I Fight For Us

unSore itu teduh. Aroma tanah yang basah setelah dihujam hujan masih merebak di sebuah rumah sederhana dengan taman yang berwarna-warni. Pucuk-pucuk daunnya menunduk-nunduk menahan beban butiran air yang ingin segera jatuh oleh gravitasi, kuncup-kuncup bunganya bergoyang-goyang ringan didera angin sepoi-sepoi. Ada jingga di langit barat. Hari sudah lelah dan menuju malam.

Tapi suasana di ruang tengah rumah sederhana itu tidak seteduh sore itu. Lima orang duduk, melingkari sebuah meja persegi panjang yang penuh dengan ukiran khas Pekalongan. Teh dan kopi yang di atas meja sudah tidak lagi mengepulkan asap. Tersisa ibu Gema yang mengepalkan tangan, menahan murka. Ia tidak mengerti apa yang ada di pikiran anak laki-lakinya sehingga bisa terpikat pada wanita bernama Biana itu.

“Orang tuanya bermasalah, Gema. Ayahnya kena HIV, dan ibunya jadi istri ketiga.” tukasnya dengan getir. Wajahnya terasa tegang, otot-ototnya yang menua dipaksa berkontraksi, menahan emosi.

“Gema yakin Biana ndak tertular HIV, Bu. Biana sudah lama ndak tinggal sama ayahnya. Dan ibunya jadi istri ketiga itu ndak ada hubungannya dengan Biana.” ujar seorang Gema dengan santun. Ia tahu, cepat atau lambat, dirinya harus berhadapan dengan keluarganya sendiri, demi Biana, demi dirinya.

“Menikah dengan perempuan itu berarti kamu harus menanggung keluarganya juga. Bisa depresi kamu menghadapi hidup mereka, Le! Ibu ndak rela anak lanang ibu menderita karena hal-hal ndak perlu seperti itu.”

“Nama perempuan itu Biana, Bu. Dan mungkin Tuhan sudah menggariskan Gema untuk jadi orang yang bisa membantu berbagi beban dengan Biana, Bu. Gema sudah sholat dan berdoa, Insya Allah ini jawabannya.” jawab Gema dengan intonasi yang tenangnya dibuat-buat. Padahal jantungnya sudah bergemuruh, perutnya mulas, mulutnya kering, dan telapak tangannya berkeringat. Perlahan Gema melirik Mas Galih, kakak pertamanya yang sudah menikah dan tinggal di luar kota dengan istri dan anaknya. Mas Galih pulang, khusus untuk membicarakan hal ini, “Kalo Galih ya terserah Gema, Bu. Sudah sama-sama dewasa. Galih yakin, Gema sudah tahu konsekuensinya. Menikah dengan seseorang dari latar belakang yang cukup rumit itu butuh ekstra kerja keras, lahir batin. Kowe wes siap tho, Ge?” tanya Mas Galih pada Gema. Gema mengangguk mantap, sambil meremas-remas jari tangannya yang sudah kebas oleh keringat.

“Gendis juga sempet ketemu sama Biana beberapa kali, Bu. Orangnya baik. Memang terlihat seperti sudah lama menanggung kesedihan selama bertahun-tahun. Tapi kalo Gendis liat, Biana orangnya juga mau berusaha bersama Gema, “ kata Mbak Gendis, kakak keduanya yang juga sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di kota yang sama dengan orang tua Gema. Sengaja Gema mempertemukan Biana dengan Mbak Gendis beberapa kali. Pendapat sesama perempuan itu penting dalam situasi seperti ini. Emosi perempuan itu saling berpengaruh, seperti mencari dukungan yang sepadan. Beruntung Mbak Gendis mendukung Gema. Mendengar penjelasan singkat Mbak Gendis, Gema bernapas lega.

Ibu Gema meneguk sedikit tehnya, lalu duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mengalihkan pandangan ke jalan bebatuan di depan pintu rumah, memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Menggigit bibir sambil menjernihkan pikiran. Selama ini ia mengagung-agungkan garis keluarga yang baik dan terpandang. Siapa sangka jika anak bungsunya sudah terjerat cinta seseorang yang berasal dari keluarga yang berantakan. Menyisakan penyakit yang katanya menular dengan cara tidak baik, dan seorang anggota keluarga baru dari pernikahan yang tidak legal. Tapi Biana memang gadis yang baik dan menarik. Berkali-kali hati ibu Gema menyangkal, ada satu sudut di hatinya yang menginginkan Biana menjadi anak perempuannya. Seketika dahinya seperti dihantam palu. Pening sekali.

Gema mengarahkan pandangan memohon pada bapaknya, laki-laki yang telah menurunkan sifat tenang pada ketiga anaknya. Sebelumnya, Gema sudah beberapa kali bertukar pikiran dengan laki-laki bijak ini. Melakukan berbagai pendekatan baik Gema sendiri maupun dengan Biana. Bukan berarti Gema tidak pernah membawa Biana untuk bertemu ibunya. Hanya saja, ibunya masih belum bisa melepaskan kungkungan pikirannya sendiri yang menggeneralisasi kondisi Biana.

***

Hari itu, hari pertama Gema membawa pulang Biana, orang tuanya menerima dengan senang hati. Senyum tak lepas dari wajah mereka, hingga tak sanggup menunggu merayakan pernikahan terakhir dalam keluarga mereka. Tapi itu sebelum mereka mengetahui tentang keluarga Biana. Sesaat setelah Gema menceritakan kerumitan orang tua Biana, ibunya susah tidur. Jantungnya sering berdebar-debar dan ulu hatinya sering terasa nyeri. Kepala bagian belakang terasa berat dan berdenyut-denyut. Dokter mengatakan bahwa ini gejala psikosomatis saja. Obat meringankan keluhan, tapi penyebab psikis harus dihilangkan.

Ah, Ibu… Penyebab psikosomatis Ibu adalah cinta Gema. Pikiran Gema dipenuhi dengan wajah Biana, serta hatinya yang terluka saat mengetahui bahwa ayahnya sakit. Kekasih ayahnya datang dan menampar kulit Biana. Gema datang dengan membawa sekotak es krim ke kos Biana. Ia tahu, Biana tidak butuh kata-kata. Biana sudah lelah dengan janji dan kecewa.

I’m gonna pick up the pieces, and build a Lego house

When things go wrong we can knock it down

“Biana, ayo makan es krimnya. Aku pengen liat pipi kamu tumbuh lagi,” goda Gema. Lalu Gema memeluk Biana singkat, memberikan usapan ringan di punggung, mengecup kening, lalu melepaskannya, “Aku sudah telpon kantor. Ijin ambil libur hari ini.” Gema meraih gitar dan memainkan lagu secara serampangan. Sebenarnya Gema ingin memeluk Biana lebih lama, tapi ia ingin membiarkan Biana mencari ruangnya sendiri untuk menjadi tenang.

And it’s dark in a cold December, but I’ve got ya to keep me warm

And if you’re broken I’ll mend ya and keep you sheltered from the storm that’s raging on

***

“Ya tapi namanya keturunan, Le. Ibu pengen besanan sama orang bener. Ibu denger ibunya Biana itu juga mau pisah sama suaminya. Lha terus yang mau ngurus siapa kalau bukan Biana? Ibu ndak mau kamu stres gara-gara masalah keluarga Biana.”

“Gema sudah tahu risikonya, Bu. Mencintai Biana berarti menerima masalah-masalahnya. Gema paham ini ndak akan mudah. Asal Ibu merestui, Gema mohon doa agar bisa menghadapi masalah-masalah itu.”

“Kamu tega, Le, liat ibu sering sakit kaya gini?” suara ibu Gema mengecil, hampir menangis. ‘Ya Tuhan… Mohon lapangkanlah hati ibuku,’ doa Gema dalam hati.

Gema berdiri dan beringsut mendekat pada ibunya dan berlutut. Meraih kedua tangan ibunya yang masih mengepal dan menciumnya dengan hormat, “Gema paham, Bu. Gema mohon maaf, setelah dilahirkan dan bertahun-tahun dibesarkan hingga sekarang, Gema justru memberi beban saat Gema jatuh cinta. Gema hanya butuh kepercayaan Ibu bahwa Gema mampu menghadapi semua ini. Bapak dan Ibu telah menjadi orang tua yang hebat buat Gema, mungkin kondisi keluarga Biana adalah salah satu pengujinya.”

“Apa ndak ada perempuan lain tho, Le?” tanya ibunya dengan lirih. Terdengar jelas ada banyak lelah di sana. Lelah mengkhawatirkan nama baik keluarga, lelah menanggung tubuh yang sering sakit, lelah memikirkan apakah keputusan anak bungsunya ini sudah sesuai dengan rancangan semesta.

“Banyak, Bu. Tapi Biana adalah penggenap hati Gema saat semuanya terasa ganjil.” jawab Gema sambil meremas ringan tangan ibu dalam genggamannya. Matanya memanas. Wajahnya berdenyut menahan perasaan yang sudah terbakar di dalam dadanya.

Penggenap saat semua hal terasa ganjil. Hidup Gema selama ini lurus dan taat azas. Akademik cemerlang dari keluarga terpandang. Orang bilang, hidup Gema sempurna. Tapi bagi Gema, ini menjemukan. Dan Biana mengobrak-abrik kebosanan Gema dengan caranya.  Biana bilang, ia tidak tahu bagaimana seharusnya mencintai dan dicintai. Tapi justru Biana yang memberikan jawabannya. Mencintai Biana adalah mencintai perempuan hebat dengan carut-marut keluarga yang ia tanggung selama bertahun-tahun. Mencintai Biana adalah mau menerima ibu dan adik tirinya, dalam satu paket, tidak terpisahkan. Mencintai Biana adalah belajar memahami perasaannya yang rumit dari senyumnya yang terlihat sederhana. Mencintai Biana adalah belajar mengerti pilihan kata-katanya yang terdengar skeptis, tapi ada harapan yang terselip di huruf-hurufnya.

Dicintai Biana adalah menikmati segala ocehannya tanpa henti tentang lagu-lagu, segarnya embun pagi dan secangkir kopi. Dicintai Biana adalah menikmati rasa sayang tanpa banyak bicara dari sekotak bekal yang tiba-tiba muncul di meja kerja. Dicintai Biana adalah menikmati rindu yang menggebu di setiap genggaman tangan karena ketakutannya akan kehilangan. Mereka adalah dua orang yang belajar mencintai dan dicintai, sesak napas karena beban perasaan yang tidak berhenti.

Gema tahu ini tidak mudah. Pasti akan ada titik jenuh dan perasaan lelah. Tapi Gema percaya, perasaannya tidak akan berdenyut sia-sia. Karena Biana adalah adrenalinnya.

“Jadi kamu sudah mantap, Gema? Menjalani pernikahan dengan semua risikonya?” tanya bapaknya dengan suara berat, lengan Bapaknya terjulur merangkul ibunya dan memberikan tepukan hangat di bahu. Matanya lurus menatap Gema, rahangnya sedikit mengeras. Gema tahu, bapaknya juga berat hati. Tapi sebagai laki-laki, Gema tahu bahwa bapaknya mengerti ada harga diri dalam hati laki-laki untuk bisa memperjuangkan apa yang dicintainya sepenuh hati.

“Sudah, Pak.”

Kelima orang di ruang tengah itu menghela napas panjang. Mengisi atmosfer yang parau dan sempat memanas. Hujan turun lagi. Gema memandang haru orang tua dan kedua kakaknya. Ia tersenyum bahagia.

“Mungkin sudah saatnya, jari-jari kita disatukan oleh cerita dan dua cangkir teh hangat. Hariku, harimu, bertemu dalam kubangan rindu.

Mungkin sudah saatnya, pagutan kata tidak tersendat di udara, kata menjadi partikel yang kita hirup di ruangan yang sama.

Mungkin sudah saatnya, kita berhenti di sebuah titik, lalu menjalani hidup dalam sebuah garis takdir, berdua, sampai nafas tak ada lagi.”

[Ed Sheeran – Lego House]

Kalabahi – Alor – NTT

September 09th 2012.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: