I Don’t Wanna Share

Orang bilang, punya hidup jangan disimpan sendiri. Aku pengennya bagi-bagi yang seneng-seneng aja. Bukan yang sedih-sedih. Apalagi hal ndak enak menurut ‘versiku’.

Aku juga sering bilang gitu sih… Kalo ada masalah mbok ya cerita, siapa tau bisa bantu.

Gimana kalo masalahnya ‘aku’? Yang bisa bantu? Ya aku sendiri kan…

Contohnya, ada hal yang orang lain kritik (terlalu cuek, terlalu ndak peka, terlalu semaunya sendiri, terlalu jelek, terlalu item, terlalu gendut, dll). Kritikan-kritikan seperti itu tentu bikin sedih. Ternyata ada hal-hal yang belum cukup buat orang lain. Mungkin standar ‘baik-baik aja’ menurutku, jauh di bawah standar ‘baik-baik aja’ menurut orang lain.

Ada yang bilang, “Cuek aja.” Tapi bisakah? Semakin cuek, semakin salah dong. Berusahalah menjadi lebih peka. Mungkin karena standar ‘peka’ setiap orang juga berbeda, jadinya kesan yang muncul di permukaan juga beda. Contoh: ada orang yang biasa hidup jorok. Lalu ditegurlah, apa ndak jijik liat yang kotor-kotor. Karena yang jorok tadi sudah terbiasa dengan jorok, ya dia beres-beres ‘seperlunya’ (menurut dia). Lalu ditegur lagi, beres-beres aja ndak bener. Bingunglah si jorok tadi… Apa lagi nih?

Atau… Apakah sebenarnya ‘rasa tidak suka’ yang mengaburkan semuanya ya? Kadang-kadang kita ndak sadar, membenci tanpa alasan (udah ndak usah sok-sok jadi baik hati. Pastilah pernah menyimpan rasa tidak suka terhadap orang lain. Kalo tetep ngeyel, well… Setidaknya anda akan tidak suka sama yang nulis ini). Karena udah ‘ndak suka’ dari awal, apapun yg dilakukan ya salah. Contohnya: ada orang yang memang suka guyon, tapi karena ‘ndak suka’, dibilang ‘ndak dewasa’. Ada orang yang hobi ngegame, karena ‘ndak suka’ maka dibilang ‘buang-buang waktu’. Ada orang yang hobi nggombal, karena ‘ndak suka’ dibilang ‘tebar pesona’ (digetok).

Lalu hubungannya sama alinea 1 apa sih? (Lama-lama jadi ngelantur emang). Hubungannya adalah hal-hal menyedihkan seperti itu, menurutku, ndak bisa diceritakan. Mungkin, aku sendiri yang terlalu pengecut untuk tau pendapat negatif orang terhadapku. Karena (aku sadar) aku banyak kekurangan yang terlihat, apalagi yang dilihat orang lain. Karena, bagaimanapun, posisi inferior menjadikan seseorang menjadi lebih ‘diam’ dan ‘menerima’. Mau protes? Malah tambah panjang lagi urusannya.

Penyelesaiannya juga ndak bisa dirembug. Karena pasti yang keluar adalah, “Coba kamu berubah.” Nah… Orang-orang ndak perlu tau seberapa sulit mengubah diri sendiri. Dan mengubah diri dalam usia yang sudah bangkotan ini tentu bukan hal mudah. Apalagi bobrok dan udah terlanjur ndak bener gini.

Terlalu banyak yang ada di pikiran. Kadang jadi ndak sehat juga. Kelihatan kan dari luar… Udah kaya orang sinting aja nih…

Oke. Sekian curcol pagi. Selamat berak-tivitas.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: