Racauan Yang Lain

Buah dari kecewa dan sakit hati tidak selalu dirasakan hari ini, besok, bulan depan, atau tahun depan. Bisa bertahun-tahun. Mungkin Tuhan ingin menundanya sampai beberapa tahun mendatang, menunggu kita ‘siap’. Masalahnya, manusia sering tidak sabar. Ingin cepat kaya, lalu bekerja dengan curang. Ingin cepat bahagia, lalu mudah memutuskan untuk berhubungan/berpisah. Terlalu cepat mengambil keputusan, biasanya akan mengorbankan sesuatu. Lebih buruk lagi, jika kita menyesal di kemudian hari.

Adakah kebahagiaan yang dijual instan? Bukankah kebahagiaan itu ada di proses dan perjalanan kita meraih sesuatu? Ada sebuah cerita pasangan yang berselisih sekian lama, sampai meminta ijin Tuhan untuk berpisah. Tapi mereka bertahan, berpegang pada keputusan “aku telah memilihmu”, lalu mencoba untuk saling memahami, memperbaiki diri. Kemudian pada akhirnya hati mereka belajar untuk melihat yang sebelumnya buram. Lalu bersyukur telah saling memiliki dan bahagia bersama. Bahagia bagi mereka adalah karena telah melewati masa-masa paling sulit, menertawakan pertikaian, menikmati kebodohan, dan pada akhirnya mensyukuri semuanya.

Indera manusia seringkali tumpul. Menganggap kecewa dan sakit hati adalah harga mati. Jika tidak sering meminta pada Tuhan untuk menajamkan intuisi dan hati, bisa jadi kata bahagia hanya berwujud apa yang bisa dilihat, tanpa bisa dinikmati.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: