Walk On Fire

Two guys from the circus go into the pub. And the lion tamer says to the fire walker, “Wow, walking on coals. That must really hurt.” And the fire walker says, “The first, sure. But the more you do it, the tougher your feet get.” So the lion tamer says, “So it doesn’t hurt at all?” And the fire walker says, “Are you kidding? It’s walking on hot coals.” [Miami Medical – Time Of Death]

Quote di atas diambil dari drama seri US berjudul Miami Medical. Kata-kata itu diucapkan oleh dr. Proctor, chief di sebuah trauma centre di salah satu rumah sakit di Miami – Florida, saat juniornya, dr. Warren, seorang residen tahun pertama, menangis karena baru saja menghadapi kematian pasiennya yang pertama; seorang perempuan, 18 tahun, mengalami trauma berat dikarenakan tertimpa motor boat yang hilang kendali di salah satu pantai di Miami. Pasien datang dalam kondisi tidak sadar, tidak ada denyut nadi maupun napas spontan, dan dugaan adanya internal bleeding1 di tengkorak, thorax2, dan abdomen. Dokter Warren segera melakukan CPR3 selama 30 menit, dan EKG4 tetap tidak berubah, flatline. Pada saat itu, dr. Warren adalah seorang pesirkus amatir yang baru saja menginjakkan kaki di atas panasnya batu bara.

Banyak orang yang bertanya-tanya, apakah dokter sudah terbiasa menghadapi kematian di depan matanya? Atau apakah dokter tidak takut melihat kematian pasiennya? Atau adakah dokter yang tidak merasa terpukul dengan kematian pasiennya? Saya rasa ini pertanyaan retoris. Tentu tidak ada. Kematian selalu menjadi trauma tersendiri, bahkan bagi orang yang telah terbiasa menghadapi masa-masa sulit.

***

Satu kejadian yang saya ingat sampai sekarang adalah sebuah kasus kematian saat saya masih berstatus sebagai dokter muda atau koass di Ilmu Penyakit Dalam (Interna). Malam itu adalah jaga pertama sebagai junior Interna. Di sistem perkoassan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, kami belajar sebagai dokter muda di Interna selama 12 minggu; 4 minggu sebagai junior, 4 minggu sebagai intermediate dan 4 minggu terakhir sebagai senior. Sebagai koass, menghadapi jaga pertama biasanya dibayangi oleh rasa deg-degan dan cemas. Terutama masih junior di bagian sebesar Interna, laboratorium dengan arus pasien yang cukup tinggi, kasus yang cukup rumit dan morning report yang kabarnya selalu jadi panggung bagi koass jaga yang kemudian akan jatuh bergelimpangan. Tapi senior saya berkata, bahwa ruang 22 adalah ruang yang cukup tenang dengan pasien yang stabil. Dan rupanya malam itu, adalah malam jackpot untuk saya.

Jam sepuluh malam, sebuah panggilan telepon ke ruang jaga koass membuat saya cemas. Pasien baru, dengan Ketoasidosis Diabetikum. “Matik, Noy!” kata saya dalam hati. Ketoasidosis Diabetikum (KAD) adalah kondisi dimana seseorang mengalami penurunan kadar insulin yang terjadi pada saat tubuh mengalami kelebihan glukosa dalam darah, sehingga tubuh akan memerintahkan liver (hati) untuk mengubah lemak menjadi keton, dan tubuh akan mengalami kelebihan keton dan pH tubuh akan menurun (asidosis).

KAD bisa muncul pada pasien yang tidak tahu bahwa dirinya mengidap Diabetes Melitus (DM) atau pasien DM yang tidak taat pada terapi. Biasanya datang dengan penurunan kesadaran (bahkan koma), kadar glukosa darah yang sangat tinggi (lebih dari 600 mg%), muntah dan keluhan saluran cerna lain, nafas cepat dan dalam dengan aroma keton yang khas, jantung berdebar-debar dan kadang-kadang disertai dengan gangguan irama pada jantung.

Pasien KAD adalah pasien dengan tatalaksana yang cukup melelahkan. Kami harus memonitor tanda-tanda vital per 30 menit, mengontrol jumlah tetesan rehidrasi5, mengecek kadar glukosa dan analisis gas darah tiap 1-2 jam, serum elektrolit tiap 4 jam, melaporkan semua hal pada residen Interna dan kemudian kami akan menerima banyak rincian terapi dan evaluasi dengan aturan yang begitu rumit, terutama untuk saya yang masih junior. Tapi pengalaman menangani kasus KAD di bagian anak beberapa bulan sebelumnya membuat saya sedikit percaya diri. Pasien anak dengan KAD itu pulang dengan kondisi yang bagus. Dan malam itu saya berdoa, keajaiban akan terjadi lagi di Interna.

Saya tidak tidur semalaman. Saya melewatkan makan malam. Bertahan di ruang jaga perawat yang berada di depan kamar pasien tersebut. Sampai-sampai senior menelepon ruang 22 karena saya tak kunjung kembali ke ruang jaga koass. Jam 3 pagi, senior saya memberi kabar bahwa pasien KAD ini akan dilaporkan pada morning report. Makjang. Berarti ini adalah laporan jaga saya yang pertama di bagian Interna. Seketika saya takut. Ketakutan seorang koass yang jarang belajar kecuali ada presentasi kasus atau jurnal, ketakutan tidak bisa menjawab saat diberondong pertanyaan oleh supervisor, ketakutan akan jadi bulan-bulanan di depan teman sejawat sesama koass. Ketakutan yang masih kerdil.

Lalu morning report dimulai. Dengan (berpura-pura) percaya diri saya memresentasikan kasus KAD ini, dengan memberikan laporan bahwa kondisi terakhir pasien pada jam enam pagi tidak ada perubahan yang berarti. Rupa-rupanya supervisor tertarik untuk melihat langsung pasien ini dan memberikan bed side teaching pada kami. Lalu kami, rombongan koass yang dipimpin supervisor, melalukan long march menuju ruang 22. Jantung saya tidak berhenti berdebar, kepala saya serasa diremas dari segala arah, mulut saya kering, tangan dan kaki saya kebas oleh keringat. Segera saya menuju ruang perawat dan mengambil status pasien tersebut. Lalu kata-kata perawat mengejutkan kami semua. Pasien itu mengalami henti jantung dan tidak mampu bertahan meski telah diresusitasi oleh residen jaga. Pada akhirnya ia meninggal jam setengah tujuh pagi. Tubuh saya serasa lemas, jantung saya mencelos, seakan melorot dari tempatnya dan ketakutan menyergap saya dari segala penjuru. Saya tahu kondisi ibu dengan KAD itu memang tidak membaik. Tapi bagaimanapun tidak ada dokter terhebat di dunia ini yang tidak menginginkan keajaiban (Aizawa sensei – Code Blue)6. Apalagi saya yang hanya seorang dokter muda rendahan. Semalaman saya tetap terjaga demi pasien ini. Berkali-kali saya meminta maaf pada keluarga yang menjaga karena harus membangunkan mereka saat saya akan mengambil darah atau memasukkan obat. Jari-jari tangan saya gemetar karena berkali-kali mencoblos pembuluh darah arteri dan vena pasien untuk mengevaluasi kondisi pasien. Bahkan pagi itu, saya tidak sempat mandi karena sedikitnya waktu untuk membuat laporan pagi. Saya takut jika apa yang saya lakukan itu tidak cukup. Saya takut ada yang salah dari apa yang telah saya lakukan. Saya takut pasien ini meninggal karena saya. Dan lebih lagi, saya teringat ayah yang juga mengidap Diabetes Melitus. Dan saya tidak mau hal seperti ini terjadi pada ayah yang saya cintai. Pagi itu, semua perasaan buruk menyergap saya diam-diam. Merangkul semua kecemasan, ketakutan, putus asa dan hilang harap, lalu membungkusnya dengan sebuah jaring-jaring memori, dan menempelnya erat-erat di otakku dalam sebuah folder bernama Facing Death.

Always gonna be an uphill battle

Sometimes I’m gonna have to lose

***

Namun inilah konsekuensi yang harus dihadapi. Dokter tidak selalu bisa menyelamatkan nyawa. Saat-saat yang tidak menyenangkan seperti ini pasti akan terjadi. Rasa sakit, kecewa, marah, sedih, kehilangan; sepertinya semua rasa itu dijejalkan begitu saja di dada, sesak dan sakit, di detik pertama dokter menyadari bahwa sudah saatnya untuk menyerah.

Saya pernah mendengar sebuah celetukan yang menggelikan, bahwa semakin sering dokter menghadapi situasi seperti ini, maka hati dan perasaan dokter itu bisa jadi makin tumpul. Are you kidding me? This is about facing death FTW! Tidak ada yang tidak merasa sakit saat seseorang yang memercayakan sakitnya, pada akhirnya harus pergi di depan mata. Tapi tiap dokter punya caranya masing-masing dalam mengatasi perasaan tidak nyaman atas kematian pasiennya. Sama halnya dalam menjalani hidup. Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika mengetahui bahwa kenyataan tidak berbanding lurus dengan harapan. Seseorang bisa berharap menikmati air yang segar dari sebuah sumber mata air. Ia berjalan menaiki bukit, membabat tanaman sulur yang mengganggu pandangan, terjatuh karena tanah yang licin dan basah, lalu bangkit lagi dan terus berjalan dengan membawa rasa ngilu di tubuh. Kemudian dalam sedetik, ia tertegun hampa memandang sumber mata air yang telah kering. Napas yang terputus-putus karena telah melalui perjalanan jauh, rasanya semakin menghilang. Ruang dada terasa sesak karena paru-paru telah dipenuhi kecewa. Jantung berdebar tidak karuan. Pandangan memudar, tangan gemetar. Lalu selanjutnya apa? Berhenti di situ? Kembali pulang? Atau mencari jalan untuk mencari sumber mata air baru?

Manusia, mau tidak mau, harus melewati fase-fase psikologis dalam hidupnya. Denial, anger, bargaining, depression atau acceptance. Dan tidak ada yang tahu, seberapa cepat seseorang bisa mencapai stage ‘acceptance’, dan apakah ia mampu melewati semua stage, atau tersendat di satu stage dan tidak mampu meneruskan ‘hidup’. Tidak ada yang menjamin bagaimana dan berapa lama. Yang bisa melepaskan diri dari kubangan siklus depresi adalah diri sendiri. Dan dokter adalah manusia, bukan Tuhan, malaikat atau dewa. Banyaknya interaksi dengan rasa sakit dan detik-detik menuju ajal, minimal memaksa jantung untuk berdenyut lebih cepat dari biasanya, paru-paru yang hiperventilasi7, keringat yang diproduksi berlebihan dan perasaan kehilangan berkali-kali. Tapi apakah akan selamanya seperti itu? Apakah karena takut jatuh maka kita tidak belajar berjalan? Apakah karena takut sakit maka kita akan selamanya mendekam diri di dalam kamar? Apakah karena takut gagal maka kita tidak berani bermimpi dan punya harapan? Apakah karena takut sakit hati maka kita tidak berani jatuh cinta? (Ahay!)

Profesi dokter adalah salah satu profesi dengan kontrak tidak tertulis yang berbunyi ‘belajar seumur hidup’. Termasuk dari kematian-kematian yang terjadi tepat di depan matanya. Kasus KAD itu membuat saya belajar dari ketakutan. Belajar untuk menilai kenapa merasa takut dan bagaimana menghadapinya. Belajar untuk mempelajari proses dan penyebab kematian, belajar tentang kehilangan, belajar tentang kegagalan, belajar tentang menghadapi perasaan sedih dan sakit hati karena kematian pasiennya, belajar untuk bisa bangkit dan berjalan lagi. Setiap orang pasti memiliki pengalaman pertama, dalam hal yang mungkin tidak menyenangkan. Sama seperti si penantang api yang merasa sakit saat pertama kali menginjakkan kaki ke atas arang yang membara. Tapi makin lama, maka ia bisa mengatasi rasa sakit itu. Bukan menghilangkannya. Facing death is a big deal. Bagi pasien, keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, dan tenaga kesehatan yang merawatnya. But if you keep learning, facing death could make you tougher on making decisions for your patients. And no matter whether things are good or bad, we still need to live on (Kim Tak Goo – Baker King).

The struggles I’m facing

The chances I’m taking

Sometimes might knock me down

But no, I’m not breaking

***

[Miley Cyrus – The Climb]

Edited at Moru – Alor – NTT

September 14th 2012

 

Keterangan (boleh disebut footnote. Atau bottomnote. Terserahlah.) :

1. Internal bleeding: perdarahan di rongga tubuh bagian dalam. Seperti di dalam tengkorak, rongga dada, rongga perut dan rongga-rongga lain yang kosong akibat terlalu lama menyendiri.

2. Thorax: “Belahlah thoraxku!” adalah salah satu contoh sepikan menggunakan bahasa medis.

3. CPR: CardioPulmonary Resuscitation, tindakan kompresi (tekanan) pada dada dan pemberian nafas bantuan. Yang seperti di film-film itu pokoknya. FYI ya, melakukan CPR ini capek luar biasa, secara fisik dan mental. Apalagi melakukan CPR saat menggunakan high heels. Sangat sangat sangat melelahkan. (Ah… CPR menggunakan high heels. Itu lain lagi ceritanya)

4. EKG: Elektrokardiogram, sebuah pemeriksaan penunjang yang biasa disebut sebagai rekam jantung. Hasil pemeriksaannya berupa kertas panjang dengan kotak-kotak kecil seperti strimin, kemudian ada garis yang mirip sandi rumput. FYI (lagi), EKG bagi koass di FKUB adalah sebuah identitas. EKG di RS Saiful Anwar benar-benar portabel, karena dimasukkan ke dalam sebuah kotak kayu yang memiliki empat kaki jenjang dengan roda pada masing-masing kakinya. Roda-roda itu senang sekali jadi pusat perhatian, ia mengeluarkan suara yang gaduh, membuat seluruh penjuru rumah sakit bertanya-tanya, “Mbak/Mas yang pake jas putih itu dokter muda atau penjual es?” (Oh. Jangan bilang itu hanya sampai angkatan saya. Pokoknya jangan. Sembunyikan angka-angka ‘angkatan’ itu. BTK.)

5. Rehidrasi: menghidrasi kembali; memberikan cairan; upaya menggantikan cairan tubuh yang hilang dari pembuluh darah. Bukan, bukan untuk mengganti belahan jiwa yang hilang dari kehidupan.

6. Aizawa Sensei – Code Blue: Entah mengapa saya perlu memberikan keterangan untuk ini. Tapi saya ingin berbagi sebuah dorama Jepang yang layak tonton. Dorama Code Blue bersetting di sebuah unit gawat darurat salah satu rumah sakit di Jepang. Pemeran utamanya ada empat dokter dengan karakter uniknya masing-masing (dan tentu saja Aizawa yang paling memesona). Memang sebagian besar dorama terkesan lebay, tapi porsinya di Code Blue ini ‘pas’ (tetap, untuk ukuran dorama).

7. Hiperventilasi: ventilasi yang lebih besar dari pada yang dibutuhkan tubuh. Nafas menjadi lebih cepat. Hiperventilasi bisa muncul pada orang normal pada kondisi cemas. Jika ada rekan yang hiperventilasi, cari kantong kertas dan minta rekan untuk bernafas melalui kantong yang menutupi mulut dan hidung. Semoga bermanfaat. (Bukan hoax seperti Broadcast Message pada umumnya. InsyaAllah shahih.

    • Astypuri
    • January 24th, 2014

    Superbb banget Nin..
    Suka sama kata kata yang ini.. ” Apakah karena takut jatuh maka kita tidak belajar berjalan? Apakah karena takut sakit maka kita akan selamanya mendekam diri di dalam kamar? Apakah karena takut gagal maka kita tidak berani bermimpi dan punya harapan?”
    Err.. ada wordsnya Kim Tak Goo juga, jadi pengen liat drakor itu lagi T_T

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: