Fireworks

“Jadi gimana?”

“Gimana apanya?”

“Sudah bisa berhenti berpura-pura?”

“Ngomong apa sih?”

“Ngomong tentang kamu. Kapan kamu bisa berhenti pura-pura nggak sayang sama aku?”

“Ahahaha… Siang-siang gini ngomongin ‘sayang’, kita bisa jadi bahan tontonan orang banyak, Ka.”

“Kenapa? Takut? Atau malu?”

“Duh… Lagi nggak ada mood sama sekali buat ngomongin hal ini.”

“Aku cuma nggak mau kamu membohongi diri sendiri.”

“Aku nggak berbohong mengenai apa pun. Dan tolong, hentikan ini sekarang. Aku nggak mau jadi pusat perhatian orang-orang di warteg ini.”

Obrolan di warteg tadi siang membuatku pulang dengan hati dongkol. Dongkol karena Arka, yang sekali lagi, telah mengelupas habis perasaanku. Sayang? Oke. Sampai saat itu aku masih menyangkal dengan berbagai dalih. ‘Sayang’, Ka, bukan ‘cinta’, sebuah kalimat pembelaan ego yang sampai saat ini masih bertengger di otakku. Hatiku adalah kotak pandora. Biarkan saja ia tertutup seperti ini. Karena akan ada begitu banyak jelaga bila aku membukanya. Bahkan sekali saja.

Aku yakin betul, Arka pasti tahu kenapa aku terus menyangkal sampai sekarang. Seharusnya Arka tidak terus memaksaku untuk meruntuhkan pembelaan itu. Seharusnya dia membiarkan saja dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Malam itu aku tidur dengan mimpi buruk. Ayah ibuku marah dan memaki-maki. Lalu menyeretku keluar rumah dan membuangku di jalan.

***

Pagi harinya, BBM dari Arka membangunkanku, “Morning, cupcake. Apa rencanamu hari ini?” Perasaan bahagia menyusup dengan membabi buta, menabrak semua sistem dan membuatnya berhenti. Ada stimulan rasa yang membuat bibirku tidak berhenti tersenyum. Aku bisa gila.

“Rencanaku sarapan, ke kantor, nyuruh Mang Udit bikin kopi, meeting sekalian makan siang sama klien jam 12 siang.”

“Lalu kangen aku-nya ditaruh dimana?”

Ah. Perasaan aneh ini lagi. Aku hanya tersenyum singkat sambil berusaha mengalihkan perhatian pada lembar-lembar penuh angka yang memusingkan. Kubiarkan Arka menunggu jawaban. Kubiarkan hatiku dipenuhi bimbang. Tapi memang tidak ada yang bisa membuatku merasa seperti ini selain Arka. Dan jujur, aku takut. 

“Kangen kamu-nya ketinggalan di WC. Mungkin sudah terurai oleh bakteri setelah aku flush tadi.”

“Ahahaha. Jahatnya… Have a great day ya. Have a great love juga, dari aku tentunya (kiss)” Pipiku memanas. Sial.

***

Menjelang Maghrib, tiba-tiba Arka muncul di depan kubikelku, dengan kemeja lengan panjang berwarna merah marun dan celana kain panjang warna hitam yang masih rapi meski sudah dipakai kerja seharian. “Sore…” katanya sambil mengulum senyum. Membuatnya semakin tampan.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Minta tolong temenin saya makan malam, bisa?” ujarnya sambil tersenyum.

Susah payah aku menyembunyikan entah-apa-ini. Orang bilang, seperti dentuman dalam dada dan perut yang bisa mematikan sistem tubuh selama beberapa saat. Mungkin Arka sudah bisa membaca. Karena kata-kata tidak bisa menipu saat mata menjelaskan segalanya. Tapi aku terlalu sibuk menyembunyikan perasaan, tertawa seadanya dan segera merapikan meja kerja. Entah sampai kapan aku bisa bertahan untuk berpura-pura tidak jatuh pada Arka.

Arka mengajakku ke sebuah warung sea food. Mengobrol tentang pekerjaan dan sebagainya. Membahas gosip artis terhangat tentang mantan menteri yang ternyata punya istri simpanan, atau gosip di twitter tentang siapa jadian dengan siapa. Entah bagaimana alurnya, percakapan kembali lagi pada topik yang sudah-sudah. Dan perasaanku kembali gusar dan gelisah.

“Sampai kapan kamu seperti ini? Hatimu bisa meledak kalo terus-terusan sembunyi.”

“Jangan mulai lagi deh…”

“Denger ya, Ry. Cinta itu seperti kembang api. Setelah dibakar, harus dilepaskan agar kita bisa liat cahayanya yang berwarna-warni dan bisa denger suaranya yang keras memekakkan telinga. Selalu seperti itu. Dan kita nggak akan bosan atau berpikir untuk berhenti terpesona olehnya. Tapi kalo kembang api itu nggak dilepaskan, tangan kita yang hancur.”

Mataku panas. Dadaku seperti dihantam batu besar yang tak mampu kusingkirkan dengan tanganku sendiri. Perutku mual seperti dimasuki laba-laba yang membangun sarang di dalamnya. Tanpa bisa kubendung, air mataku meleleh. Suaraku parau dan tidak mampu berkata banyak, “Ka, anter aku pulang.”

Selama perjalanan, atmosfer di dalam mobil Arka terasa lengang, lembab oleh emosi yang menguap. Penyiar radio mengoceh tiada henti. Lagu-lagu hanya berlalu lalang tanpa arti. Kepalaku pening, mencari pembenaran atas sakit akibat memendam rindu pada seseorang yang tiap hari ada di depanku. Ini tidak benar, otakku bilang ini salah. Tapi sistem limbik di otakku tidak berhenti menayangkan kenangan dengan aku dan Arka sebagai pemeran utamanya. Emosiku memburu, terpaku pada satu waktu Arka mencuri ciuman dari bibirku. Ciuman yang berbeda dari kekasihku yang lain. Satu lumatan yang bahkan dengan mengingatnya saja mampu meletupkan perasaan bagai kembang api.

Arka menghentikan mobilnya di depan rumahku. Dia memandangku, tanpa bicara. Dia tahu ada sesuatu yang menahanku. Aku belum mau turun. Tiba-tiba air mataku merebak, segala gundahku tumpah dan berserakan. Ini saatnya, aku melepaskan beban yang kutanggung sendiri, beban yang ingin Arka buang di jauh-jauh hari sebelumnya. Hatiku telah memilih Arka.

Adalah kau tuangkan cinta ke dalam tungku yang tengah panas menyala

***

“Aku sedang berusaha menyempurnakan rinduku buat kamu. Tapi kenapa kamu sudah nyerah, Ka?”

“Ternyata aku tidak bisa. Kembang apiku meledak terlalu hebat sehingga melukai orang-orang yang aku cintai. Keluargaku.”

“Lalu aku? Bagaimana dengan aku?”

“Aku ngerti, kata maaf aja nggak akan bisa menjelaskan semua ini. Kamu pernah takut dan bimbang. Bayangkan saja, saat ini aku ada di posisi seperti itu.”

“Menurutmu sekarang aku nggak merasa takut dan bimbang? Keputusanmu yang seperti ini membuatku merasa seperti orang bodoh. Bodoh karena percaya bahwa cinta cukup buat kita. Bahwa dengan percaya cinta adalah kembang api, maka kita tidak akan terbakar saat melepaskannya. Aku udah milih kamu. Tapi kenapa sekarang rasanya malah lebih buruk dari terbakar?”

“Anggap saja, bagiku, kamu adalah kembang apiku. Jika aku tidak melepasmu, maka aku akan terbakar.”

“Susah payah aku mencapai hari dimana aku tidak lagi peduli tentang norma, atau takut membuat orang tuaku murka. Selama bertahun-tahun aku memakai topeng, Ka. Menipu pacar-pacarku sebelumnya dengan sesuatu yang nggak ada. Aku nggak peduli kamu laki-laki, alien atau setan sekalipun, aku memilih untuk mencintaimu. Sejak saat itu, aku bisa menikmati indahnya kembang api kita. Sejak sama kamu, aku nggak mau berbohong lagi. Lalu kenapa sekarang kamu yang jadi penipu?”

“Anggap saja, aku realistis.”

“Kamu egois.”

“Aku tahu, Ryan. Aku tahu.”

Adalah kau padamkan bara tatkala hangat mulai membuai jiwa

***

Hari ini, tiga tahun setelah hari aku menyatakan kebebasan dan menyerahkan diri pada sesuatu yang kusebut cinta, kuterima satu kartu undangan pernikahan. Kartu berwarna merah marun itu tergeletak tanpa daya di atas meja kerjaku. Satu kartu yang kembali membelengguku dalam kepingan ragu untuk menjalani cinta dengan jujur, tanpa topeng apapun. Lipatan kartu yang terbuka itu menghadap ke atas. Tulisannya yang berwarna emas, meliuk indah membentu nama Arka dan calon istrinya, mengisyaratkan bahwa semua yang pernah terbakar dan membara, kini benar-benar menjadi beku.

Hatiku sakit, lebih sakit dari dihempas ombak lalu menghantam batu karang. Demi Arka, aku berani menabrak dinding yang tinggi, menyakiti orang-orang yang berusaha melindungiku dari runtuhan dinding itu. Aku berani mengabaikan racauan tentang keabnormalan cinta, perasaan bersalah dan perang dalam batinku sendiri. Demi Arka, aku sudah melalui masa-masa sulit dan menyiksa, sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan, tentang keraguan, ketakutan dan penyesalan, tentang pertanyaan-pertanyaan kenapa ini terjadi pada aku dan Arka.

Rupanya cinta bisa seperti peluru yang dilapisi gula. Manis, tapi membunuh. Harapan yang pernah Arka berikan, sesuatu yang pernah menyelamatkanku dari kepura-puraan, telah habis ditelan pikiran realistis Arka. Keraguan dan ketakutanku seakan menari-nari, menjemputku untuk kembali bercinta dengan mereka. Hatiku yang pernah dipenuhi rindu-rindu dari Arka, sudah hancur karena dirobek paksa oleh kenyataan.

Kini, anggap saja demi Arka, aku adalah kembang api yang harus ia lepaskan agar ia tidak terbakar. Dan Arka adalah kembang apiku yang harus aku lepaskan agar dia bisa terbang ke langit yang lebih tinggi, bercahaya terang, berwarna-warni di atas langit yang gelap. Memberikan suara riuh yang membahagiakan bagi orang-orang di sekitarnya, meski tidak ada aku di dalamnya. 

Pandanganku kosong. Otakku berusaha menenangkan perasaan yang kembali goyah. Entah hati mana yang akan kupilih selanjutnya. Laki-laki, perempuan, alien atau setan.

Terhempas dan hampa tak terkira

***

[Kla Project – Terpuruk Ku Di Sini]

Moru – Alor – NTT

September 20th 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: