200

Kembali lagi dari peradaban.

Hari Idul Fitri tahun ini, Alhamdulillah, saya bisa lebaran di kampung halaman, seperti yang sudah-sudah. Tapi tahun ini berbeda. Tahun ini saya ‘mudik’. Benar-benar ‘mudik’. Jika tahun-tahun sebelumnya saya mudik dengan hanya bermodalkan bis kota yang kadang tanpa tuslah dan sering terjebak macet beberapa jam, maka tahun ini saya mudik dengan dua kali terbang dengan pesawat dengan harga yang mencekik buku tabungan serta penundaan jam terbang yang hampir tidak wajar. Pengalaman yang sungguh berbeda.

Awal Ramadhan, saya memberi kabar orang tua di rumah, bahwa saya berkesempatan pulang. Reaksi orang tua sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Dari bilur-bilur suara pun saya bisa memastikan bahwa mimpi-mimpi mereka sudah penuh dengan hari kepulangan anak perempuannya. Pertanyaan-pertanyaan konyol pun dilontarkan. Dua hari berturut-turut menjelang kepulangan, Bapak menelpon di malam hari untuk memastikan apakah saya jadi pulang kampung. Ah Bapak… tiket sudah terbeli loh hehehe. Lalu Bapak bertanya, “Nanti mau dimasakin apa, Nduk?” Secara otomatis saya langsung menjawab, “Ayam! Pokoknya ndak mau ikan. Bosen. Pokoknya mau ayam!” Bapak pun tergelak. Ahahaha. Di Alor, Nusa Tenggara Timur, ‘ayam’ adalah makanan yang cukup mahal. Satu porsi ayam goreng dengan pelengkap lalapan berupa beberapa potong kacang panjang, kubis dan kemangi, dihargai sebesar 20.000 rupiah. Bayangkan, betapa ayam sudah menjadi makanan yang mewah di Alor.

Hari ini sayang aku akan pulang
Berlabuh di dekap cintamu
Karna pelukmu akan selalu
Membuat diriku jatuh cinta

Perjalanan pulang. Alor menuju Kupang. Pesawat take off pada jam 11.30 WITA. Sampai di Kupang pada jam 12.30 WITA. Ada sedikit penyesalan sebenarnya, telah membeli tiket Kupang – Surabaya pada jam penerbangan 17.15 WITA, padahal sebenarnya bisa langsung terbang ke Surabaya pada jam 14.00 WITA. Alasan saya saat memesan tiket hanya satu, harga yang lebih murah 100.000 rupiah. Bodoh. Menunggu juga tidak murah, Noy. Dan seperti ingin membenturkan kepala ke dinding musholla saat ada berita bahwa penerbangan pesawat saya ditunda hingga jam 20.00 WITA. Sinting.

Orang tua saya dengan semangat menjemput anak perempuannya di Bandara Juanda. Ada sedikit rasa bersalah ketika mengetahui penerbangan saya ditunda. Orang tua terpaksa harus menunggu cukup lama di Bandara Juanda yang penuh sesak seperti terminal. Berkali-kali saya menelpon untuk memberi kabar, sekedar menanyakan apakah mereka sudah berbuka atau merasa lelah. Oalah, Pak, Bu… ternyata ‘mudik’ beneran ini cukup menantang.

Pesawat yang akan membawa saya terbang baru landing di Kupang jam 19.20 WITA. Rasanya ingin segera berguling ke pesawat dan segera sampai di Juanda. Saat itu saya benar-benar dalam kondisi HALT (hungry, angry, lost, tired). Emosi saya tidak terkoordinir dengan baik. Lebih banyak diam dan hampa. Ini semua akibat kekikiran seharga 100.00 ribu, Noy!

Sesampainya di Juanda, mengambil bagasi, segera saya keluar dan mencari-cari orang tua saya. Sesaat saya melambaikan tangan pada seorang pria berbadan gelap dan cukup besar yang sedang berdiri dan berpangku tangan di besi pembatas penumpang dan penjemput. Rupanya karena sangat lelah, Bapak tidak melihat lambaian tangan saya. Lalu saya berjalan memutar dan mencari-cari orang tua saya di tengah kerumunan para penjemput yang sama memendam rindu. Saya menemukan punggung Bapak. Sejenak saya berpikiran untuk mengirim pesan, “Bapak, saya di belakangmu.” Ah, ribet! Bapak pasti ndak akan sadar ada sms di ponselnya. Lalu pandangan saya menemukan Ibu yang sedang duduk di ruang tunggu. Segera tangannya saya raih, mengecup tangan dan pipinya. Ibu berdiri dari duduknya, lalu kami berpelukan, “Bapakmu ndak sadar itu loh kayanya…” kata Ibu tersenyum lebar sambil menunjuk punggung milik Bapak. Serta merta saya dekati punggung itu dan memeluknya dari belakang. Bapak sedikit terkejut. Beliau membalikkan tubuh dan memelukku dengan erat. Pertemuan itu cukup haru, tapi terlalu lelah untuk melepas air mata. Rindu selama hampir lima bulan sedikit terpuaskan. Bapak, Ibu, anakmu pulang.

Tiga minggu di rumah. Kerinduan pada kampung halaman, saudara, dan sahabat sudah cukup terpuaskan. Dan sekarang, saya sudah kembali ke perantauan. Kembali mencari segenggam rupiah demi membeli pulsa untuk terus update blog [wide grin]. Masih ada 200 hari lagi. Masih ada petualangan yang harus dijalani, masih ada tanggung jawab profesi yang harus dilakoni, masih ada rindu yang harus dijamahi, dan selalu ada belahan jiwa yang akan dicari [tetep].

 

[Pulang – Andien]

Kalabahi, Alor, NTT

September 6th 2012  

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: