Awal Mula

Kantor catatan sipil sudah hampir tutup. Tidak ada lagi antrian di ruang tunggu. Gelas-gelas teh sudah kosong. Petugas bersiap-siap, tas para pekerja wanita sudah siap di atas meja, berhadapan dengan wanita lain dan tertawa cekikikan. Beberapa orang sudah beranjak ke tempat parkir dan menyalakan motor.  Ada pula yang merokok demi membuang waktu, menunggu cap jempol absen pulang.

Gema duduk di kursi, merapikan buku-buku besar di mejanya. Mematikan komputer, lalu mengambil jaket yang disampirkan di kursi. Wajahnya kuyu setelah seharian menghadapi berkas-berkas akte, KTP, KK, dan sebangsanya. Ini masih hari Senin, Gema. Lima hari menjelang akhir minggu. Gema mengusap wajahnya yang berminyak dengan kedua tangan, menengadahkan kepala dan menghela napas panjang. Sejenak ia memandang wajah langit dari jendela yang menghadap barat. Warnanya dominan biru, nyaris kekuningan Bersih tanpa intervensi awan. 

Sesaat Gema termenung, pikirannya hampa. Seperti ada jeda dari semesta yang memberikan isyarat bahwa sesaat lagi, sesuatu yang besar akan terjadi. Dari sudut matanya, ia melihat ada seseorang yang baru datang ke loket. Wah, sudah sore begini kok baru datang. Jam-jam begini adalah critical time, dimana semua orang sudah lelah dan berharap cepat kembali ke rumah masing-masing. Sejam terakhir adalah waktu paling tidak produktif. Biasanya orang-orang yang datang di jam-jam ini akan ditolak secara halus (kadang kasar) atau dipersuasi untuk datang esok harinya. Gema hanya tersenyum mendengar racauan lirih yang tidak menyenangkan. Tapi alih-alih rekan-rekannya saling mengelak melaksanakan tugas, mereka justru saling berpandangan, dengan tatapan yang menyelidik, menuduh dan menghakimi. Lah, sebenarnya kasak-kusuk ini tentang apa sih?

“Udah biasa perempuan muda kaya dia punya anak di luar nikah. Noh sekarang bingung nyari akte buat anaknya.”

Ups. Obrolan samar-samar tadi menggiring pandangan Gema pada sosok perempuan di loket. Perempuan itu berambut panjang dan bergelombang. Ada semburat warna merah di sela-sela rambutnya, dan dibiarkannya tergerai sebahu. Kemejanya berwarna biru langit, dengan motif bunga-bunga kecil berwarna jingga. Perempuan itu tertunduk, membolak-balik berkas dalam map kertas warna merah di tangannya. Ah orang-orang ini suka sekali bergosip. Tahu jam pulang sudah dekat kenapa tidak segera dilayani tho ya

Segera Gema menuju ke loket, mengambil alih tempat yang beberapa saat sempat kosong karena rekan-rekannya sibuk berasumsi tentang urusan rumah tangga orang, “Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?” Perempuan itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Pandangan mereka bertemu. Ada tangan tak terlihat yang meremas pembuluh darah Gema. Napasnya sempat berhenti, trakheanya tercekat, jantungnya seakan lupa berdenyut. Ah… Perempuan ini manis sekali.

“Isn’t she lovely? Isn’t she wonderful?”

“Mau mengurus akte kelahiran, Mas. Tapi ndak ada surat nikahnya. Ibunya nikah siri. Bisa?” 

Lalu terdengar gemuruh suara yang lirih dari belakang. Bergosip lagi. Tetapi perempuan di depan Gema ini tidak bergeming. Pandangannya lurus ke arah Gema. Matanya berpura-pura tidak peduli, ekspresi wajahnya tenang tapi terlihat usaha yang begitu keras untuk menyembunyikan kegelisahan. Bibirnya tetap menyunggingkan sebaris senyum, tapi kepedihannya terlihat sangat besar. Hati Gema bergetar. Ia telah terpesona.

“Wah, Mbak datangnya terlalu sore. Sekarang berkasnya masuk dulu ya. Besok pagi sekitar jam 10 bisa diambil.”

“Ehm… Bisa ya Mas meski tanpa surat nikah?”

“Bisa, Mbak. Tapi nanti memang tulisannya ‘dilahirkan dari seorang ibu’, ndak pake ‘bapak’. Gimana?”

“Ndak masalah, Mas. Yang penting adik saya bisa masuk sekolah.”

“Bisa, Mbak. Jangan khawatir. Besok langsung aja nyari saya, Gema. Kalau orang lain nanti masih nyari-nyari berkasnya.”

Otak Gema telah berpikir secara otomatis, setelah hatinya berkata bahwa ia tidak bisa membiarkan perempuan ini mendapat cibiran dari rekan-rekannya. Dia tahu sekali watak rekan kerjanya yang selalu berlebihan mengomentari kehidupan orang lain. Tipikal orang-orang dengan warna kehidupan yang kurang menarik. Lalu, ada apa denganmu, Gema? Belum lagi sepuluh menit berlalu, tapi sistem tubuhnya sudah luluh dan menggiring wajah perempuan ini ke seluruh penjuru kapilernya. Setelah saling bertukar senyum, perempuan itu pamit, pergi menuju jalan besar dan menghilang bersama ojek. 

“Gimana tadi itu? Bener anak haram mbak yang tadi?” tanya seorang rekan.

“Bukan, Mbak. Su’udzon aja deh.” jawab Gema sambil terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak memedulikan pandangan tidak percaya rekan-rekannya. Gema segera menyiapkan berkas perempuan tadi, meletakkannya di meja petugas, lalu beranjak pulang. 

Gema tidak mengerti. Senyum perempuan itu. Ada sembilu yang tertoreh di bibirnya, senyumnya terasa perih. Entah beban apa yang ia bawa. Gema membawa senyum terindah di alam semesta tadi hingga ke alam mimpi.

“I’m so happy, we have been heaven-blessed”

Keesokan harinya, mendadak Gema bangun lebih pagi dari biasanya. Gema ingin segera ke kantor catatan sipil dan mendesak petugas agar segera menyelesaikan akte kelahiran adik dari perempuan kemarin. Perempuan itu datang, senyumnya langsung merekah saat tahu akte kelahiran adik tirinya sudah beres. Ia tak henti mengucapkan terima kasih. Gema gemetar, apa yang semesta rencanakan? Tiba-tiba Gema berharap Tuhan mempertemukan mereka kembali, mengijinkan Gema mengambil sembilu dan menghilangkan perihnya. 

Dan perempuan itu datang lagi. Nama di akte kelahiran itu salah ketik. Rupanya benar, ada Tangan Tuhan yang mengendalikan mereka. Karena ini adalah awalnya. Setahun yang lalu. Dan perempuan itu adalah Biana.

“I can’t believe what God has done, through us He’s given life to one.

But isn’t she lovely made from love?”

[Stevie Wonder – Isn’t She Lovely]

Probolinggo, September 4th 2012.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: