan pandangan dan mengulum senyum.

“Sudah… Tinggalkan Maria sendiri. Seperti yang kamu bilang, dia pinter. Pasti bisa menjalani kehidupan sebagai single parent hehehe…” Dan tawaku mendadak berhenti saat melihat tatapan Felin yang seakan mengancam akan membunuhku.

“Lalu, kedua. Ruang 23. Well… Aku ngerti ini kamu ambil dari laporan kasusmu saat jadi dokter muda dulu. Membiarkan karakter pasien Nn. L menangis tersedu di akhir cerita ini cukup kejam, Han. Dia udah kehilangan kewarasan. Kalo aku, lebih baik mati daripada hidup dalam kondisi seperti itu. Kenapa ndak sekalian kamu bunuh aja karakter Nn. L ini?”

“Hmmm… Sebenarnya aku membuat cerita itu dalam rangka ‘benar-benar menganggur’. Ndak bisa berpikir untuk berimajinasi tentang plot cerita. Hanya berhenti di satu titik. Fokus pada Nn. L yang menderita. Tapi jujur, aku sendiri tidak puas dengan cerita itu. Iya, mungkin lebih baik aku bunuh saja karakter Nn. L ini.”

“Kalo dibikin ‘waras’ ndak bisa ya, Han? Seperti film A Beautiful Mind, jadi pada akhirnya Nn. L ini bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan gitu,” tanya Felin kemudian.

“Semakin lama, kamu semakin pintar, Fel. Mudah-mudahan kamu ndak jadi SpOG lalu hamil seperti Maria…”

“Sialan kamu, Burhanudin Boling! Dikasih masukan kok malah nyebelin ahahaha…” Felin pun tergelak, lalu menikmati sesendok es krim dan melanjutkan kuliahnya lagi.

“Lalu terakhir. Kenapa kamu begitu jahat membunuh karakter Biana dan Gema? Gini ya… Mereka sudah melewati masa-masa sulit, keputusan-keputusan yang tidak mudah, juga perasaan yang campur aduk. Kenapa kamu ngasih kesempatan buat mereka untuk menjalani kehidupan yang bahagia sih?”

“Mungkin… karena luka adalah jalan manusia untuk bahagia, dengan mengingat bahwa mereka jatuh dan berusaha untuk bangkit lagi, berusaha melewati luka itu. Pada saat itu, aku melihat Biana sebagai perempuan yang sangat terobsesi pada seseorang yang menjadi penyelamatnya. Dan mungkin semesta pun tidak mau Gema menjadi milik orang lain.”

“Ah… Kamu terserang virus galau twitter rupanya, Han. Jangan follow yang galau-galau dong. Ndak bagus untuk jalan berpikirmu. Tulisan-tulisanmu depresif semua gini…”

Hmmm… Mungkin ini dipengaruhi oleh jiwa psikopatku juga sih, Fel. Ahahaha… 

“Iiih… ngeri ah!” katanya sambil tergelak.

“Lalu kapan kamu akan membuat cerita yang happy ending?” tanya Felin lagi. Kini dia meletakkan gadget tabletnya, mengambil mangkuk es krim dan menghadapkan tubuhnya padaku sambil menyendokkan es krim ke dalam mulutnya. Ada es krim yang belepotan di ujung bibir kanannya. Aku menelan ludah.

“Aku ndak mau happy ending,” sambil tertunduk, menenangkan diri.

“Kenapa?”

“Karena happy ending berarti akhir yang bahagia. Aku maunya bahagia selama-lamanya hehehe…”

“Ahahaha basi! Gombal teruuus… Maksudku, apa kamu ndak pingin sekali-kali bikin yang seneng-seneng gitu?”

“Ya pingin. Tapi nanti.”

“Tulisan itu sebagian dari doa loh, Han. Pernah ada seleb twitter yang bilang gitu,” kata Felin sambil nyengir.

“Ahahaha dasar anak Twitter.”

“Eh serius. Apa kamu mau hidup jadi selingkuhan, atau jadi gila, atau mati sebelum bahagia?” tanyanya dengan nada mengancam. Matanya yang bulat semakin besar, memantulkan perasaan dari mataku yang tidak sabar.

“Yang jelas, meski jadi selingkuhan, aku ndak mau sampe hamil, Fel.” Mendengar jawabanku, Felin mendelik dan meninju lenganku. Aku pura-pura kesakitan sampai Felin berhenti meninjuku. Aku tersenyum ringan lalu kembali berkutat dengan notebookku.

Jari-jariku membuka folder Lagi Nganggur di direktori My Documents. Harga Mati, Ruang 23, serial cerita bersambung Biana vs Gema, bahkan draft ketikanku yang saat ini sedang aku mainkan. Seakan-akan hidupku penuh dengan luka. Padahal itu fiksi belaka. Hanya saja aku tidak pandai mendeskripsikan perasaan bahagia.

Tapi mungkin, hati yang sedang terluka lebih mudah mengukir sesuatu dalam kenangan, sehingga lebih mudah mengingat dan menuliskannya kembali. Sesuatu yang berakhir buruk selalu menimbulkan pertanyaan, ‘Kenapa?’ lalu dilanjutkan dengan memulai sebuah perjalanan baru untuk menuju bahagia. Kadang-kadang, akhir yang sedih membuat seseorang lebih bisa menilik ke dalam dirinya sendiri, lalu memanggil lagi memori-memori tidak menyenangkan sebagai alarm atau petunjuk agar tidak melewati jalan yang sama. Eh… atau hanya aku yang berpikir demikian?

“Setelah dipikir-pikir lagi, memang ndak bagus untuk terus-terusan membuat cerita yang depresif. Manusia memang bisa belajar dari rasa sakit. Tapi manusia bisa belajar bersyukur dengan merasa bahagia. Lama-lama aku ikutan depresi baca blogku sendiri…”

“Nah… Itu kamu mulai pinter. Pada dasarnya, melewati sakit atau tidak, semua orang menginginkan akhir yang bahagia, Han. Seperti lagu Cinta-nya Melly Goeslaw, ‘Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia…’. Iya kan?” kata Felin dengan nada gembira. Wajahnya kini berseri, kedua sudut bibirnya terangkat tinggi membentuk sebuah lesung di pipi kiri. Manis.

“Ahahaha iya iya… Makasih loh udah ngasih masukan. Mulai sekarang aku akan belajar membuat sesuatu yang membahagiakan. Seperti katamu, atau kata seleb twitter itu, tulisan adalah doa.”

“Happy ending! Yay!” sorak Felin.

“Bukan. Happily ever after… Aku ingin ini bukan sekedar fiksi. Ini adalah doa dan harapan, juga perjalanan hidup yang selalu bahagia.”

“Wogh. Bahagia selama-lamanya! Siiip! Jadikan aku pembaca pertama karya bahagiamu itu,” kata Felin dengan riang. Dia bertepuk tangan ringan seperti anak TK, wajahnya yang belepotan es krim tampak begitu berbinar. Aku hanya terkekeh geli melihatnya. Perasaanku membuncah.

“Ahahaha. Bukan. Bukan pembaca pertama. Kamu adalah pemeran utamanya.”

Jangan pernah berakhir cerita cinta kita

***

[Kahitna – Cerita Cinta]

September 23th 2012

Moru – Alor – NTT

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: