Harga Mati

Baru kali ini aku datang ke klinik ini. Dan aku adalah pasien terakhir di malam itu. Suamiku, Teguh, masih setia menemani. Duduk di sebelahku dengan menyesap teh hangat yang disediakan klinik dan membolak-balik majalah politik. Perawat memanggil namaku. Aku dan Teguh berpandangan dan bertukar senyum serta cemas. Tidak sabar untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Kami masuk ke sebuah ruangan berukuran 4×4 meter. Dindingnya dihiasi oleh wallpaper berwarna hijau muda yang lembut dengan motif sulur tumbuhan yang segar. Terdapat sebuah sofa panjang nyaman berwarna hijau tua, sebuah meja kecil dan sebuah kursi beroda untuk dokternya. Dokter kandungan perempuan yang dulunya adalah teman SMA suamiku.

***

Ny. Kara. Pasienku yang terakhir. Dari catatan medis yang ada di tanganku, perempuan ini belum pernah datang sebelumnya. Menikah sudah 4,5 tahun, belum memiliki anak, lalu kemudian terlambat datang bulan selama dua minggu. Hatiku berdesir. Entah kenapa. Mungkin karena tiga malam ini, aku selalu bermimpi tentang lelaki yang menjadi cinta pertamaku. Di mimpi itu, ia terihat bahagia bersama istri dan anaknya. Berlibur di sebuah pulau yang tenang dan menikmati kebersamaan mereka. Di mimpi itu, aku hanya jadi bagian dari orang yang pernah dicintai, dari masa lalu. Dan aku benci melihatnya.

Pintu ruanganku terbuka, lalu masuklah seorang perempuan muda, mungkin 4 atau 5 tahun lebih muda dariku. Rambutnya dikuncir kuda, mengenakan mini-dress selutut berwarna lembayung, manis sekali. Seorang laki-laki yang sebaya denganku, mengikuti istrinya di belakang. Duniaku berhenti berputar. Laki-laki itu adalah Teguh. Teguh yang ku kenal dulu. Teguh yang pernah jadi aktor dalam hari-hariku.

Aku berdiri dan menyalami pasienku dan mempersilakan mereka untuk duduk nyaman di sofa. “Selamat malam. Dari catatan medis yang saya terima dari perawat di meja terima… Sepertinya malam ini ada kabar baik. Bukan begitu?” tanyaku dengan riang, sebuah mode default yang selalu aktif secara otomatis saat menghadapi pasien-pasienku. Siapa yang pernah menduga, bahwa dalam ruangan ini, perasaanku cukup terintimidasi. Pikiranku melayang pada mimpi semalam. Rupanya ini alasannya. Sial.

“Iya, Dok. Saya terlambat haid. Seharusnya saya haid dua minggu yang lalu. Dan tadi pagi saya cek urin dengan alat yang saya beli di apotek, rupanya positif. Lalu suami mengajak saya untuk periksa ke sini.” jawab Kara dengan semangat. Pandanganku beralih pada Teguh, yang saat itu sibuk menyembunyikan senyum yang dibuat-buat. Teguh mengajak istrinya ke sini?

“Oh. Suami saya ini bilang, dr. Maria adalah teman SMAnya dulu,” ujar Kara. Hatiku mencelos. Bagus.

“Ah iya… Teguh dan saya memang sekelas selama tiga tahun di SMA. Sudah lama sekali tidak ketemu, jadi tadi saya ragu untuk ragu dan berakrab-akrab ria hehehe…” aku mengumpat dalam hati. Sistem kerja otakku sepertinya kacau malam ini. Otak, mulut, dan hati, semuanya diadu dalam satu panggung, ruang praktekku sendiri.

“Jadi, ada keluhan apa selama ini?” tanyaku.

“Ehm… Sepertinya belum ada, Dok. Saya belum merasa apa-apa. Nafsu makan juga bagus. Tidak mual atau sebagainya. Makanya saya ragu apakah alat tes kehamilan itu akurat,”

“Gejala kehamilan seperti mual atau pusing tidak terjadi pada semua ibu. Beruntunglah jika Ibu Kara tidak mengalaminya. Jadi suaminya juga ndak pusing, tho?” Aku memandang wajah mereka yang cerah dan saling pandang. Jari-jariku gemas meremas flipchart yang ada di tanganku. Aku harap ada seorang pencari bakat di sini. Lihat, aku bisa berakting dengan begitu meyakinkan. “Oke. Yuk ke tempat periksa, biar saya USG dulu.”

Kara segera beranjak dan berjalan menuju tempat tidur periksa yang berada di seberang sofa. Setelah berbaring, aku duduk di sampingnya, membuka baju Kara sampai sebatas dada, dan menutup tubuh bagian bawah Kara dengan selimut. Aku mengoleskan cairan bening dan dingin berbentuk gel ke perut bagian bawah Kara, “Mari kita liat calon pemimpin ini,” kataku sambil tersenyum.

Aku memutar-mutar probe USG di atas area pubis Kara sambil memperhatikan layar di depanku. Sedangkan Kara dan suaminya, bisa melihat gambar USG dari televisi yang sudah tersambung pada alat USG di depanku. “Jika menghitung dari hari pertama haid terakhir, usia kandungan Kara sekarang sekitar 4-6 minggu. Nah… Kalo di USG, yang terlihat paling dominan masih penebalan dinding rahim. Dan ini…” kataku, sambil mengarahkan pointer USG pada sebuah tonjolan kecil di sisi kanan rahim Kara, “ini adalah kantong hasil pembuahan, besarnya embrio kira-kira 5 mm.”

Wajahku menoleh dan melihat betapa bahagianya Kara saat itu. Tangannya segera meraih jari-jari Teguh dan menggenggamnya dengan lembut. Ah… Jari-jari itu pernah mengisi ruang di sela jariku. Dan jantungku bergemuruh, saat Teguh memberikan kecupan di kening istrinya. Kecupan yang pernah jadi milikku. Setidaknya sampai sehari yang lalu.

I know you think that I shouldn’t still love you, or tell you that

***

Rupanya alat tes kehamilan itu benar. Tuhan, aku bahagia. Kehadiran anak adalah satu hal yang kami nanti selama hampir lima tahun pernikahan. Aku memandang layar televisi yang menampilkan isi rahim Kara dengan haru. Perasaan rindu membuncah, ada sebagian dari aku di sana.

Ku genggam erat tangan Kara. Lalu mataku bertemu dengan mata Maria. Dan sejenak ada perasaan pedih dan terluka di sana. Sebagian dari hatiku ikut merasakannya. Juga rasa berdosa.

***

Dokter Maria menyerahkan gambar hasil USG itu padaku. Aku memandangnya dengan mata yang hampir basah karena bahagia, “Akhirnya… Setelah hampir lima tahun kami menikah. Saya tidak bisa menggambarkan kebahagiaan ini, Dok.”

“TIdak perlu diungkapkan pada saya. Berbahagialah dengan menjaga malaikat kecil itu,” kata dr. Maria.

Aku mengenang bagaimana pedihnya saat pertanyaan tentang anak semakin sering dilontarkan oleh orang-orang. Bagaimana perilaku suaminya semakin murung meski berusaha disangkalnya. Bagaimana ngerinya berbagai ketakutan menghantui saat mengetahui ada pesan bernada mesra di ponsel suaminya, dari seseorang bernama Jingga.

Tapi kini, mungkin ini adalah awal baru menuju bahagia. Bagiku, Teguh dan bayi kami. Semoga begitu.

***

“Maaf, Jingga. Aku tidak pernah bermimpi datang seperti itu, membawa istriku yang sedang hamil padamu.”

“Apa maafmu bisa mengganti rasa cemburuku tadi?”

“Aku mohon pengertianmu.”

“Aku bisa mengerti saat kamu ingin putus saat aku sekolah spesialis. Kamu bilang, kamu ingin seorang istri yang tidak terlalu sibuk. Dan aku tidak keberatan menjadi perempuan lain di kehidupanmu saat kamu bilang, tidak bahagia dengan istrimu yang kamu bilang kuno dan sebagainya. Bahkan aku mau menunggu saat kamu bilang akan menceraikan istrimu jika ia tidak juga memberikanmu keturunan. Lalu tadi… tadi itu seperti hukuman, Guh! Aku hampir mati berdiri. Kamu sengaja datang secara tiba-tiba, seolah-olah memberikan sebuah harga mati buatku.”

“Sebenarnya, itu yang ingin aku bicarakan. Aku mau, cinta kita cukup sampai di sini.”

I understand if you can’t talk to me again

And if you live by the rules of “it’s over”

then I’m sure that that makes sense

Kepalaku pening.

Selama ini, kebutaanku atas cinta pada Teguh membuatku menjadi perempuan paling berdosa. Mengabaikan perasaan istrinya, menepis kenyataan bahwa istrinya juga perempuan yang punya ego terhadap apa yang jadi miliknya. Tapi egoku sebagai perempuan juga berkata demikian. Teguh adalah milikku. Tidak pernah terlintas dalam pikirku akan berpisah dari Teguh. Teguh adalah cinta pertamaku, sejak SMA sampai sekarang. Cinta yang menggebu-gebu, cinta yang tidak lenyap meski telah ada seseorang yang telah menyandang nama Ny. Teguh. Cinta yang berani mengambil risiko. Cinta yang naif, percaya bahwa cinta pertama tidak pernah mati. Cinta pertama dibawa sampai mati.

“Kamu barusan bilang apa, Guh? Aku ndak ngerti.”

“Aku yakin semua sudah jelas, Maria. Aku pernah jadi bagian darimu. Bahkan sampai sekarang. Tapi aku sadar, ini seperti cinta yang dipaksakan. Aku cinta kamu, Maria. Tapi saat melihat gambar anakku di dalam rahim Kara, duniaku berubah. Ada sesuatu yang harus aku perjuangkan, bukan hatiku sendiri. Aku mau menjadi bapak yang baik bagi anakku.”

Pandanganku menjadi gelap. Kepalaku seperti dihantam godam yang amat berat. Perutku mual, dan aku menangis sejadi-jadinya. Teguh sudah berhenti memanggilnya Jingga. Hati kecilku merutuk, mengingatkan bahwa hal seperti ini akan terjadi. Otakku yang selama ini berlogika tentang cinta telah gagal membaca hati yang terluka karena cintaku dan Teguh.

Tapi bagaimana dengan anakku, Guh? Jari-jariku lemas, test pack dengan dua garis merah terlepas dari sela-selanya, jatuh ke lantai, membuat gaduh malam yang gelap dan sepi.

I will go down with this ship

And I won’t put my hands up and surrender

I’m in love and always will be

***

[Dido – White Flag]

Kalabahi – Alor – NTT

September 15th 2012

  1. July 17th, 2013

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: