300

Sudah memasuki bulan ketiga. Sudah memasuki seperempat masa tugas di Alor – NTT. Well, seperti yang sudah diduga, bakal males banget update tumblr ahahaha Mengingat kosa kata sudah sangat memudar, koneksi yang empot-empotan, dan serial Korea yang lebih menggoda =))

Apa yang harus diceritakan di sini?

Menjelajahi alam di Kepulauan Alor itu ndak pernah habis. Sial. Sampai sekarang diriku belum juga mengunjungi Pulau Kepa yang terkenal itu. Sika, Mali, Sebanjar, Batu Putih, Dere, Maukuru… Masih banyak tempat lain yang menjadi PR untuk dikunjungi. Bagi pecinta pantai dan pemburu senja, Alor adalah salah satu surga. Oh… sunrise-nya juga ndak kalah hebat. Hey, ini pengabdian atau jalan-jalan? Ah sudah… Jangan sirik aja deh. Mari sudah pi Alor :p

Menjalani bulan ketiga… Apa yang sudah didapatkan? Gaji? Tentu belum (ahahaha). Tapi pengalaman menghilangkan takut terhadap laut sudah mulai terasa. Kalo dulu, nonton Finding Nemo pun terasa sesak napas. Sekarang, bahkan diriku sudah bisa mengapung (ayo tepuk tangan).

Menjalani bulan ketiga, rindu sudah mulai terasa. Betapa setiap pagi, hidungku begitu mendamba bau tempe menjes goreng dan segelas teh panas, bercakap-cakap ringan di dapur, memasukkan pakaian-pakaian kotor ke mesin cuci, dan memberi hadiah para kelinci dengan seikat kangkung atau wortel. Bagaimana cara mereduksi rasa rindu? Timeline foto juga tidak bisa banyak membantu. Ada aroma yang hilang, dan sentuhan yang tidak terpuaskan.  Kadang-kadang, suara semakin justru memperburuk rasa kangen dan kehilangan.

Dalam perantauan, menjejaki tanah yang baru, bersama orang-orang baru, dan menghadapi hidup yang baru. Pada siapa kita bisa bersandar jika bukan pada diri sendiri. Pada siapa kita bisa percaya jika bukan pada diri sendiri. Tapi satu orang menjalani semuanya sendiri itu terlalu berlebihan. Dalam perantauan ini, diriku menemukan rekan-rekan yang juga berjuang di jalan yang sama. Hanya pernah bertukar pesan melalui sosial media atau messenger, lalu bertatap muka dan berinteraksi, seakan kami sudah berkawan puluhan tahun. Kata atau sikap jebakan bisa muncul dari siapa saja.

Emosi yang belum sampai ke alam sadar kadang-kadang terlalu cepat dituangkan ke dalam sikap yang memercik pertentangan. Rasa sepi dan salah interpretasi memungkinkan munculnya kesalahpahaman. Perbedaan kultur hidup di tempat asal masing-masing sanggup meletupkan banyak keluhan. Jika banyak orang bertanya, untuk apa kami pergi jauh dari nyamannya pelukan keluarga, mungkin salah satu jawabannya adalah karena manusia butuh rasa sakit untuk berkembang. Sakit karena perselisihan, sakit karena kecewa, sakit karena jatuh, sakit karena ditinggalkan, dan sakit karena merindu.

Masih ada 300 hari. Masih banyak cerita yang antri. Masih banyak album kenangan yang harus diisi. Masih ada jutaan rindu yang harus dilunasi. Masih ada cita-cita yang harus dijalani. Masih ada cinta yang jadi misteri😉 #teuteup

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: