On That Black Plastic Bag

Kepulanganku hari ini seakan tak biasa. Bukan. Bukan karena ada yang tiba-tiba datang melamar. Tapi pesan singkat dari kamu, “Kebetulan kamu pulang. Aku juga. Bawa oleh-oleh.”

Aku tidak berdandan. Sengaja, ingin terkesan biasa saja. Meskipun sebenarnya debar jantungku terasa sampai ke bawah telinga. Dan tanganku berkeringat. Juga hidungku yang gatal menahan senyum.

Sungguh tak biasa. Aku tersenyum dan hampir terkekeh geli tanpa melihat timeline Twitter. Tapi karena mengingatmu saja.

Oh. Itu kamu. Buru-buru aku berdiri dari kursi, resah jika kamu tidak segera menemukanku. Dan aku sangat menyadari betapa repotnya diriku sendiri, merekam tiap detik saat kamu menghampiri meja ini.

Wajahmu merah, penuh senyum hingga memamerkan deretan gigi yang tidak beraturan, “Hai, aku telat lima menit ya? Maaf…”

“Oleh-olehnya mana?” Sial. Seharusnya aku tanya kabarmu dulu. Mungkin aku perlu self-toyor untuk saat-saat seperti ini. Kamu malah tergelak. Mengulurkan tangan dan kusambut dengan jabatan singkat, “Ini, lumpia Semarang.”

“Semarang? Ngapain? Sempet ketemu Echa?” Kamu menjawab singkat, “Iya.” Lalu kamu memesan espresso macchiato untukmu dan cappuccino untukku.

“Echa apa kabar? Sejak SMA aku jarang ketemu. Cuma smsan.” “Baik banget. Dia titip salam buatmu.” Sampai di sini, aku masih menata hati. Sungguh sulit memulai pembicaraan yang ringan dengan orang yang membuat hatimu berantakan. Setidaknya berantakan karena pikiran campur aduk sendiri.

“Owh. Salam balik. Ah biar nanti aku sms. Itu apa kresek item? Oleh-oleh juga?”, tanyaku. Syukurlah ada objek yang bisa dijadikan obrolan.

“Duh. Hampir lupa. Ini undangan nikahku sama Echa. Kamu harus datang ya…”

… … …

Entah berapa detik… atau menit… atau abad… jeda otakku ini mencerna informasi dari kamu. S-I-A-L.

Mungkin mulutku ternganga, suara runtuhnya jantungku dapat kamu dengar, atau malah ada suara cermin yang pecah tiba-tiba.

Echa… Ah tentu saja. Saat SMA, kami bertiga adalah tiga sekawan yang hampir selalu terlihat bersama. Terlambat jika sekarang baru aku sadar, mungkin sudah banyak waktu yang mereka lewatkan berdua saja.

“Wow. Selamat ya…” Kata-kata itu tercekat sampai situ saja. Bahkan aku tidak mampu lagi mengendalikan ekspresi wajah dan suara. “Harus datang! Dan kamu harus nyanyi di resepsi.” Sekalian tampar saja wajahku yang sudah seperti papan kayu ini.

Rasanya ingin cepat-cepat pergi. Tapi entah… yang terpikirkan hanya, “Pasti. Aku akan nyanyi lagu Pestamu Dukaku-nya Yulia Citra.”

Lalu kiamat.

Tak mungkin aku tak mungkin… aku kan hadir di pestamu. Tak sanggup aku tak sanggup… memberi doa restuku. 

Maafkan aku duhai sahabatku, aku tak dapat memenuhi undangan. Karena dia yang jadi teman hidupmu orang yang telah menghancurkan hidupku.

Demi kebahagiaanmu biar aku yang mengalah, asal engkau bahagia hidup bersamanya… ~

Sekian.

Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf jika ada kesamaan tempat dan karakter. Dan tidak ada Echa yg tersakiti dalam cerita FIKSI ini.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: