Sang Penyembuh

Aku pernah dengar sebuah cerita tentang malaikat yang jatuh cinta pada manusia. Ah iya… film City of Angel. Nicholas Cage banyak mendapat pujian di film itu. Tapi sebagai manusia yang beriman, aku menganggap bahwa film ini adalah omong kosong. Malaikat tidak punya emosi. Begitu yang aku tahu. Lalu bagaimana malaikat bisa jatuh cinta? Benar-benar omong kosong. 

Tapi istriku suka sekali menonton film itu berkali-kali. Saat dia ulang tahun, saat pernikahan kita yang berulang tahun, saat hari kasih sayang, menonton City Of Angel adalah rutinitas. Istriku tidak mau menonton sendirian, harus dengan aku, berdua saja, di ruang tengah. Bisa ditebak, di tengah cerita, aku selalu tertidur lebih dulu. 

“Ndak bosen nonton film ini?” tanyaku di suatu malam. Istriku terkekeh geli. Merangkul lengan kiriku dan menyandarkan kepalanya di bahuku, “Kamu ndak bosen nanya apa-aku-ndak-bosen-nonton-film-ini?” Istriku ini memang pemutar kata yang pintar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan jenaka. Mendapat perlakuan seperti ini, aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Menyesap coklat hangat, lalu menyandarkan kepalaku di kepalanya, mencium wangi rambutnya yang manis dan mengusap lengannya yang mulai dingin. 

“Bagaimana jika malaikat yang jatuh cinta pada manusia itu beneran ada, ya, Mas?” tanya istriku. Aku tertawa keras sekali. Hampir meneteskan air mata, “Alma… Trus perempuan yang sekarang aku peluk ini apa ndak jatuh cinta sama suaminya?” Alma mencubit mesra pinggangku. Wajahnya memerah, sebelum akhirnya padam ketika aku mencium bibirnya. 

Dia menegakkan tubuhnya, “Kayanya sedih sekali kalo seseorang atau malaikat harus memendam perasaannya. Kalo guyonan di Twitter nih ya, itu LDR lain dunia, Mas.” Aku tergelak, “Istriku udah jadi twitter-addict nih kayanya. Apa lagi itu LDR beda dunia. Ahahaha…” 

“Loh… Serius. Manusia aja ada yang galaunya sampai bunuh diri, gimana kalo malaikat ya, Mas?” ujar Alma dengan polos. Aku hanya terkekeh geli. “Setauku malaikat itu tidak bisa jatuh cinta. Malaikat itu cuma nurut sama Tuhan. Dan satu lagi, malaikat ndak twitteran.” Alma mencibir, menjulurkan lidah dan menghentikan obrolan absurd tadi dengan merebahkan kepalanya di pangkuanku. Lalu ia menyimak film City Of Angel dengan khidmat. Dan aku, melemparkan pandangan hampa ke televisi, lalu siap-siap tertidur seperti yang sudah-sudah. 

Tertidur di sofa depan televisi membuat tubuhku terasa nyeri. Sebenarnya, semalam istriku sudah membangunkanku untuk pindah tidur ke kamar. Tapi badanku terasa lemah sekali. Entahlah, akhir-akhir ini aku lebih mudah merasa lelah. Olah raga jogging pun sudah dua minggu terabaikan. Tubuhku tidak demam, atau sakit di bagian tertentu. Hanya merasa letih dan tidak bertenaga. Jika tidak ingat dengan iman, mungkin aku sudah berpikir ini semacam guna-guna.

“Masih ndak enak badan ya, Mas? Wajahmu pucat. Yakin mau kerja hari ini?” tanya Alma dengan nada khawatir saat kami sarapan.

“Iya, nih. Rasanya pingin libur aja. Tapi sudah banyak janji di tempat praktek.”

“Alma anter aja ya?”

“Ndak usah, Alma sayang… Nanti ada jadwal ngajar jam 10 tho? Aku berangkat dulu ya,” kataku sambil mengecup kening Alma. Lalu pergi menuju tempat praktekku. 

Sudah hampir jam makan siang, pasien tinggal satu. Aku memberi isyarat pada perawat agar mempersilakan pasien selanjutnya untuk masuk ke ruanganku. Beruntung hari ini pasien tidak terlalu banyak. Rasa-rasanya badanku sudah tidak tahan lagi, ingin segera rebahan barang setengah jam saja. Sendi-sendi ngilu, mata terasa seperti dipaku. Keringat tidak mau dibendung, dan kadang-kadang, ada beberapa detik aku tidak fokus melayani pasien. Sepertinya memang butuh istirahat. 

Pintu diketuk, aku mempersilakan pasien terakhir sebelum istirahat siang itu masuk. Seorang perempuan muda, cantik, rambutnya diikat ekor kuda, halus dan bergerak seperti dibuai angin, aromanya sangat lembut, ada perpaduan antara citrus dan kayu manis, badannya terlihat ramping meskipun tertutup jaket yang kebesaran, berjalan begitu ringan seperti tanpa perlu banyak energi, senyumnya mengandung daya magis. Jujur, aku terpesona pada pasien yang satu ini. 

Kami pun duduk berhadapan, tanpa meja yang menghalangi. Aku memang sengaja mendesain ruang praktek ini dengan gaya yang lain. Pasien duduk di sofa yang nyaman, aku duduk di kursi beroda yang tingginya sejajar dengan sofa pasien. Meja terletak di sisi kanan, tempat tidur untuk memeriksa pasien ada di sisi kiri. Pergerakanku lebih bebas, zona interaksi dengan pasien menjadi lebih akrab. Ini salah satu cara menumbuhkan kepercayaan pasien, bahwa hubungan dokter-pasien bukan hubungan bertingkat, tapi hubungan horizontal sebagai orang yang berkomitmen untuk saling membantu.

Tapi setelah bertemu pasien semenarik ini, sepertinya aku salah telah mendesain ruang praktek. Aku salah tingkah. Memang, tidak jarang tempat praktekku didatangi pasien perempuan muda yang menarik. Tapi pasien yang satu ini berbeda. “Keluhannya apa, Mbak Riana?” tanyaku setelah melirik sekilas identitas pasien. Wajah Riana mendadak serius. Dia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Suaranya berbisik, “Di luar belum ada pasien lagi, Dok. Jadi saya boleh ya cerita sedikit panjang?” Wajahku memanas. 

“Jika ceritanya bisa membantu dalam proses diagnosis dan terapi, malah bagus, Mbak.” Jawabku sambil tersenyum. Sebenarnya agak kikuk dengan pasien yang ‘sok akrab’ seperti ini. Tapi sebagai dokter yang profesional, aku harus menunjukkan bahwa hal seperti ini sudah biasa.

Riana menegakkan tubuhnya lagi. Duduk dengan nyaman sambil menyilangkan kaki. Kedua tangannya sibuk memain-mainkan ujung rok selututnya yang bermotif ukiran rumit berwarna biru. Lalu Riana menatapku, “Dokter percaya bahwa setiap orang punya malaikat pelindungnya masing-masing?” 

Ada jeda di sini. Tunggu. Malaikat? Rakib dan Atid? 

“Bukan. Selain Rakib dan Atid. Malaikat yang menjaga manusia sejak ia lahir hingga mati. Rakib dan Atid mencatat perbuatan manusia. Tapi malaikat yang ini menjaga manusia agar hati manusia.” 

Atmosfer menjadi hening. Mataku membulat, mulutku menganga. Perempuan antik. Tanganku sudah sigap menuliskan rujukan ke psikiater. Tapi pandanganku terus lurus ke arahnya, seolah masih berkonsentrasi pada dongeng Riana. Energi ini entah datang dari mana, tapi otakku merasa haus akan cerita tentang malaikat ini. Ingin mendengarnya lebih banyak, ingin mengetahui lebih dalam. Sejenak, aku lupa jika sedang butuh istirahat. 

“Ketika ovum dan sperma bertemu, sesungguhnya mereka telah berkonsolidasi dalam menciptakan malaikat baru. Sembilan bulan malaikat itu menemani bakal manusia di rahim ibunya. Dokter tahu kenapa bayi menangis saat dilahirkan? Itu karena bayi sedih dan merana, bahwa di kehidupan luar rahim, dia tidak mampu berinteraksi dengan malaikatnya.”

“Manusia tidak akan menyadari keberadaan malaikatnya. Tapi malaikat inilah yang menghibur bayi saat orang dewasa tidak paham maksud mereka. Malaikat menanggung sebagian rasa di hati manusia. Malaikat akan merasa lebih sakit saat manusianya sakit. Malaikatnya meneteskan air mata ketika manusianya sedih dan kecewa. Malaikatnya terbakar saat manusianya marah dan cemburu.”

“Manusia berpikir bahwa malaikat tidak punya emosi. Mereka salah, Dok. Emosi malaikat jauh lebih membara dari manusia. Dan malaikat hanya bisa melihat satu manusia, manusia yang dilindunginya.” 

“Sepi sekali ya hidup malaikat. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana ada makhluk di dunia ini yang tidak terlihat oleh makhluk lain, tapi dia hanya bisa melihat makhluk yang tidak bisa melihat dirinya.” tukasku. Ada sedih dan sepi yang tiba-tiba muncul di ruang-ruang tubuhku. Entah mengapa.

“Begitulah kira-kira. Seperti manusia bisa melihat cahaya, tapi tidak bisa menemukan sumber kegelapan. Manusia dan malaikat begitu dekat, tapi takdir dari Tuhan membuat mereka terasa jauh. Terutama bagi malaikat itu sendiri. Kalo manusianya, sih, sepertinya alam bawah sadarnya pun tidak pernah bermimpi memiliki malaikat pribadi.”

“Satu hal yang tidak boleh dilakukan malaikat. Jatuh cinta pada manusianya.” lanjut Riana. Kalimatnya barusan membuat kepalaku semakin berdenyut. 

“Ahahaha… cerita yang unik. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira bagian mana yang menjadi kata kunci yang mengarah ke permasalahan kesehatan Mbak Riana.” Kataku dengan tidak sabar. Kemana obrolan ini berujung? Rasa-rasanya aku bisa menebaknya. Riana, perempuan, seumuran denganku, kesadarannya berubah, dan memiliki waham pada dirinya. Psikotik. 

“Sebentar. Dokter belum mendengar bagian yang paling menarik. Kira-kira, apa yang akan terjadi saat malaikat itu jatuh cinta?”

“Ehm… Mati?” jawabku sekenanya.

“Dokter kejam sekali ya hehehe malaikat itu tidak mati, Dok. Tapi malaikat ini menjadi rapuh, ia tidak lagi menjadi tak-terlihat, keberadaannya akan segera diketahui. Dan ia akan menjadi manusia biasa.”

“Ya lebih enak jadi manusia dong hehehe”

“Begitu? Tapi ketika malaikat itu akhirnya menjadi manusia, ia tidak akan menjadi manusia yang utuh. Mereka lemah dan gampang dipengaruhi energi negatif. Ia akan mudah terluka. Bahkan angin dapat membakar kulitnya. Kemudian hati malaikat menghitam, dan lama-lama mereka akan menjelma menjadi iblis.”

“Lalu, bagaimana dengan manusianya?”

“Ketiadaan malaikat adalah kelemahan manusia.”

Seketika, dadaku terasa nyeri. Seperti terbakar. Kedua lenganku lemas, kakiku tidak mampu berpijak. Ya Tuhan… jangan bilang aku terkena infark miokard akut sekarang. 

Dengan susah payah aku mengembalikan kesadaranku. Berusaha bersikap normal di depan pasien ini. Sesaat tanganku menggenggam erat lengan kursi, untuk menggenapkan tubuhku lagi, “Wow… Rumit sekali ya hidup malaikat. Lalu, apa yang bisa saya bantu tentang kesehatan Mbak Riana?” kataku dengan tidak sabar. Lama-lama aku bisa gila jika terus mendengarkan racauan Riana ini. Aku bukan psikiater. Aku hanya dokter bedah umum. Dan sepertinya saat ini, justru akulah yang seharusnya jadi pasien.

“Sepertinya Dokter Brama sudah tidak sabar mendengarkan kisah saya tentang malaikat ya,” katanya sambil tersenyum. Kemudian Riana berdiri, ragu-ragu dia berputar dan melepaskan jaketnya yang kebesaran. Mulutku menganga, penyakit seperti ini tidak ada di textbook manapun. Dan jurnal mana yang bisa menjelaskan tentang sayap putih yang tercabik-cabik dan berdarah, bulu-bulunya rontok tak beraturan, tampak seperti telah diterkam oleh binatang buas. Kulitnya mengelupas dan berwarna biru kehitaman, ada bagian yang terlihat seperti terbakar, membentuk bulae dengan cairan keruh di dalamnya. Beberapa tempat tampak adanya darah yang mengering, sebagian ada yang masih menggenang.

And I don’t want the world to see me

I just want you to know who I am

“Dokter Brama, saya jatuh cinta.”

Aku terkesiap. Hampir terjatuh dari kursi. Suaraku tercekat dan tak bisa keluar. Tanganku gemetar dan kram. Kakiku kaku, seperti dipasung di dalam kayu. Di tengkuk Riana, ada namaku.

 

[Goo Goo Dolls – Iris]

September, 7th 2012

Kalabahi – Alor – NTT

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: